Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Ada pepatah mengatakan bahwa tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Bahkan, beberapa literatur mengatakan bahwa pepatah tersebut adalah sebuah hadis. Terlepas dari perdebatan akan pepatah dan hadis, berkunjung ke Negeri China memang dianjurkan. Karena sejak zaman dahulu kala, masyarakat Tirai Bambu tersebut sudah menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan peradaban umat manusia.

Taiwan, biasa juga dikenal dengan nama Formosa. Nama Formosa ini juga diambil dari bahasa Portugis yang berarti pulau yang indah. Meskipun sekarang Taiwan menolak menjadi bagian dari China, tapi saya tetap beruntung dapat mengunjungi Taiwan sebagai salah satu Negara yang berada di wilayah negeri RRC. Berikut, 5 hal unik yang saya temukan di Taiwan.

1. Semua Kata Diterjemahkan ke dalam Bahasa Mandarin

Walaupun tergolong ke dalam negara modern dengan pengaruh budaya Jepang-Amerika, Negara Taiwan tidak banyak menggunakan bahasa inggris dalam percakapan sehari-hari. Bahkan, semua kata bahkan brand diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin.

IMG_6234

Untuk nama-nama sederhana pun memiliki nama Mandarin. Kata Indonesia misalnya, di Negara lain mungkin tetap dinamakan Indonesia. Namun di Taiwan, Indonesia memiliki bahasa mandarin yaitu Yinni. Begitu pula dengan nama “Hasanuddin” yang merupakan nama kampus saya. Hasanuddin diterjemahkan dalam bahasa Mandarin menjadi Ha-shan-nu-ting. Bahkan nama penyanyi kelas dunia pun diterjemahkan ke bahasa Mandarin.

Menurut saya, hal ini baik untuk melestarikan budaya lokal. Taiwan membuktikan bahwa menjadi negara modern tidak harus kebarat-baratan.

2. Porsi Makan yang Banyak dan Bervariasi

Taiwan terkenal dengan Night-Marketnya atau jika dibahasa-Indonesiakan berarti Pasar Malam. Di pasar malam ini, hampir 50% stan yang tersedia adalah makanan. Dari makanan ringan hingga makanan berat. Jajanannya bervariasi dan murah.

IMG_5347

IMG_3931

Berkunjung ke beberapa tempat makan, saya dapat melihat porsi makan yang banyak dari orang-orang Taiwan. Berbeda dengan orang Indonesia yang biasa makan dengan satu atau paling banyak 3 lauk. Di Taiwan, nasi bisa dipadukan hingga 8 lauk di atas meja. Di luar makanan pembuka dan penutup. Selain itu, banyak restoran di Taiwan yang menggunakan sistem layanan all you can eat.

3. Postur Tubuh yang Langsing

Masih berhubungan dengan poin kedua, postur tubuh orang Taiwan langsing-langsing walaupun dengan porsi makan yang banyak. Hal ini mungkin karena mereka gemar berjalan kaki dan olahraga.

Di area kampus National Pintung University, saya dapat melihat beberapa mahasiswa yang berjalan kaki dari pintu utama kampus ke asrama. Jaraknya sekitar 5 kilometer. Selain itu, mahasiswa di sana menyempatkan diri untuk berolahraga. Walaupun jadwal kuliah mereka padat dari pagi hingga malam, mereka tetap menyempatkan diri berolahraga pukul 10-12 malam. Mungkin itulah penyebabnya walau mereka banyak makan tetapi mereka tetap langsing.

4. Jarang Mandi Pagi

Berada di asrama kampus selama sepuluh hari, saya dapat melihat kebiasaan unik lainnya dari mahasiswa Taiwan. Kamar mandi asrama selalu ramai di jam-jam 11-12 malam. Mereka mandi untuk memulai hari esok. Dalam artian, di pagi hari mereka sudah tidak mandi lagi. Budaya tepat waktu masih terjaga, mungkin alasan mereka tidak mandi pagi untuk mengefisienkan waktu sebelum ke kampus. Trik ini baik dicontoh buat yang sering telat ke kampus. Oh iya, toilet di kampus-kampus yang ada di Taiwan terbagi atas dua macam. Satu untuk buang air besar yang hanya ada closet. Dan satu untuk mandi yang hanya ada shower.

5. Tidak Ada Pelayan Pembersih

Di Indonesia, setelah makan di kantin, kita mungkin meninggalkan piring, sendok, dan alat makan lainnya di atas meja jika selesai makan. Menunggu pelayan untuk mengangkat dan membersihkannya. Di Taiwan berbeda. Di kantin kampus, kita diharuskan membawa sendiri peralatan makan kita ke tempat yang disediakan setelah makan. Tempat ini adalah meja yang di mana kita harus memisahkan sendiri alat makan di tempat masing-masing. Hal ini memudahkan pengelola kantin untuk mencucinya.

IMG_5506

Bayangkan berapa piring, sendok, dan gelas yang harus pelayan kumpulkan dari meja ke dapur setiap harinya? Cara ini mandiri dan memudahkan tugas pengelola kantin. Toh membawa sendiri peralatan makan tidak berat. Bahkan di restoran cepat saji seperti MCD, budaya mandiri ini juga diterapkan.

Mengunjungi negara lain bertujuan untuk mencari pengalaman dan tentunya melihat budaya-budaya asing yang ada. Kita dapat melihat lingkungan dan pola berkehidupan yang berbeda dengan negeri kita. Menjadi minoritas, berjuang untuk makanan yang halal dan beradaptasi membuat kita semakin rindu akan rumah. Hal-hal yang membuat jelas ungkapan, “Sebaik-baik rumah adalah negeri sendiri.” []

N.B.: Ilustrasi terinspirasi dari Taipei 101, yang merupakan salah satu gedung pencakar langit di Taiwan.


Baca artikel City Review lainnya

Lima Warung Bakso Paling Syahdu

Kita dan Kota Perlu Berteman dengan Lebih Banyak Taman

Lingkaran Setan Lalu Lintas Makassar

Kampung Melayu yang Dijaga Santo Petrus

Mengapa Ruang Terbuka Hijau Sangat Penting?

Makassar Mencakar Langit

5 Tipe Kafe Gaul di Jepang

5 Hal yang Nyeleneh yang Mudah Ditemukan di Kyoto

Saya, Korea, dan AIESEC

Toko Alat dan Bahan Kriya Favorit di Makassar