oleh: Eka Besse Wulandari | @ekbess

Ini bukan perkara malas mencari uang, tapi lebih kepada ingin menikmati hidup ini seperti apa? Bagi saya, semakin hidup saya murah (tunggu! semoga kita sepaham dengan apa yang saya maksud dengan hidup murah) maka semakin bisa saya melepaskan diri dari tuntutan mencari uang lebih. Sebab untuk mencari uang lebih saya harus bekerja, tentu saja! Bagaimana cara saya mendapatkan uang jika tak bekerja?

Saya hanya tak ingin menghabiskan sebagian besar waktu saya bekerja di tempat yang tidak saya senangi, di tempat yang memeras banyak tenaga namun gajinya tak sepadan, terlebih bekerja di tempat yang mungkin mematikan kreativitas karena mendapat banyak tekanan dari atasan. Sekali lagi, ini bukan perkara karena malas mencari uang. Lebih kepada bagaimana kita memilih antara mengontrol hidup atau dikontrol oleh kehidupan? Saya pikir, dengan sedikit pengeluaran, sedikit bekerja, saya bisa lebih banyak waktu untuk menikmati hidup, belajar apa saja, melakukan kegemaran, mendengar musik, membaca buku, dan hal menarik serta penting lainnya.

Lalu bagaimana cara hidup murah?

1. Makanan

Ada dua pilihan. Pertama jika di rumah ada lahan yang cukup kamu bisa berkebun. Jika tidak semua bisa ditanam, paling tidak sebagian, sayur dan buah. Jadi kita hanya perlu mencari uang untuk membeli beras dan lauk. Bagi orang dewasa kata dr. Rahmi Muin sebenarnya tak begitu butuh lagi protein daging. Sesekali saja. Maka tempe tahu adalah pilihan yang tepat. Ada banyak resep masakan yang bisa dipelajari untuk mengolah makanan agar tak bosan.

Pilihan kedua, ke pasar tradisional atau bahkan pasar moderen jika mampu bernegosiasi dengan pemiliknya. Ke pasar membeli sayur? Bukan! Melainkan mengumpulkan barang BS istilah pedagang di pasar. Saya tidak tahu apa kepanjangan BS itu, hanya saja jika ke pasar tradisional, misalnya di Pasar Terong mereka sudah tahu jika kita menginginkan barang BS. Jadi barang BS adalah barang yang belum rusak secara keseluruhan namun pedagang tidak mau menjualnya lagi sebab tidak akan laku. Terutama sayuran. Ada banyak buah dan sayuran yang dalam perjalanan dari kebun menuju pasar rusak mungkin karena tertindis barang berat sehingga tampak bonyok di beberapa bagian namun masih bagus dan layak olah untuk dimakan. Semuanya gratis. Betapa menyenangkan jalan-jalan ke pasar tradisional. Namun ada waktu-waktu tertentu kita bisa mendapatkan barang BS. Sesaat setelah barang dibongkar di pagi hari, biasanya pukul 6 sampai 7. Waktunya hanya sebentar sebab sekitar pukul 9 pasar sudah mulai dibersihkan, barang BS biasanya langsung dibuang karena mudah membusuk jika disimpan lama oleh pedagang. Kita cukup mendekati pedagang sayur yang ramah dan baik hati untuk berlangganan barang BS. Minta mereka menyimpankan beberapa sebelum dibuang untuk kita ambil. Selain itu agar biaya makan sehari-hari murah tentu saja jangan makan berlebihan, bukannya melarang tapi makan berlebih menyebabkan kegemukan. Dan biasanya semua yang berlebihan itu tidak baik.

