Apa perbedaan desainer grafis dan desainer gratis?

Banyak. Beda yang paling menonjol, desainer gratis menguasai ilmu ikhlas. Hanya desainer grafis dengan ilmu ikhlas level platinum yang bisa menerima kenyataan di mana keahliannya yang memakan waktu bertahun-tahun dan biaya hingga puluhan juta untuk dikuasai ternyata dihargai lebih rendah daripada keterampilan memarkir kendaraan. Desainer grafis tipe ini kita sebut saja sebagai desainer gratis.

Saya salut pada mereka yang bisa memperkenankan ini tanpa merasa teraniaya. Meski saya tidak setuju dengan konsep ikhlas seperti ini, tapi rasa damai yang mereka rasakan adalah hal yang membuat iri.

Tetapi tidak semua desainer gratis menguasai ilmu ikhlas, dan inilah jenis desainer gratis yang paling malang. Tidak ada kepuasan di balik semua jerih payahnya, tidak menerima kompensasi pula. Bila anda tipe desainer gratis yang ini, saya sarankan untuk mencari profesi lain saja.

Atau, membaca 3 buku ini.

1. “How to be A Graphic Designer without Selling Your Soul”  oleh Adrian Shaughnessy

How to be A Graphic Designer without Selling Your Soul-Revius
Buku ini menggambarkan profesi desainer grafis secara gamblang (dan vulgar) tentang peluang juga tantangan menjadi seorang desainer grafis modern yang independen. Banyak insight dari para profesional dengan reputasi global di buku ini, kata pengantarnya sendiri ditulis oleh idola saya, Stefan Sagmeister.

Satu poin yang saya tangkap dari membaca buku ini adalah: meski seorang desainer grafis bekerja untuk memenuhi kebutuhan orang lain (klien), tidak berarti dia harus meninggalkan sisi dan gaya personalnya. Tidak berarti dia harus melupakan preferensi personalnya.

“Designers use fonts, colours, layouts and imagery because they like them: it would be an odd designer who used design elements that he or she didn’t like” (chapter 1, page 24)

Bagi seorang desainer grafis, tidak ada cara yang lebih mudah untuk menjadi mesin selain dengan menyingkirkan taste dan style personal kita dalam mengerjakan sebuah proyek desain. Saran saya, tolak saja, jangan khawatir, selama anda setia dan tetap eksis, kesempatan lain akan selalu ada.

 

2. “It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be” oleh Paul Arden

It's not How Good You Are-Revius

Buku favorit saya sepanjang masa! Meski tidak secara spesifik membahas tentang desain grafis (kebanyakan tentang advertising), buku ini bisa membantu para desainer grafis untuk menjaga cita-cita, membangun karakter pantang menyerah, cerdik dan taktis.

Paul-Arden-Revius

Banyak kalimat yang quotable di buku ini, tapi ada satu nasihat yang pas bagi para desainer gratis:

“Without having a goal, it’s difficult to score.” 

Terjemahan bebas: kalau calon klien menanyakan besaran fee desain anda, jangan pernah menjawab “terserah” atau “tergantung budget-nya saja”, karena sesungguhnya klien (atau broker) selalu ingin menekan biaya. Sebutkan saja angkanya, bersyukurlah kalau angkanya berjodoh. Kalau pun tidak, jangan bersedih hati, karena jodoh takkan ke mana.

 

3. “How to Think Like a Great Graphic Designer” oleh Debby Millman.

How to Think Like a Graphic Designer-Revius

Kadang kita bercita-cita untuk menjadi “great”1 tapi tidak punya tolak ukur yang jelas tentang level “great” yang ingin dicapai. Worry no more, karena di buku ini ada banyak desainer grafis “great” yang bisa anda curi ilmunya. Mereka bercerita tentang “kisah cinta” mereka dengan dunia desain grafis, bagaimana mereka membangun karier dan reputasi di kancah desain grafis global, bagaimana mereka menolak klien yang hanya memberi mereka mimpi buruk, atau bagaimana mereka dengan sukarela mengerjakan proyek desain untuk kampanye kemanusiaan, dan sebagainya, dan sebagainya.

Milton Glaser, Stefan Sagmeister2 , John Maeda, dan Massimo Vignelli adalah 4 dari 20 desainer grafis kondang yang diwawancarai secara terpisah di buku ini.

Massimo Vignelli-Revius

Massimo Vignelli jiee…

Tentu saja banyak glorifikasi profesi desain grafis di buku ini. Karena hanya orang-orang yang percaya bahwa profesi yang dijalaninya memiliki peran penting yang mampu berada di level seperti mereka. Milton Glaser dkk meyakini bahwa profesi desainer grafis berkontribusi di kehidupan orang banyak, dan anda harus percaya bahwa tidak ada di antara mereka yang dibayar dengan ucapan terima kasih semata.

+++

SEDIKIT lebih tegas dalam memasang bandrol jasa desain kita tidak berarti semua pekerjaan desain kita akan murni dilatari oleh motivasi ekonomi. Sebuah pandangan yang keliru pula bila kita mengukur apresiasi orang lain dari banyak-sedikitnya angka nol yang tercantum di bukti transfer. Hanya saja, tagihan di akhir bulan tidak bisa dibayar dengan ucapan terima kasih atau permintaan maaf.

Cheers!

 

 


Catatan:

1. Maaf, saya tetap menggunakan kata “great” karena tidak suka menggunakan kata “hebat”.

2. this guy is really a rock star in the contemporary graphic design realm.