Illustrasi: Cautsar Kahvy (@cautsar.kahvy)

Akui saja, kamu pasti sudah bosan membaca artikel berbentuk wawancara di webzine ini, bukan? Apalagi yang berkaitan dengan Musik Hutan 2015. Sejak Mei lalu, kami sudah mewawancarai 6 band dan 1 penyair, yang semuanya (((disuguhkan))) untuk kamu, pembaca Revius yang kece, dalam bentuk artikel Q & A. Formulanya seperti ini, Revius bertanya, Narasumber menjawab. Sangat membosankan. Supaya terhindar dari rasa jenuh, hasil wawancara dengan FirstMoon pada hari jumat lalu (16/7), akan (((disajikan))) dalam bentuk seperti di bawah ini

  1. FirstMoon terdiri dari 4 karyawan. Karyawan di sini bermakna ganda: secara konvensional (KBBI: orang yang bekerja pada suatu lembaga), maupun non-konvensional (bukan KBBI: orang yang berkarya, menghasilkan karya). Fadli bekerja sebagai gitaris merangkap biduan. Ical sebagai pembetot bass. Armando sebagai gitaris juga, dan Kikoy sebagai penggebuk drum. FYI, Fadli, Ical, Armando dan Kikoy ini adalah nama panggilan. Maaf saya lupa menanyakan nama lengkapnya. Nanti saya tanyakan, atau boleh tanya sendiri di @_firstmoon.
  2. Band ini lahir di bulan Januari 2007. Menurut Kalender Masehi, Januari adalah bulan pertama, hence the name. Buat yang pernah les bahasa Inggris mungkin bertanya-tanya “kenapa tidak diberi nama FirstMonth? Jawabannya: selain cenderung lebih puitis, bulan dalam artian moon juga lebih dekat dengan malam hari, waktu-waktu nongkrong mereka.
  3. Fadli, Ical, Armando, dan Kikoy membentuk FirstMoon karena merasa bosan. Sebelum Januari 2007, mereka mengaku sudah aktif bermusik, hanya saja masih membawakan lagu orang lain. Inilah yang membuat mereka bosan. Setelah berhasil mengumpulkan kepercayaan diri, mereka pun memutuskan untuk membuat dan memainkan karya sendiri. Single pertama dan kedua mereka berjudul Dunia Pagi dan Tenggelam yang bisa didengar di sini.
  4. FirstMoon sempat hiatus selama 6 tahun. Tepatnya sejak tahun 2008 sampai 2014. Dilatari “kepergian” sang vokalis dan gitaris, Fadli, yang merantau di pulau Kalimantan untuk menjadi karyawan (versi Kamus Besar Bahasa Indonesia). Pada beberapa kesempatan, mereka hiatus dari hiatusnya sendiri. Tahun 2013, mereka sempat meramaikan event MovieCoustic. dan mengisi soundtrack film remaja garapan Meditatif Film, Rindu Randa. Tahun 2014, Fadli “pulang kampung”, dan masa hiatus FirstMoon pun berakhir.
  5. Mereka menganalogikan bermain musik sebagai proses belajar dan album sebagai ijazahnya. Setelah belajar selama 6 tahun (meski sering sakit, izin, dan membolos), mereka mengaku sudah sangat gatal ingin meraih ijazah. Saat ini mereka sedang persiapan Ujian Nasional (mastering), yaitu dengan ikut bimbingan belajar intensif (bikin materi baru dan latihan di studio), latihan menjawab-jawab soal (rekaman), dan sesekali menggoda teman sekelas yang imut-imut (sorry I got nothing for this). Rencananya, ijazah akan sudah di dalam genggaman mereka pada akhir tahun ini. Mari kita doakan semoga mereka terus sehat dan tidak sering bolos lagi.
  6. Kata “Karyawan” masih bermakna ganda buat mereka, karena bagi mereka menjadi full-time musician masih susah. “Kondisi Ini tidak hanya terjadi di Makassar. Di kota-kota yang industri musiknya sudah mapan pun, masih banyak musisi yang terpaksa menjadi karyawan kantoran. Kalau mau hidup dengan bermusik saja, pasti sudah banyak musisi yang kena busung lapar” Kata Fadli yang kemudian mengisahkan tentang percakapannya dengan seseorang. (karena kami punya teman bernama Mawar, seseorang itu kita sebut saja “orang”).

Orang    : Fadli, ada acaraku bro, FirstMoon main ya

Fadli      : Boleh.

Orang    : Tigrat (Tiga ratus. Red) nah.

Fadli      : Mmm…

Orang    : Gimana? Deal?

Fadli      : Iyo pade.

“Sampai di sana, biar Aqua nda ada. Terus habis main, kita diberi tahu kalau fee-nya pending. [Kalau hidup cuma dari main musik] kurus, bro!” kisahnya sambil tertawa. Sebagai perbandingan, kami baru saja mengecek harga di toko sebelah, dan ternyata harga 1 senar gitar (bukan yang merek Pyramid) adalah 200 ribu rupiah. 

