Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Tema ini sepertinya cukup basi untuk dibicarakan sekali lagi, karena saya tahu kalian pasti sudah lama tidak menonton televisi. Bahkan sekarang pun, kalian membaca tulisan ini, bukan menatap layar televisi dengan wajah kebosanan.

That’s why, judul tulisan ini saya ganti menjadi “7 Alasan Kenapa Kamu Setuju Bahwa Televisi Lebih Baik Tidak Menyala”, yang awalnya adalah “7 Alasan Kenapa Televisi Lebih Baik Kamu Matikan”.

Entah mengapa, saya mendapatkan firasat bahwa kamu hanya perlu merasa setuju dengan 7 poin yang akan saya jabarkan lebih lanjut sebentar lagi, karena firasat saya mengatakan kamu bukan orang yang akan menghabiskan waktu istirahat malam kamu dengan menonton Bukan Empat Mata atau memulai pagi kamu dengan Go Spot, secara sengaja dengan niat yang berlandaskan kebutuhan terhadap itu.

Saya harap firasat saya benar.

1. You Again!

Saya tidak tahu harus bosan dengan cara apa lagi melihat Raffi Ahmad di sore dan pagi hari.

Kalau pembaca berita tidak berganti-ganti, itu wajar. Agak sulit sepertinya mencari orang-orang dengan kestabilan emosional tingkat tinggi seperti mereka, yang selalu bisa menunjukkan ekspresi netral bahkan ketika mereka harus membacakan berita tentang Pembantu yang disetrika punggungnya atau Pejabat yang Korupsi dan menyengsarakan rakyat.

Tapi Raffi Ahmad dan Jessica Iskandar saling melempar tepung setiap sore? I think we’re better off without it.

2. They’re Telling You to Keep Buying Things

Dalam 30 menit durasi penayangan, kita tidak pernah benar-benar menonton tayangan itu sepanjang 30 menit. Yes, it is because of the commercial breaks. Belum lagi kalau acara jual-jual apartemen, sepanjang tayangan mereka berjualan.

Jam 11 malam, lalu iklan mie instan muncul. Damn, they sure know how to make you think that you’re hungry.

3. Save Energy, Save Money

It’s obvious, televisi membutuhkan energi listrik untuk dapat beroperasi. Sekarang hitung berapa lama kamu menonton televisi selama satu hari. Adakah apa yang mereka tayangkan di layar mempengaruhi cara kamu mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup? Kalau tidak, silahkan meratapi puluhan atau ratusan ribu yang sudah kamu bayar perbulannya untuk tidak menjadi apa-apa.

Turn it off, you’ll have extra money to spend on something else. Something worthwhile.

4. You’re Always Busy Doing Things

It could be something or nothing. But still, you’re busy with it. Kamu adalah generasi muda (ciyee) dengan dunia yang terbuka untuk kamu (duh, kok saya merasa seperti motivator berumur ya?). Kamu sibuk mengerjakan tugas kuliah, hang out with your silly but fun friends, berkencan dengan kekasih sendiri (atau kekasih orang lain), bekerja, menyusun masa depan, menambah pengetahuan atau teman baru, mengasah skill, dan segala rupa kegiatan lain yang mampu memberikan sumbangan positif bagi proses kedewasaan Anda, Sahabat saya yang baik hatinya. Zzzz~

You are a fun and creative folk, I believe! Jadi, saya tahu kamu punya banyak cara untuk tidak jadi membosankan atau merasa bosan tanpa menonton Televisi.

5. First Powerless, Then Hopeless

Menurut UU Penyiaran nomor 32 tahun 2002, pada Bab VI Pasal 52 ayat 3 tertulis; “Masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat mengajukan keberatan terhadap program dan/atau isi siaran yang merugikan”.

Kemudian di Bab II, Pasal 3; “Penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia”.

Menurut tujuan penyiaran pada Bab II Pasal 3, maka seharusnya ketika apa yang disiarkan tidak memenuhi tujuan, maka kita boleh mengajukan keberatan. Tapi Lembaga Penyiaran Swasta yang keberlangsungannya diatur dalam Bab III, Penyelenggaraan Penyiaran pada bagian Kelima selalu tahu bagaimana caranya berkelit.

Maka, power yang katanya kamu miliki itu menguap entah kemana. Dan siaran televisi yang merugikan itu masih tayang, kamu kehilangan hope atas program televisi yang bermutu.

Sedih.

