Saya memenuhi undangan pernikahan seorang teman kuliah pada akhir pekan lalu. Bila bukan karena desakan teman kuliah yang lain, mungkin akhir pekan saya akan dihabiskan dengan cara yang sama dengan pekan-pekan sebelumnya, leyeh-leyeh. Sekedar informasi, pernikahan bukanlah event favorit saya. Bukan karena bosan dengan pertanyaan yang lebih dekat ke ejekan ketimbang perhatian, “kapan menyusul?” Tidak, bukan karena itu.

Iya itu juga, tapi bukan itu alasan utamanya. Alasan utama saya malas menghadiri acara pernikahan di akhir tulisan ini akan saya ceritakan di akhir tulisan ini. Sabar.

Sekarang saya jadi lupa mau membicarakan apa di sini. Ugh.

*mengecek judul*

Ooh ya, tentang Ijab Kabul.

Pernikahan teman kuliah saya ini dilangsungkan di masjid Al-Markaz Al Islami cabang Kabupaten Maros (sekitar 35 km dari Al-Markaz Al Islami pusat di Kotamadya Makassar). Sebagai  pengunjung debutan, saya dibuat terpana oleh kaligrafi-kaligrafi menawan di masjid ini. Anak-anak komunitas hand lettering harus study tour ke sini, untuk menikah juga boleh. Serah.

Selain kaligrafi-kaligrafi di dinding masjid, tidak banyak hal yang bisa menahan rasa kantuk saya pada waktu itu. Saya merasa bosan, mungkin yang bisa mengalahkan rasa bosan yang saya alami hanya si fotografer yang sudah ratusan kali memotret hal sama. Tapi setidaknya dia dibayar dan bebas bergerak: tidak hanya duduk, diam dan mendengarkan. 

Saya hampir saja memutuskan untuk tidur dengan pose mengheningkan cipta.

Sampai saya mendengar ijab kabul diucapkan oleh Pak Penghulu dan mempelai pria.

“Saya nikahkan engkau Steven bin Gerrard dengan ananda Natalie binti Portman dengan mas kawin perhiasan emas 24 karat sebesar 12 gram, dibayar tunai karena Allah Ta’ala”

yang dijawab

“Saya terima nikahnya Natalie binti Portman dengan mas kawin perhiasan emas 24 karat sebesar 12 gram, dibayar tunai karena Allah Ta’ala”

Mendengar lafadz ijab kabul untuk pertama kalinya, saya tertegun, termangu, kemudian tersenyum. “Karena Allah Ta’ala”, serius, bro? Keraguan saya pada alasan ini lantas mendorong saya untuk membayangkan, sebuah semesta di mana manusia-manusianya 100% berterus-terang. Manusia tidak bisa mengatakan apapun selain kejujuran, sepahit apapun. Susah membayangkannya? Tak apa, saya juga hanya membayangkan film The Invention of Lying ketika membayangkan dunia seperti ini.

Bila manusia tidak memiliki kemampuan untuk berbohong. Tidak mampu mengatakan sesuatu yang tidak dia percayai dengan sungguh-sungguh, bahkan tidak mengenal konsep bohong. Kira-kira apa yang akan dikatakan mempelai pria ketika proses ijab kabul ya? Mari bermain-main.

Meski ini cuma main-main, kita tetap harus serius. Sebelumnya, kita harus memahami struktur redaksi ijab kabul sang mempelai pria.

“Saya terima nikahnya Natalie binti Portman dengan mas kawin perhiasan emas 24 karat  sebesar 12 gram dibayar tunai karena Allah Ta’ala”

(Saya terima nikahnya + nama mempelai perempuan binti nama ayahnya + mas kawin + keterangan mas kawin + metode pembayaran + alasan)

Dengan formula di atas, kita bisa melihat variabel-variabel, yang bila diubah, bisa membuat ijab kabul menjadi lebih jujur dan, mungkin, lebih menarik.

Di bawah ini hasil eksperimen saya dengan mengubah beberapa variabel bebasnya:

“Saya terima nikahnya Nicky binti Minaj dengan mas kawin seperangkat Uninterruptible Power Supply dengan kapasitas 600VA seharga 1 juta rupiah yang dibeli di toko Cahaya Elektronik, dibayar tunai, karena bokongnya yang tak tertandingi.”

