Seorang mahasiswi asal Makassar mendapat beasiswa belajar di Kyoto, Jepang selama setahun. Monippe, begitu dia ingin dipanggil, memperdalam bahasa Jepangnya di salah satu universitas Kyoto sejak Agustus 2013. Untuk bisa survive setiap bulan, Monippe bekerja part time di sebuah restoran.

Kepada Revius, dengan senang hati Monippe menceritakan 5 hal yang dianggap normal di sana, tapi mungkin ‘nyeleneh’ di sini. Otanoshimini~! 

Kyoto adalah sebuah prefektur yang terdapat di Pulau Honshu, Kansai Region. Kyoto dulunya merupakan Ibukota Jepang selama beberapa abad sebelum dipindahkan ke Tokyo.

Yak, cukup basa-basi Wikipedianya, berikut ini saya mau berbagi hal-hal nyeleneh yang saya temui selama mendapat kesempatan mengecap pendidikan di Kyoto. Apa yang saya ceritakan di bawah mungkin tidak hanya terjadi di Kyoto, tapi juga kota lain di Jepang.

1. Kendaraan yang Berbicara Sendiri

bus Bus, truk, dan kendaraan besar lainnya sering berbicara sendiri. Ya, berbicara! Contohnya, jika truk akan belok kanan dia pasti minta izin: “migi he magarimasu, gochuui kudasai” (mohon hati-hati, bus akan belok kanan) dengan suara wanita yang lemah lembut. Menurut saya, pemilihan suara wanita ini agak tidak pas. Bagaikan nonton Doraemon dimana Giant di-dubbing pengisi suaranya Shizuka.

2. Omotenashi (Pelayanan yang “Sangat” Ramah)

Toko GU (bukan Gila Urusan), toko favorit saya di Osaka karena murah.

Toko GU (bukan ‘Gila Urusan’), favorit saya di Osaka karena murah.

Pernahkah anda pergi ke warung dan mendapat muka jutek dari mbak-mbak pelayannya? Atau masuk ke toko baju dan merasa ‘dikuntit’ oleh stafnya? Hal seperti itu jarang saya temui di sini. Pelayanan super ramah dan penuh senyum tanpa mengganggu privasi buat pengunjung. Contohnya, di toko pakaian. Staf toko sesekali akan mendekati kita hanya untuk memberitahu promo hari ini atau sekedar bilang: “silahkan dilihat / silahkan dicoba”. Hal itu sangat pas buat tipe orang yang mengunjungi-sepuluh-toko-kemudian-kembali-ke-toko-pertama-untuk-membeli-selembar-baju seperti saya.

Deretan toko di stasiun Kyoto yang kulewati setiap hari kalau pergi kerja part time.

Deretan toko di stasiun Kyoto yang saya lewati setiap hari kalau pergi kerja part time.

Hanya saja ada satu hal yang agak disayangkan. Di dalam toko baju biasanya beberapa staff tokonya berdiri di sudut-sudut sambil menyerukan “selamat datang”, “terima kasih”,”silahkan dilihat”,”hari ini kami diskon xx%”. Suara mbak-mbak staf toko itu semua seragam, seperti suara Mayuyu (AKB48) yang dipencet hidungnya…

3. Rela Antri Demi Idola

Wajah salah satu anggota AKB48 di kopi kalengan.

Wajah salah satu anggota AKB48 di kopi kalengan.

AKB48, Morning Musume, Momoiro Clover Z, SMAP, Arashi, Kis-My-Ft2, dan seabrek-abrek Idol  lainnya mulai dari kokumin-teki idol (idola nasional) sampai idol daerah. Ke mana pun mata memandang pasti akan menemukan wajah-wajah mereka. Budaya Idol memang sudah ada di Jepang dari zaman laki-laki berburu dan wanita bercocok tanam. Selain pekerjaan utama mereka yaitu bernyanyi dan menari, mereka juga hampir setiap hari muncul di variety show, menjadi model majalah fashion, muncul di dorama, sampai menjadi model obat pembasmi serangga. Segala sesuatu yang ‘berbau’ Idol, akan laku keras. Walaupun, barangnya sangat tidak penting. Selembar kaos kualitas Pasar Butung dengan tulisan nama grup Idol font Arial plus logo PLN ini harganya setara dengan 3–4 lembar baju di Uniqlo.

Merchandise group idol yang biasa hanya bisa dibeli saat konser.

Merchandise group idol yang biasa hanya bisa dibeli saat konser.

Kikan Gentei mungkin bisa diartikan limited edition. Jepang merupakan negara empat musim dan memiliki banyak perayaan. Hal tersebut dimanfaatkan orang Jepang untuk berbisnis. Produk Spring limited edition, Halloween limited edition, Hinamatsuri (festival anak perempuan Jepang) limited edition, dan masih banyak lagi. Selain limited edition berdasarkan musim atau perayaan, ada juga yang berdasarkan lokasi. Contohnya, Kit Kat matcha khas Kyoto, dan Kit Kat rasa wasabi khas Shizuoka (yang ternyata enak).

