Jika kau bertanya apa arti puisi, maka saya akan menjawab seadanya. Seperti kau menjawab pertanyaan, bagaimana perasaanmu ketika melihat orang yang kau cintai telah mencintai orang lain sebagaimana dia dulu mencintaimu? Huft!

Apapun jawabanmu, itulah puisi bagi saya. Sederhana? Tentu. Cukup masa lalu saja yang rumit. Lah, apa hubungannya dengan puisi? Terserah, kan saya yang menulis.

Kembali pada pembahasan semula. Puisi adalah ruang sunyi tempat menyimpan makna. Tapi orang lain dibebaskan melihatnya dari sudut berbeda. Sudut yang mungkin berlainan dari makna semula. Bahkan, orang lain dengan bebas menarik keramaian dalam ruang sunyi itu.

Saya bukan pembaca yang tekun. Saya lebih senang membaca wajah kekasih saya – tunggu dulu, kekasih? Memang kamu punya? Punya dong. Memangnya saya Arkil. Tulisan ini hanya upaya untuk mengingat pengalaman yang saya temukan dari beberapa puisi.

Berikut 3 puisi yang paling berpengaruh dalam hidup saya;

 

“The Road Not Taken” – Robert Frost

 

Two roads diverged in a yellow wood,

And sorry I could not travel both

And be one traveler, long I stood

And looked down one as far as I could

To where it bent in the undergrowth;

 

Then took the other, as just as fair,

And having perhaps the better claim,

Because it was grassy and wanted wear;

Though as for that the passing there

Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I,
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

 

Pertama kali membaca puisi ini, saya merasa menemukan peta. Peta kata-kata. Puisi ini seperti setan cantik yang dengan lembut masuk melalui celah kecil di kulit dan menembus tengkorak kepala saya. Pengalaman yang membawa saya pada satu titik kehijrahan. Dan itu mengubah cara saya memandang kehidupan yang cetar membahana dan lebay ini.

Larik Oh, I kept the first for another day!/Yet knowing how way leads on to way/I doubted if I should ever come back bahkan mampu menjadi kawan yang setia memberi nasihat.

Puisi ini seperti bibir ayah saya yang pernah berpesan, “Meskipun orang menganggap jalan yang kamu pilih salah, teruslah menempuhnya. Kamu tahu karena melalui, dan kamu tahu karena melihat adalah dua hal yang berbeda. Dan hanya satu yang menuntunmu lebih tegar.” Kalimat itu ia sampaikan ketika mengeluarkan saya dari sekolah. Beberapa tahun setelah itu, saya bertemu The Road Not Taken dan membuat saya semakin paham makna pesan itu.

 

“Between Going And Coming” – Octavio Paz

 

Between going and staying

the day wavers,
in love with its own transparency.
The circular afternoon is now a bay
where the world in stillness rocks.

All is visible and all elusive,
all is near and can’t be touched.

Paper, book, pencil, glass,
rest in the shade of their names.

Time throbbing in my temples repeats
the same unchanging syllable of blood.

The light turns the indifferent wall
into a ghostly theater of reflections.

I find myself in the middle of an eye,
watching myself in its blank stare.

The moment scatters. Motionless,
I stay and go: I am a pause.

 

Dari judulnya saja, puisi ini sudah membawa kita pada dirinya. Diri yang sunyi. Jika memiliki tubuh, maka peluklah tubuh puisi ini setiap kau melihat hal-hal yang kau cintai pergi dan lepaslah ketika kau menemukan sesuatu yang bertahan di antara sekian kepergian. Dan barangkali hanya puisi ini yang kau temukan paling terakhir. Puisi yang meminta kejedaan dari semua yang riuh dan berlalu. Cepat dan sulit diterka.

Saya baru berkenalan dengan Octavio Paz, kesulitan memahami puisi asing alasannya. Tapi kebetulan, seorang kawan menawarkan link di Twitter dan saya membukanya. Ternyata, di antara sekian puisi yang di muat di blog itu, salah satunya “Between Going and Coming”. Sedikit demi sedikit saya mengartikan dan yang saya temukan adalah pusat kesunyian. Pusat di mana seseorang dengan keharusan yang disadari menerima hal-hal yang datang padanya. Dan puisi ini menawarkan cara. Cara untuk menghadapi semuanya

 

“Aku” – Chairil Anwar

 

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

Buku pertama yang saya beli berjudul Aku, kumpulan puisi Chairil Anwar. Saya lupa alasan membeli buku itu. Mungkin hanya sok-sok supaya dikira senang dengan sastra. Tapi, ke-sok-sok-an itulah yang mengantar perkenalan pertama saya dengan puisi.

Waktu itu saya hanya mengenal puisi dari bangku sekolah dasar yang diajarkan almarhumah guru bahasa Indonesia. Tapi semuanya berubah ketika mulai membaca satu demi satu puisi di buku itu. Dan setelah selesai membacanya, saya kembali membuka halaman Aku. Membacanya sekali lagi. Sekali lagi.

Larik favorit saya di puisi ini adalah Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang. Ketika membacanya, secara naluri, saya langsung tertarik. Terlebih ketika dikeluarkan dari sekolah, kalimat itu seperti bernyawa dan berdiri menjadi bayangan saya.

Belakangan, ketika internet sudah masuk di kampung, saya mencari biografi Chairil Anwar dan tepat, dia memang binatang jalang yang paling terhormat. Saya tidak pernah menyesal mengapa harus jatuh cinta dengan puisi.

 ***

Demikianlan perkenalan saya dengan puisi, barangkali tidak sepenting mencari tahu siapa anak kecil kurang ajar yang bilang “heart” di lagu “Thinking Out Loud”-nya Ed Sheeran. Yang jelas, saya mencintaimu seperti puisi-puisi yang tidak pernah mengkhianti penyairnya meskipun kelak penyairlah yang memiliki kuasa mengkhianati puisinya sendiri. Bravo sepak bola Indonesia!