*

“Saya terima nikahnya Andi Nanda Ria Novidia binti Zuckerberg dengan mas kawin batu akik yang bisa menyala bila terkena lampu senter, dibayar tunai, karena biar kekinian katanya. Iya, saya juga tidak setuju, tapi dia mengancam akan membatalkan pernikahan bila tidak diberi batu akik seperti itu sebagai mas kawin”

*

“Saya terima nikahnya, Andi Chairiza binti Bahrun dengan mas kawin uang sebesar 666 riyal, dibayar tunai, karena meski rajin sholat, band favorit saya adalah Lamb of God, dan pak Ustadz bilang itu tidak berdosa selama diimbangi dengan tadarusan minimal 1 juzz setiap hari”

*

“Saya terima nikahnya Rieski Kurniasari binti Kardashian dengan mas kawin seperangkat lingerie Victoria’s Secret, dibayar tunai, karena kami ingin tahu siapa gerangan Victoria ini dan apa rahasia-rahasianya”

*

“Saya terima nikahnya Chelsea Islan binti Mourinho dengan mas kawin kontrak main sinetron 100 episode, yang dibayar … eh, ini bagaimana cara bayarnya, Pak Penghulu?

“ooh, iya. siip”

“maaf akan saya ulangi”

“Saya terima nikahnya Chelsea Islan binti Mourinho dengan mas kawin kontrak main sinetron 100 episode, yang dibayar secara berkala, tergantung kesigapan orang bagian finance memproses invoice; karena sudah telat 3 bulan… dari deadline yang ditentukan oleh Bapak Raam Punjabi.”

*

“Saya terima nikahnya Acha Septriasa binti Zakaria dengan mas kawin perhiasan emas 24 karat sebesar 10 gram, dibayar tunai; karena meski tidak kelihatan –karena tertutupi dengan gaun 12 lapis– dia sudah tidak mengalami menstruasi selama 3 purnama.”

*

“Saya terima nikahnya Dian Paramita binti Sastrowardoyo dengan mas kawin 100 hektar  tanah di area Antang, yang dibayar tunai, karena saya kan sudah bilang ‘kutunggu jandamu.'”

*

“Saya terima nikahnya Mutia Nuur Ilmi binti Martin dengan mas kawin seperangkat alat fitness yang dibayar tunai, karena saya tidak mau dia jadi gemuk setelah melahirkan anak ke-lima kami nanti”

*

“Saya terima nikahnya Aisyah Azalya binti Sagmeister dengan mas kawin seperangkat alat masak, yang dibeli di toko Alaska, dibayar pakai kartu kredit, karena siapa yang tidak jatuh cinta pada perempuan ayu yang jago masak?

*

“Saya terima nikahnya Andi Besse Wulandari binti Biutiful dengan mas kawin seperangkat alat sholat, dibayar tunai, karena masa cuma untuk membeli alat sholat harus ngutang?”

*

“Saya terima nikahnya Viny binti Mamonto dengan mas kawin-yang-saya-sendiri-tidak-tahu-apa-karena-dia-yang-beli, dibayar tunai-karena-uangnya-dia-yang-pegang-sendiri, karena desakan mama saya yang nampaknya sudah mulai khawatir akan orientasi seksual anaknya.

*

Kalau gaes-gaes punya contoh redaksi ijab kabul lainnya, bisa disampaikan lewat kolom komentar di bawah, atau langsung sampaikan saja bila ada sumur di ladang. Omong-omong, buat teman kuliah saya yang baru saja menikah, semoga menjadi keluarga samawa wak waw.

Cheers.


catatan:

Alasan utama saya malas ke acara pernikahan adalah karena semua perempuan berdandan dengan sangat menor. Ini bahkan jauh sebelum “teknologi” sulam alis ditemukan. Ugh. Why?

Image credit: Mataram.heck.in


 

Baca tulisan lainnya dari Barzak

3 Buku Yang Perlu Dibaca oleh Desainer Gratis

Tentang Samsul: Si Galau tapi Seksi The Seventh

Makassar (Mungkin) Perlu Belajar dari Khayelitsha

Sepakbola dan Schadenfraude

“Bila Helvetica adalah Perempuan, Dia yang Tercantik di Dunia”

Menyimak Kisah Tumor-Tumor dan Jenny Ketiga

Jokowi Bukan Nabi