Ilustrasi: Herman Pawellangi (@chimankardus)

Mendengarkan musik tidak pernah sama lagi rasanya ketika musik rock alternatif memuncaki selera musik saya ketika masih di bangku sekolah menengah pertama. Melahap ragam musik ini menjadi kegemaran yang tak pernah terpuaskan sampai sekarang.  Ada kepuasan batin tersendiri yang mungkin orang lain tidak miliki ketika mendengar gitar meraung-raung dan tak perlu memiliki teknik rumit untuk dimainkan.

Kepuasan itu semua berawal ketika seorang kakak sepupu mengajak saya untuk mendengarkan sebuah rekaman kaset pita dengan sampul sebuah bayi yang sedang menyelam di penghujung usia sekolah dasar. Pada mulanya saya tidak terlalu peduli dengan ajakannya, karena masih menjadi penggemar bola akut yang tidak paham tentang musik rock. Namun saat mendengar intro pertama yang dibuka gitar crunch downstroke yang selanjutnya dihajar tanpa ampun oleh drum yang menggebu-gebu, sontak saja pandangan saya tentang musik rock berubah menjadi 180 derajat. Gejolak kawula muda telah tiba!

Saya yang dulunya sangat membenci musik rock alternatif, malah berakhir dengan “kutukan” menjadi penggemar musik rock yang satu ini. Mulailah saya penasaran mencari ragam musik rock alternatif yang merupakan salah satu ragam musik rock yang muncul dari bawah tanah musik independen dari tahun 1980-an dan menjadi sangat populer pada tahun 1990-an. Beberapa ragam turunan rock alternatif seperti industrial, jangle pop, noise pop, indie pop, Madchester dan shoegazing pun wara-wiri di telinga yang selalu ingin mendengarkan lagi dan lagi.

Kekaguman mendengarkan musik rock alternatif tidak sampai di situ saja, tetapi sampai pada keinginan bisa memainkan beberapa lagunya dengan gitar atau alat instrumen lainnya. Namun keinginan tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Orang tua belum merestui seorang anak berumur duabelasan tahun belajar instrumen musik. Walhasil hanya diizinkan mengoleksi kaset rekaman pita yang masih tersimpan baik sampai sekarang.

Beberapa kaset koleksi rock alternatif saya yang berbaur dengan ragam musik lainnya. ( Foto : Achmad Nirwan

Beberapa kaset koleksi rock alternatif saya yang berbaur dengan ragam musik lainnya.  Coba temukan beberapa album rock alternatif favoritmu di sini. ( Foto: Achmad Nirwan )

Menyegarkan kembali ingatan tentang rock alternatif memang selalu menyenangkan. Ragam musik rock alternatif yang begitu banyak menghadirkan beberapa musisi luar negeri yang saya rasa pantas disematkan sebagai pahlawan yang mampu membuat industri musik tidak monoton lagi di era 90-an, sekaligus menginspirasi musisi lainnya untuk melakukan hal yang sama dalam menghasilkan karyanya.

1. Kurt Cobain

1035x697-20140402-kurt-x1800-1396463734

Kurt Cobain yang terdengar sangat kharismatik dalam menyanyikan lirik lagu sambil menyayat gitar bersama cabikan bass Krist Novoselic dan gebukan drum gila a la Dave Grohl, langsung dengan cepat hinggap di ingatan kepala. Lagu Smells Like Teen Spirit yang dibawakan Nirvana itu betul-betul menjadi tonggak buat saya makin sering menyimak ragam musik rock alternatif. Kemampuannya menulis lagu yang aneh dan melodius secara bersamaan, membuatnya masih sulit dicari penggantinya sampai saat ini walau dia telah tiada 20 tahun yang lalu.

Kurt masih menjadi teladan bagi para musisi yang menyimaknya hingga saat ini. Karyanya bersama Nirvana telah memberikan bukti bahwa kekuatan sebuah karya, tidak bakal termakan oleh zaman.

2. Thurston Moore

140115-thurston-moore-twilight-break-up

Frank Black dari Pixies dan J. Mascis dari Dinosaur Jr.  memang termasuk musisi indie rock yang saya kagumi, namun Thurston Moore punya pesona tersendiri. Derau gitar tanpa batas dipertontonkan oleh Sonic Youth yang dimotorinya dengan Kim Gordon dan Lee Ranaldo memang selalu terlihat aneh bagi orang awam. Namun pada beberapa orang termasuk saya, itulah ciri khas dari penampilan mereka yang menjadi pedoman bagi para musisi indie rock generasi selanjutnya. Coba saja dengar beberapa lagu dari The Pains of Being Pure at Heart, Cage The Elephant atau pun dari Indonesia seperti Barefood atau Seaside., pasti bakal terselip benang merah dari beberapa riff gitar Sonic Youth di sana.

3. Noel Gallagher

NOEL-2

Saya lebih memilih salah satu Gallagher dalam Oasis ini karena kemampuan bernyanyi dan bermain instrumen yang lebih asyik didengarkan.  Terbukti setelah dia hengkang dari Oasis dan membentuk Noel Gallagher’s High Flying Birds, saya makin yakin hanya dia yang memegang formula ampuh menciptakan seluruh lagu Oasis dibandingkan Liam. Selain memang handal menciptakan lagu, perilaku yang lebih adem dibanding tingkah laku bengal Liam, membuat saya angkat topi terhadap salah satu pahlawan bermusik saya ini.