Tentang fee manggung, Ichal menjelaskan “Kita sebenarnya, tidak menomorsatukan ji itu fee manggung. Toh kami realistis ji, makanya tetap kerja (kantoran) juga untuk bisa hidup. Tapi setidaknya penyelenggara event bisa lebih fair, lebih terbuka di pembicaraan awal. Kita pernah main di sebuah event tanpa bayaran. Awalnya kita nda masalah ji, karena kesepakatan awalnya memang begitu. Penyelenggara ngaku kalau mereka tidak punya budget untuk bayar band-band yang main, kami ngerti, dan setuju. Tapi belakangan, di hari H, kita lihat kalau banyak ji sponsornya. Di situ kita mulai curiga, dan terbukti, karena kita dapat informasi dari band lain–yang kebetulan main di event itu juga–kalau mereka terima fee manggung. Waktu mereka nanya ke kita ‘nda dibayar ko kah?’ kita sudah nda tau mau jawab apa.”

  1. Mereka mengagumi banyak sekali band asal Makassar. Alasannya beragam: musikalitas maupun kharisma dan pola pikir personilnya. “Saya suka pola pikir mereka, dan itu juga yang banyak bentuk pola pikirku” Kata Fadli. Ketika saya minta untuk menuliskan band-band tersebut, mereka membuat daftar seperti ini:
  • One Pocket Smiling Grass (OPSG)
  • The Hotdogs
  • Theory of Discoustic
  • Bloody Mary
  • Melismatis
  • Al-Gore Corporation
  • Terts
  • Myxomata
  • All Confidence Out (ACO)
  • Harakiri

Tentang kolaborasi, mereka mau tahu bagaimana jadinya kalau FirstMoon dan Myxomata main bareng, entah di panggung maupun di studio rekaman. Menurut mereka, ide mengajak Fami Redwan untuk menjadi “vokalis tamu” FirstMoon juga bukan ide buruk.

  1. Selain di FirstMoon, Mereka juga karyawan di band lain. Fadli adalah bassist di Theory of Discoustic, Armando tergabung di TERTS, dan Ichal main di All Confidence Out (ACO). Ketika saya tanyakan tentang main project dan side project, mereka kompak menyebut First Moon sebagai band utama.

“FirstMoon, saya mau bangun ini band. Mau cepat mau lambat, pokoknya maju terus, jalan terus.” –Armando.

“Saya main di All Confidence Out bisa dibilang sekadar bantu-bantu teman. Biarpun FirstMoon jarang main, malah sempat vakum, tapi kalau ditanya band utama, jawabanku pasti FirstMoon. Buatku First Moon sudah bukan band lagi, sudah jadi keluarga mi”–Ichal

“Mirip ji sama Ichal, saya di TOD juga karena bantu teman, bantu Echa. Fokus utama tetap di FirstMoon” –Fadli.

  1. Bagi mereka, masih ada diskriminasi antara band asal Makassar dan band luar yang main di Makassar. Mereka berpendapat kalau perlakuan yang diterima sangat berbeda. Mulai dari ruang tunggu yang sejuk seperti di mall-mall buat band dari kota lain, dengan ruang tunggu yang pengap berasa kereta api kelas ekonomi buat band asal Makassar.
  2. Mereka tahu kalau di Musik Hutan tidak ada diskriminasi seperti itu. Siapapun yang hadir di Musik Hutan tahun lalu tentu tahu bagaimana panitia memperlakukan setiap orang di lokasi event. Semua yang tampil adalah bintang, semua penonton adalah tamu, dan semua orang diperlakukan istimewa. Kedengarannya mungkin berlebihan, tapi Fadli, Ichal, Kikoy, Armando percaya bahwa di Musik Hutan tahun berapapun, diskriminasi yang disebutkan sebelumnya tidak akan terjadi. 

INFO terkait reservasi, daftar penampil, atau pemesanan merchandise Musik Hutan 2015, bisa anda temukan di  @musikhutan atau Facebook fanpage “Musik Hutan” dan musikhutan.com


Musik Hutan official Account


Baca seri wawancara lainnya dengan penampil Musik Hutan 2015

Galarasta: “Musik Hutan adalah Ajang Temu dan Berbagi para Musisi”

Didit Palisuri: “Dengan Musik Hutan, Kita Bisa Sejenak Beristirahat dari Hiruk Pikuk Kota”

Speed Instinct: “Hutan adalah Nyawa untuk Kehidupan Manusia”

The Joeys: Ubah Pola Pikir, Jangan Buang Sampah Sembarangan!

Theory of Discoustic: “Musik Hutan adalah Salah Satu Perhelatan Musik yang Paling Serius Digodok”

Ska With Klasik: Sadar Lingkungan Mulai dari Diri Sendiri

Hollywood Nobody: Musik & Hutan are The Best Gifts