“New is always better!”— Barney Stinson.

Barney Stinson bukan penulis, bukan juga filsuf, apalagi Kepala Dinas Kebersihan Kota Makassar. Dia salah satu karakter fiktif di serial teve Amerika, How I Met Your Mother. Kalau penasaran, googling saja, saya mau menulis tentang Musik Hutan 2016, bukan tentang Barney Stinson.

(22 pembaca di tempat lain membuka tab baru, mengetikkan Barney Stinson di Google, dan melupakan tab ini untuk selamanya. #kray)

“New is always better!” mewakili ekspektasi saya terhadap Musik Hutan 2016. Saya, setelah tidak pernah absen selama 2 tahun berturut-turut, ingin edisi ketiga jauuuuuhhh lebih bagus. Dan, sejauh ini, berdasarkan hasil pengamatan saya di akun media sosial Musik Hutan, ditambah hasil obrolan dengan Yari Haediwan (@yarihaediwan), harapan saya tampaknya masih berada di jalur yang tepat.

Saya akan membagi obrolan saya dengan Yari—yang belum pernah jadi karakter fiktif di serial manapun. Tapi, nanti. Saya mau curhat dulu.

(Semua pembaca lain kompak melakukan gerakan eyes rolling. Kecuali kamu. Karena kamu baik hati.)

(Pembaca laki-laki, 95% dari semua pembaca tulisan ini, mulai merasakan ada hal yang aneh sedang terjadi. Entah apa.)

 

Musik Hutan, bagi yang belum tahu, adalah ajang liburan musik kebanggaan anak muda Makassar. Termasuk saya. IYA, SAYA MASIH MUDA!

FYI, saya tidak suka liburan. Saya percaya liburan semata perkara state of mind. Liburan, bagi saya, adalah kondisi ketika kita bisa sejenak melupakan kepenatan di dunia fana ini: cicilan di Adira Finance, utang kartu kredit, pembayaran arisan keluarga setiap tanggal 25, dan urusan-urusan lain yang membuat kita tiba-tiba membaca artikel mengenai cara bunuh diri yang tidak terlalu menyedihkan.

Demi melupakan semua persoalan duniawi yang melelahkan luar-dalam, saya tidak butuh pergi ke Bali atau Raja Ampat atau berfoto sambil memonyongkan bibir di depan Patung Singa yang Kencing Menggunakan Mulutnya. Saya cuma butuh tidur siang. Efektif. Efisien. Tetap yang terbaik.

Hal paling menyenangkan dari berlibur-hanya-dengan-tidur-siang: saya bisa melakukan liburanception. Liburan dalam liburan. Saya bisa tidur siang (liburan versi saya) sambil liburan versi konstruksi sosial (keren kan istilah guwe?).

Musik Hutan, selama 2 tahun, sudah menjadi ajang liburanception bagi saya. Semoga bisa terus berlangsung hingga saya punya anak, cucu, dan istri ketiga. Amin.

(15 pembaca perempuan yang anti-poligami, jika tidak cukup bisa menghargai usaha saya melucu, you know what to do.)

Kamu yang masih ada di sini pasti penasaran, liburan seperti apa yang bisa dinikmati di Musik Hutan? Saya, karena menyayangi kamu, sejak seminggu yang lalu, sudah mempersiapkan daftar berikut sebagai jawaban.

Liburan sambil menonton penampilan musik.

Ini namanya Stating the Obvious—

atau

Semua orang juga tahu, Bro. Namanya Musik Hutan, pastilah ada acara musik. Tidak adaji orang berharap ada acara pelantikan Kepala Sekolah di Desa Bissoloro nanti, Bro. Yaampun. Stresku liatko, Bro. Gara-gara kau ini saya ingat lagi acara pelantikan Kepala Sekolah yang di TPA itu. Arrgh!

Liburan di hutan.

Ini namanya Stating the Obvious II—

atau

Masa Musik Hutan dibikin di Pantai Losari? Ih, malasku! Beda acara lagi itu, Bro.

Liburan rame-rame.

Kalau ini namanya Promosi—

atau

Supaya lebih rame, ambilki paket tenda, bisa buat 4 orang, dapat gratis merchandise pula. Paket tenda standar harganya 1 jeti, paket tenda VIP harganya 1,5 jeti. Paket tenda VIP lebih mahal karena dilengkapi dengan fitur terbaru: alas yang terbuat dari papan. Tidur nda bakal terganggu sama akar pohon yang entah kenapa kerap muncul di permukaan tanah seperti urat-urat binaragawan raksasa sedang bertanding. Tetapi, jangan lebay berharap ada kasur spring bed yang empuk. Ini Musik Hutan, bukan acara malam pertama.

