Kampanye Earth Hour merupakan aksi serentak individu, komunitas, korporasi, dan pemerintah di seluruh dunia dalam usaha mengurangi laju pemanasan global dan dampak perubahan iklim.  Earth Hour menjadi kampanye lingkungan hidup terbesar dalam sejarah karena tahun 2012 berhasil meraih 2 milyar pendukung dari 7.001 kota di 152 negara.

Di tahun kelima penyelenggaraannya di Indonesia, WWF Indonesia mengajak publik untuk tetap berpartisipasi mematikan lampu dan peralatan listrik yang tidak sedang dipakai selama 1 jam pada hari Sabtu, 23 Maret 2014, jam 20.30–21.30 (waktu setempat). Earth Hour hanya permulaan yang menunjukkan aksi ramah lingkungan dapat dimulai dari sesuatu hal yang mudah, murah, dan bisa dilakukan oleh siapa saja segala usia.

Tahun 2009, Earth Hour Indonesia dimulai di Jakarta. Namun berkat intensitas kampanye di ruang publik dan jejaring media sosial, ditambah semangat “Ini Aksiku! Mana Aksimu?” – inisiatif I Will If You Will versi tanah air. Earth Hour mengalami peningkatan revolusioner hingga mampu memobilisasi banyak kota di Indonesia untuk berpartisipasi dalam aksi perubahan gaya hidup.

Tahun ini Earth Hour diikuti oleh lebih dari 30 lebih kota di seluruh Indonesia. Di kota Makassar sendiri, Earth Hour mulai dilaksanakan pada tahun 2011 dan secara resmi bergabung dengan Earth Hour Indonesia pada tahun 2012. Dengan mengangkat semangat “Ini Aksiku! Mana Aksita’?” – inisiatif Ini Aksiku! Mana Aksimu? dalam kearifan lokal Earth Hour Makassar menggandeng Gubernur Sulawesi Selatan Bapak Syahrul Yasin Limpo menjadi duta Earth Hour Makassar pada tahun 2012 dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Bapak Agus Arifin Nu’mang sebagai duta Earth Hour Makassar di tahun 2013.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kota Makassar tetap meneruskan komitmennya memadamkan lampu di :

  1. Lapangan Karebosi Makassar (venue utama)
  2. Gedung perkantoran di sepanjang Jalan Achmad Yani, Jalan Jendral Sudirman, Jalan R.A Kartini, Jalan Kajaolalido, dan Jalan Penghibur.
  3. Lampu jalan Jalan Achmad Yani, Jalan Jendral Sudirman, Jalan Kajaolalido, dan Jalan Penghibur.
  4. Seluruh hotel anggota Perhimpunan Hotel dan Restoran se-Indonesia Kota Makassar.
  5. Trans Studio Mall dan Mall Ratu Indah.
  6. Anjungan bahari Pantai Losari, Anjungan Bugis Makassar, Anjungan Toraja Mandar, dan Masjid Amirul Mukminin.
  7. Balai Kota Makassar dan rumah jabatan Walikota Makassar.
  8. Megatron dan reklame PT. Duta Niaga Jumantara.
  9. Menara Pinisi UNM.
  10. Wisma Kalla.

Selain itu, pemerintah kota Makassar juga telah mengeluarkan surat himbauan kepada para pemilik atau pengelola gedung-gedung di sepanjang Jalan Achmad Yani, Jalan Jendral Sudirman, Jalan R.A Kartini, Jalan Kajaolalido, dan Jalan Penghibur untuk berpartisipasi dan menjadikan Earth Hour sebagai kebijakan yang berpihak pada efesiensi energi.

Sejumlah mitra korporasi Earth Hour Makassar, yaitu PT. Tosan Permai Lestari, PT. PLN Persero Sulselbar, PT. Excel Mitra Abadi Utama, PT. Duta Niaga Jumantara, PT. Amerta Indah Otsuka, Swissbel-Inn Panakukkang, dan Perhimpunan Hotel dan Restoran se-Indonesia Kota Makassar telah menyatakan komitmennya terhadap Earth Hour dan akan memadamkan gedung, pabrik, papan reklame, dan secara sukarela mengajak rekanan, staf, konsumen, dan masyarakat dalam jejaring kelompok mitra korporasi tersebut untuk juga berpartisipasi di Earth Hour Makassar 2014.

Dalam perkembangannya, sudah banyak aksi dilakukan sebagai tindak lanjut Earth Hour Makassar, seperti aksi kontinyu #PiknikHijau dan #Pete2Day, Sekolah Earth Hour Champion, dan Kampung Hijau dalam Makassar Creative City Movement.

ADE_1290

Muhammad Nur Assydyq selaku Koordinator Kota Earth Hour Makassar mengatakan,”Besar harapan kami, Earth Hour bisa menjadi momentum yang tepat untuk pemerintah, korporasi, komunitas, dan masyarakat Kota Makassar untuk memulai gaya hidup ramah lingkungan. Selain itu, ke depannya semoga masyarakat Kota Makassar juga lebih peka terhadap persoalan lingkungan yang terjadi di Kota Makassar terutama permasalahan sampah.”