Oleh: Al-Fian Dippahattang(@pentilmerah)* |Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

1.
Kadang-kadang, kita tak mau tahu. Berapa jumlah waktu diberlalukan hanya sekadar belanja yang bukan kebutuhan melainkan memelihara nafsu dan seks. Menghidupi kemeriahan panca indera yang seolah solusi tak lagi tajam, patah semangat, tubuh terangkut kembali ke pusat kesakitan.

2.
Kadang-kadang, kita melupakan masa dan momen yang mesti diingat sebagai lintasan masa depan. Walau sulit dijelaskan jika kita masih dikuasai oleh hal-hal yang ritmenya terdengar teratur, lantas kita tak ingin mencari keterkaitan yang bisa menimbulkan efek pada usia di sekitar kita.

3.
Kadang-kadang, kita terhasut cara orang lain yang bagi kita sulit. Namun, dipaksakan dikejar, sampai ingatan tak cukup. Catatan pun pas menampung segala acara tuk dilewati, disenangi, dibicarakan dan mengasingkan kebijaksanaan tuk didiskusikan.

4.
Kadang-kadang, kita enggan bepergian membesut hari kehilangan di tempat-tempat yang membuat pemandangan di sekeliling kita berubah harum dan tangis leleh ke tanah yang di dalamnya tertimbun sejenis kita yang mendahului panggilan di tengah-tengah antrian panjang tanpa berucap kesal.

Makassar, 2014

*Penulis adalah Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 2014 yang pernah kuliah selama dua tahun di Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar (UNM). Tulisannya ikut dalam antologi pemenang (Jejak Sajak di Mahakam, 2013 Lanjong Art Festival) dan (Ground Zero, 2014 Diva Press). Beberapa essai, cerpen dan puisinya pernah dimuat di koran. Bisa di sapa di akun twitter-nya: @pentilmerah.