4. Tom Morello

Rock Out! At The Ford Theatre

Entah apa yang ada di pikiran Tom Morello bisa menghadirkan begitu banyak bebunyian aneh dari perangkat efek dan gitarnya yang tidak lazim bersama Rage Against The Machine dan Audioslave. Teknik gitar dengan ciri khas riff-riff Black Sabbath yang berat malah dipadukan dengan kocokan gitar funk yang malah terdengar lebih garang. Terbukti ramuan musik Tom langsung klop dengan lirik-lirik sosial yang dinyanyikan oleh Zack de La Rocha, menghantarkan Rage Against The Machine sebagai band yang berbahaya bagi telinga para penguasa.

5. Robert Smith

Cure276

Apalah arti The Cure tanpa Robert Smith. Ikon band yang satu ini merupakan frontman yang tak tergantikan karena suaranya yang khas dalam setiap lagu-lagu The Cure. Beberapa musisi pun menganggap hanya Robert Smith yang merupakan pionir dari gothic indie rock karena penampilannya.  Saya pun penasaran mengulik The Cure setelah mendengarkan “Boys Don’t Cry” dan menemukan sebuah paradoks yang unik antara musik The Cure yang cenderung ceria dengan penampilan dari Robert Smith.

6. Trent Reznor

TRENT-REZNOR_510x317

 

Trent Reznor adalah musisi paling tidak demokratis dalam bandnya, alias menjadi diktator yang tidak ingin digeser siapapun. Wajar saja, dia yang mendirikan Nine Inch Nails dan berhak menggeser sejumlah musisi yang pernah bergabung dengan Nine Inch Nails. Terlepas dari sikap sewenang-wenangnya itu, Trent berhasil menemukan formula musik metal baru yang lebih gelap dan sound lebih modern yang memadukan techno.

Saya yang pada awalnya tidak terlalu respek dengan musik yang diusung Trent Reznor ini, mulai membuka pandangan baru perlahan-lahan tentang kemampuan industrial mampu bertahan lama dalam membuat karya yang tidak sama dengan subgenre rock alternatif lainnya karena tetap sukses merambah di dekade milenium ini.

7. Eddie Vedder

0000003721

Pearl Jam tidak bakal menjadi legenda musik rock alternatif jikalau tidak bertemu dengan Eddie Vedder. Eddie yang awalnya merupakan peselancar, mengirimkan rekaman suaranya ke gitaris Stone Gossard dan Michael McCready saat mereka melakukan audisi untuk band proyek mereka berikutnya setelah Andrew Wood, vokalis Mother Love Bone meninggal karena overdosis. Eddie pernah menuliskan lagu tentang ayahnya dalam “Release” di album Ten, yang mampu membuat saya  menitikkan air mata jikalau suatu waktu harus berpisah dengan ayahanda tercinta.

8. Damon Albarn

Damon-Albarn-007

 

Damon Albarn tidak boleh dipinggirkan dari salah satu pahlawan rock alternatif era 90-an. Bersama Blur, dia telah meletakkan cetak biru bagi band-band british rock dan british pop generasi berikutnya. Kenekatan selanjutnya yang dilakukan Damon adalah membentuk Gorillaz yang notabene berseberangan arah musik dengan Blur. Damon banyak memberi pandangan musik yang unik kepada saya secara tidak langsung setelah menyimak Gorillaz, bagimana mengolah musik untuk berbagai band dan tetap konsisten dengan karakter bermusiknya.

9. Johnny Marr

JohnnyMarr-8818-2013

Bunyi gitar berlapis-lapis di lagu “How Soon Is Now”yang awalnya masih terdengar seperti mesin menurut saya, ternyata itu sebuah tekstur gitar delay yang diciptakan Johnny Marr saat saya mengetahui beberapa teknik bermainnya.  Bersama dengan The Smiths, dia termasuk peletak cara bermain gitar ala musisi dari negara Ratu Elizabeth itu. Dengan usia yang tidak muda lagi, Johnny tetap menggebrak dunia musik rock alternatif dengan merilis album “Playland” pada tahun ini. Karena rock tidak membuat kamu termakan usia, maka dengarkanlah musik rock.

10. Dave Grohl

Pinkpop Festival 2011 - Day 3

Alumnus Nirvana ini merupakan salah satu musisi yang berhasil keluar dari bayang-bayang kesuksesan band sebelumnya. Bersama Foo Fighters yang pada awalnya merupakan proyek solo, Dave Grohl membangunnya menjadi supergrup rock alternatif yang tak terbantahkan di awal milenium ini.

Track pembuka “This Is A Call” di album Foo Fighters, menjadi impresi awal saya bagaimana Dave Grohl menghajar tanpa ampun kedua telinga ini dengan vokalnya yang jantan dan pantang menyerah. Dengan album kedelapan Foo Fighters yang dirilis hari ini, entah ide “gila” apalagi yang bakal dihadirkan Dave Grohl dari dalam benak kreatifnya.

 

Mereka adalah pahlawan  musik rock alternatif yang menyelamatkan saya agar tetap percaya diri menjalani hidup. Tanpa mereka, mungkin saja saya berpikir dua kali untuk bergabung dalam sebuah band seperti sekarang. []

P.S.  Silahkan menambah beberapa musisi yang menurut Anda juga pantas masuk sebagai pahlawan musik rock alternatif di kolom komentar di bawah ini.