6. Because for Them, Bad News is a Good News

Ini adalah pola berpikir yang lekat di dunia jurnalistik. Hal ini ternyata sejalan dengan penelitian yang berjudul “Why We Love Bad News More Than Good News” oleh Ray Williams di Psychology Today. Mengutip sebagian isi artikel ini, saya menemukan; “Many studies have shown that we care more about the threat of bad things than we do about the prospect of good things. Our negative brain tripwires are far more sensitive than our positive triggers. We tend to get more fearful than happy. And each time we experience fear we turn on our stress hormones”.

Our negative brain tripwires memang lebih sensitif daripada our positive triggers. Dan kita cenderung lebih suka merasa takut daripada bahagia. Hm, kamu pasti punya cara lebih seru untuk merasa takut ketimbang menonton berita tentang pembunuhan atau pencopetan. Ya, kan?

7. Sometimes, You Lose Touch with Reality

I shouldn’t tell you more about Pencitraan, should I?

Katanya supir taksi di 1Q84-nya Haruki Murakami, hanya ada satu realitas. Tapi di media, kenyataan bercabang tak terduga lagi ke mana-mana.
Padahal, Bab IV Pelaksanaan Siaran bagian pertama pasal 36 ayat 4, sudah ditegaskan bahwa; “Isi siaran wajib dijaga netralitasnya dan tidak boleh mengutamakan kepentingan golongan tertentu”.

Lalu mengapa semua ini terjadi? Tanya pada rumput yang bergoyang saja. Siapa tau ombak bisa beri jawaban.

Maka, biarkan saja televisi itu mati sementara waktu atau bahkan sepanjang usia. Biarkanlah mereka menyala di ruang tunggu kantor-kantor pelayanan atau rumah makan. Cuekin saja, supaya semua yang bekerja di balik program acara tahu bagaimana rasanya dicuekin. Bayangkan, selama ini mereka hadir untuk terus kita tonton dan amati, tapi mereka bahkan tidak pernah menyadari kehadiran kita di depan layar. Mereka tahu bahwa ada penonton, tapi mereka tidak pernah ambil pusing untuk tahu apakah kita selalu baik-baik saja.

Sudah saatnya mereka mengerti bagaimana rasanya diabaikan.

Mungkin akan terdengar jahat, jika kita memutuskan berhenti menonton televisi. Lalu, orang-orang yang mencari nafkah di industri itu bagaimana? Itu adalah hal terakhir yang perlu kamu khawatirkan.

Selalu ada orang-orang seumur kita yang tidak se-fun¸se-creative kamu yang tidak tahu harus bagaimana menghabiskan waktu-waktu berharga mereka selain dengan berteman baik dengan remote televisi sampai hapal urutan nomor channel televisi. Selalu ada remaja labil yang memopulerkan hashtag tidak jelas di Twitter ketika menonton idolanya menjadi serigala atau menari sambil lipsync di panggung Inbox.

Selalu ada adik-adik kecil, yang setelah pulang dari Taman Kanak-kanak, duduk manis di depan layar untuk dinina bobokan oleh kartun yang diselingi gosip siang tontonan Mama atau Nanny-nya. Selalu ada anggota keluarga kita, mungkin ayah, ibu, om atau tante yang sudah pensiun. Mereka tidak bisa terlalu banyak lincah salah, sehingga duduk tenang di depan layar adalah cara paling tidak beresiko untuk menghabiskan waktu-waktu tenang mereka beristirahat di rumah.

Atau pegawai KPI.

Mereka akan menonton televisi, jadi kamu tidak perlu worry. Anggap saja menonton televisi itu hukumnya Fardhu Kifayah. Nah, orang-orang tadi sudah menggugurkan kewajiban kamu sebagai anak muda yang sedikit lebih tua dan dewasa daripada remaja labil untuk menonton televisi.

Sekarang, kamu punya banyak waktu untuk melakukan hal lain yang lebih canggih ketimbang menonton perjalanan Farhat Abbas ke Palu mencari batu akik atau melihat Uya Kuya, istrinya dan lelaki India menciptakan suasana haru, bermain dengan harapan peserta kuis yang mereka bawakan. Atau berita tentang Presiden kita yang pemilihan kata-kata sang narator membuat saya merasa bahwa sebentar lagi ia siap membunuh massal rakyat Indonesia tapi saluran berita lain sibuk memuji hasil kerja beliau.

Kita disarankan untuk menjadi penonton yang bijak. Tapi, kalau kamu belum yakin dengan kadar kebijakan yang kamu miliki dalam memandang sesuatu, termasuk menonton televisi, kamu tahu tombol mana yang harus dipencet agar layar berwarna-warni penuh selebriti itu berubah gelap dan tak bersuara. []