1 juta untuk 4 orang. Sudah sepaket sama merchandise!

1 juta untuk 4 orang. Sudah sepaket dengan merchandise!

Liburan dengan tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit.

Kalau ini namanya Promosi #2—

atau

Paket Festival, harga tiketnya 200 ribu/orang. Kalau mau pake tenda, bawa tenda sendiri, bawa sleeping bag sendiri. Tenang, makannya nda sendiri. Banyakji orang di sana. Jangan maki galau begitu.

Liburan dengan tidur di bawah langit tanpa menyentuh tanah serasa melayang.

Ini bukan sulap, bukan sihir, bukan pula penipuan. Ini Promosi #3—

atau

Paket Hammock. Harganya 650 ribu, yang sebenarnya adalah harga beli 1 Hammock Odyssey XL/XXL (dijamin bukan KW). Sesudah Musik Hutan 2016, sila bawa pulang Hammock Odyssey XL/XXL (dijamin bukan KW, siapa tahu kamu belum yakin), untuk kamu pasang terserah di mana. Urus maki sendiri.

Nonton Musik Hutan, bawa pulang hammock!

Nonton Musik Hutan, bawa pulang hammock!

Liburan di hutan sambil minum kopi enak.

Ini pesan-pesan sponsor dari eZpresso Koffie—

atau

Biasanya, kalau camping, kita cuma minum Instancino. Tapi, 2-4 September, eZpresso Koffie yang di Jalan Sultan Hasanuddin No. 93 itu bakal tutup dan pindah ke Desa Bissoloro untuk memenuhi kebutuhan kafein kita. Keren tauwwa!

Liburan sambil mencari Penulis.

Ini namanya Swa-promosi Revius Webzine—

atau

Sila kirim tulisan kamu ke talktous@revi.us minimal 500 kata. Temanya bebas. Gunakan bahasa yang sederhana, tidak mengandalkan istilah-istilah yang memaksa pembaca membuka kamus, bergaya personal, jujur, dan (kalau bisa) lucu.

Liburan sambil mencari calon The Awesomer.

Ini penjelasan tentang salah satu rubrik di Revius Webzine yang kami sebut The Awesomer

atau

Rubrik ini berisi kisah-kisah atau wawancara dengan orang-orang yang kami anggap awesome: memiliki karya yang patut diapresiasi, semangat yang tidak pernah habis, dan pemahaman mendalam tentang apa yang mereka lakukan.

Liburan sambil menghindari denda (karena ‘liburan sambil menjaga kebersihan lingkungan’ terdengar membosankan).

Ini sebetulnya Peringatan—

atau

Sejorok apa pun kamu di kota, secuek apa pun kamu soal sampah, di lokasi Musik Hutan nanti semua orang wajib menjaga kebersihan lingkungan. Jangan coba-coba buang sampah sembarang kalau tidak mau didenda 50 ribu.  Menyalakan api unggun juga tidak boleh. Dendanya? 500 ribu. Kamu juga bisa didenda 3 juta atau diterungku, jika merusak pohon.

Liburan sambil nge-jamming, atau stand up comedy, atau menari ganrang bulo.

Ini usaha mencari teman jamming untuk tampil—

atau

Berbeda dengan sebelumnya, Musik Hutan tahun ini menyediakan 2 panggung. Salah satunya bisa dimanfaatkan warga Musik Hutan, siapa saja, yang mau unjuk kebolehan. Boleh jamming musik, boleh melawak sambil bergelantungan, atau menari. Bebas. Terserah. Asalkan tidak membuang sampah sembarang, menyalakan api unggun, dan merusak pohon.

Cukup? Hah? 10 belum cukup katamu? Dasar serakah!

(985 pembaca yang belum puas, mencari informasi tentang Musik Hutan di toko sebelah: Opium Makassar.)

Biarkan saja mereka pergi. Buat kamu, iya, kamu yang masih di sini, sekarang saya mau memenuhi janji untuk berbagi hasil obrolan saya dengan Paketuapanitia, Yari Haediwan.

“Selama persiapan Musik Hutan 2016, hal yang paling saya suka di lokasi,” kata cowok tampan itu dengan mata berbinar-binar, seperti orang yang sedang jatuh cinta atau sedang membayangkan Pallubasa Serigala, “adalah pemandangan matahari terbit dan terbenamnya yang indah. Indah sekali.”

Sekian.

(Semua pembaca yang tersisa sejauh ini, kamu dan dia, kemudian mencari informasi lebih lanjut tentang cara memesan tiket, langsung membelinya setelah mengunjungi musikhutan.com—juga mengikuti akun Twitter @MusikHutan dan facebook page Musik Hutan.)