2. Pakaian

Juga ada dua pilihan. Pertama, cakar. Bukan rahasia lagi jika barang-barang cakar alias cap karung yang kita kenal memiliki bahan dengan kualitas yang bagus karena didatangkan dari beberapa negara luar, terutama Jepang, negara yang selalu memperhatikan dan mempercantik secara detail barang buatannya. Saya senang berburu cakar karena selalu lebih murah dan jika sanggup bertahan lebih lama membongkar tak jarang kita mendapatkan yang bermerek terkenal agar tetap bisa bergaya jika mau. Apa yang salah dengan pakaian bekas? Nah ini pilihan kedua, kunjungi atau adakan sendiri kegiatan seperti lapak gratis. Kegiatan mengumpulkan barang bekas milik teman atau keluarga yang sudah tak ingin lagi mereka pakai kemudian membawanya ke tempat yang ramai dan orang bisa memilikinya secara gratis. Memiliki pakaian juga tidak perlu banyak bukan?

3. Kendaraan

Bersepeda atau naik angkutan umum. Saya pribadi selalu risih dengan rumah yang masing-masing penghuninya memiliki satu motor atau mobil. Kota ini sudah semakin dipenuhi kendaraan pribadi sehingga kemacetan selalu kita temui di mana-mana. Salahnya siapa? Pertama pemerintah yang seenaknya memberikan izin usaha perdagangan kendaraan, kedua ya kita sendiri yang merasa gengsi tidak memiliki kendaraan pribadi. Saya sendiri tidak merasa begitu bermasalah berdesak-desakan di atas kendaraan umum. Toh saya tidak melakukannya sepanjang hari. Memiliki kendaraan pribadi juga berarti menambah pengeluaran lebih, terutama perawatannya. Ah ya, jika mengharuskan misalnya rumah kita jauh dari akses kendaraan umum, tidak ada salahnya nebeng dengan tetangga yang memiliki tujuan sama atau minimal sampai ke jalan raya untuk mendapatkan angkutan umum.

4. Kesehatan

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Hal baiknya menjaga pola hidup agar tetap seimbang adalah tubuh akan rentan terhadap penyakit. Kalau sakit, gunakan obat tradisional yang bahannya mudah ditemukan di dapur, tumbuh liar, atau kita bisa menanamnya sendiri. Yang kita butuhkan hanyalah lebih banyak belajar tentang ramuannya dalam buku atau internet. Mahasiswa kedokteran di beberapa universitas saat ini pun diajarkan untuk menawarkan obat tradisional sebagai pilihan pertama kepada pasien. Yang alami selalu lebih baik.

5. Rumah

Mungkin bagian ini lebih cocok untuk mahasiswa atau bagi yang belum berumah tangga. Patungan tentu lebih murah untuk menyewa satu rumah atau kamar kos. Selain lebih murah biaya sewa, hal lainnya juga bisa dilakukan secara patungan misalnya bayar tagihan listrik, air, bahan makanan, buku bacaan, dan lainnya. Juga kita tidak akan kesepian, ada teman berbagi, asal semua hal dikomunikasikan, temukan teman yang cocok. Sebab akan selalu ada hal yang bisa memicu pertengkaran sebagai resiko tinggal dengan banyak orang dalam satu rumah. Namun selama tidak egois dan komunikasi kita lancar, semuanya akan baik-baik saja. Saya juga yakin memiliki teman serumah atau sekamar membuat kita terbiasa berbagi dan belajar menangani masalah-masalah kecil, hasilnya di luar rumah kita sudah terbiasa menyelesaikan masalah-masalah akibat komunikasi yang tidak lancar.

*

Lima cara hidup murah di atas tentu tidak begitu mudah dilakukan jika kita masih memiliki pikiran bahwa hal mewah, bermerek, dan menjaga gengsi itu penting. Esensi hidup bagi saya bukan seberapa orang lain menilai kita dari gaya hidup yang wah, namun  bagaimana kita bisa menikmatinya tanpa tekanan dan stres berlebihan karena memikirkan “saya akan ketinggalan jika tidak memiliki baju ini, tidak makan di sini, dan bla bla bla.” Hidup sederhana dan membeli sesuai kebutuhan dan fungsinya akan lebih menenangkan. Tenang karena tidak diburu tagihan kredit tentunya. Kabar gembiranya bahwa cara hidup lebih murah dan sederhana itu meski tidak meruntuhkan, namun bisa mengganggu stabilitas kapitalisme.

 

image: Whatsnewjakarta