Kit Kat rasa wasabi

Kit Kat rasa wasabi

Apa hubungan aidoru, kikan gentei, dan antri? Aidoru dan kikan gentei sama-sama bikin orang mengantri. Orang Jepang memang dikenal tertib dan hobi mengantri. Mereka rela berdiri berjam-jam untuk membeli beberapa lembar foto dan kaos idola kesayangan. Pengalaman mengantri saya salah satunya adalah untuk handshake event idola saya, Morning Musume. Walaupun sekarang tidak sepopuler AKB48, saya menghabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam (dan setelah itu mengantri lagi untuk kedua kalinya :p). Perjuangan saya tidak sebanding dengan om-om dan lelaki paruh baya lainnya yang sudah nginap sejak malam harinya untuk membeli tiket berpuluh-puluh lembar. Fenomena antri tersebut juga sering disorot media. Beberapa waktu lalu, teman saya yang punya TV bercerita bahwa dia pernah menonton liputan orang-orang yang rela mengantri empat jam, untuk membeli keripik kentang!

Massa yang mau salaman sama Morning Musume segini banyaknya.

Massa yang mau bersalaman dengan Morning Musume segini banyaknya.

Hasil perjuangan setelah ngantri berjam-jam.

Hasil perjuangan setelah mengantri berjam-jam.

4. Inggurish?

Orang Jepang memang dikenal susah menguasai Bahasa Inggris. Mulai dari lidah mereka yang tidak bisa mengucapkan huruf mati dan mungkin ada juga faktor kecintaan terhadap bahasa negeri sendiri. Di Jepang, terkadang film Barat tayang lebih lambat dari negara-negara lain karena terlebih dahulu di-dubbing ke Bahasa Jepang. Walaupun begitu, Jepang terus berusaha untuk melek Internasional. Jumlah pelajar Jepang yang bisa berbahasa Inggris meningkat, banyak organisasi yang aktivitas utamanya adalah koryu (literally: interaction, semacam diskusi bebas) dengan mahasiswa dari negara lain menggunakan bahasa Inggris. eng1 Akan tetapi, saya masih sering menemui bahasa Inggris yang aneh. Kebanyakan terdapat di fasilitas-fasilitas umum. Kadang-kadang, saking parahnya, kita akan berpikir bahwa mereka menggunakan Google Translate. Contoh terdekat adalah tulisan di dapur umum asrama saya ini. Saya tidak tahu harus menjawab apa terhadap pertanyaan tersebut.

Apakah kamu Kyoto?

Apakah kamu Kyoto?

5. Orang Aneh

Orang Jepang terkenal rajin, ulet, dan bertanggung jawab. Mungkin Anda sudah sering membaca artikel tentang pemimpin perusahaan yang bunuh diri saat gagal atau ketahuan korupsi. Ya, tingkat bunuh diri di Jepang sangat tinggi. Kebanyakan disebabkan stress atau masalah keuangan. Memang tidak mudah hidup di Jepang sebagai Orang Jepang. Selain bunuh diri, banyak juga yang menjadi gila. Orang gila sering saya temui di tempat-tempat umum seperti kereta dan restoran cepat saji. Ada yang mondar mandir aneh, teriak-teriak, dan pernah juga ada yang mengajak saya bicara.

Jenis orang aneh lainnya adalah om-om mesum. Sudah empat kali saya ditegur oleh om-om mesum. Paling horor ketika saya pulang kerja part-time jam 11 malam di sudut kuil yang kurang penerangannya, tiba-tiba seorang om-om merangkul saya dari belakang dan mengatakan: “Ne, hitori?” (tr: sendirian nih?) dengan nada mesum. Saya lari sekuat tenaga dan untungnya om-om itu tidak mengejar. Dari beberapa pengalaman saya ketemu om-om mesum, sejauh ini tidak ada yang sampai berani lebih jauh dari sekedar menyapa. Ketika saya menolak atau menghindar, mereka akan menyerah.

Tipe lainnya yang pernah saya temui adalah mas-mas cakep. Kejadian ini saya alami di salah satu tempat gaul di Osaka. Sangat disayangkan. Mas-mas cakep dengan level hanya satu tingkat di bawah Haruma Miura menawarkan dirinya ke mbak-mbak modis yang terlihat kaya yang tengah melintas (dan dicuekin). Dia mengatakan “Boku wa, nandemo shimasu!” (Saya mau kok melakukan apa saja!). Ketika saya yang melintas di depannya, dia tidak mengatakan apa-apa. Hiks..

Lokasi pusat anak gehol Osaka. Mas-mas aneh dan hostess sering nongkrong di sini.

Lokasi pusat anak gehol Osaka. Mas-mas cakep-tapi-aneh sering nongkrong di sini.

Indonesia, Jepang, Makassar, Kyoto, tidak ada yang sempurna. Meskipun banyak hal-hal aneh atau okashii yang jarang kita temui di Indonesia, tapi saya rasa di situlah ‘greget’nya Jepang. Dari ketidaksempurnaan itu lahir banyak cerita dan kita bisa menikmati setiap momennya, setiap detiknya. Super sekali!

(ilustrasi: tofugu.com)