Oleh: Hasan Aspahani ( penyair )|Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Langit mengenakan jepit rambutmu di mana-mana.

Kilau lampu-lampu malam meminjam warna-warni

dan bahasa dari matamu. Kelak aku akan menulis

beratus-ratus halaman buku puisi khusus

            mengenai matamu. Kelak— 

(Memandang Dunia dari Jendela Kafe)

 

SEBUAH buku kumpulan puisi berjudul Tidak Ada New York Hari Ini (GPU, 2016) terbit serentak dengan pemutaran film Ada Apa dengan Cinta? 2 (AADC2), di penghujung April 2016. Buku puisi dan film ini adalah dua karya terpisah yang utuh menyatu. Mula-mula, ini  harus dilihat sebagai sebuah gagasan yang hebat. Lazimnya, sebuah film—sebagaimana film AADC2 ini—disertai soundtrack, yakni album musik yang merangkum lagu-lagu tema dari film tersebut, baik yang hadir menjadi bagian dalam lagu atau pun tidak tetapi tetap digubah sebagai tafsir atas film tersebut.

Puisi-puisi dalam buku Tidak Ada New York Hari Ini ditulis oleh penyair M Aan Mansyur.

Saya membayangkan rumitnya posisi Aan. Buku puisi ini membancuh tiga hal: Pertama, dunia imajinasi yang dibangun (dan terbangun dengan tafsir sendiri di benak penontonnya) dalam film Ada Apa dengan Cinta sejak sekuel pertama hingga film kedua ini. Kedua, foto-foto jalanan yang ditangkap mata kamera Mo Riza, seorang fotografer dan seniman yang bermukim di New York. Ketiga, tafsir penyair Aan Mansyur atas salah satu atau keduanya.

Saya ingin membayangkan bagaimana si penyair menuliskan seluruh puisi dalam buku ini. Dan bagaimana itu mungkin? Lalu puisi-puisi yang bagaimanakah yang dilahirkan dari proses semacam itu?

Segera bisa kita tahu si penyair memposisikan dirinya sebagai Rangga. Sajak-sajak dalam buku ini adalah suara Rangga. Dari film pertama kita ingat Rangga—yang hari-harinya kelam dan tenggelam ke dalam sajak-sajak Chairil Anwar—adalah juara menulis puisi di sekolahnya, meruntuhkan reputasi juara bertahan: gadis cantik nan lincah-ceria, Cinta. Lebih runtuh lagi ketika Rangga tak menyambut kemenangan itu sebagai sesuatu yang berarti sebab ia tak pernah mengirim sajaknya itu ke panitia lomba. Ingat adegan—yang paling banyak diparodikan—ketika Rangga menolak wawancara Cinta yang ingin membuat laporan untuk majalah dinding.

Puisi telah mempertemukan Cinta dan Rangga.

Puisi dalam film remaja ini tidak sekadar menjadi unsur yang ditempelkan, tetapi menjadi bagian yang ikut menggerakkan cerita dan membangun karakter tokoh-tokoh utamanya. Puisi membuat film ini tidak jatuh menjadi film remaja cemen—sebagaimana banyak epigon sesudahnya.

Jika penyair Aan masuk ke dalam film ini, ia hadir sebagai penyair yang berlakon sebagai Rangga, dengan puisi-puisinya. Puisi-puisi Aan, adalah puisi Rangga. Mungkin akan ada 3-4 sajak yang akan muncul sekilas—seperti potongan 3-4 lagu dari original soundtrack—dalam tubuh cerita film. Mungkin akan ada adegan di mana Rangga dan Cinta membicarakan sajak Aan, atau sajak Pablo Neruda (ada dua kali Neruda muncul dalam dua sajak di buku ini)— seperti dulu mereka membicarakan  sajak Chairil Anwar.

Dari sajak Aan, kita bisa menegaskan kembali seperti apa sosok Rangga, dan perkembangannya. Dia kesepian dan merasa asing di New York meskipun mencoba mengakrabinya dengan menjadi street photographer (Aku ingin menyelusuri jalan-jalan kota New York – Tak Ada Matahari Senja di Sini); tak juga bisa berdamai dengan masa lalunya beserta Cinta di dalamnya (Aku ingin istirahat mengingatmu, tapi kepalaku sudah jadi kamar tidurmu jauh sebelum aku mengenal namamuAku Ingin Istirahat); dan melarikan atau mencari kedamaian ke dalam puisi (Tiap kata yang kau ucapkan / selalu berarti kapan. Tiap kata yang aku kecupkan / melulu berarti akan. – Bahasa Baru); menyukai Pablo Neruda (Aku seperti menyalami kesedihan lama / yang hidup bahagia dalam pelukan puisi-puisi Pablo Neruda – Pagi di Central Park); tapi juga tak nyaman ketika pulang kembali ke Jakarta (Aku tidak pernah betul-betul pulang. Tidak / bisa. Ke semua tempat kuseret tubuh sendiri / sebagai petualang tersesat—bahkan di negeri  / jauh tempat aku lahir dan seorang perempuan / mengajariku tersenyum kepada diri / sendiriAku Tidak Pernah Betul-betul Pulang); tetapi Rangga yang kita temukan dalam sajak-sajaknya eh sajak-sajak Aan di buku ini adalah kekasih yang tak berdaya karena begitu kuat cintanya kepada Cinta, kekasihnya (Aku mencintaimu melebihi tulang mencintai sumsum dan kalsium. Ciuman terakhir itu, bahkan memandang bibir lain ialah melakukan pengkhianatan – Ciuman Perpisahan).

Jika saya mengharuskan diri untuk memilih satu sajak dari buku ini yang paling mewakili Aan, Rangga, dan nafas seluruh sajak dalam buku ini, maka saya memilih sajak Aku Beli The Book of Questions Untukmu di Hari Ulang Tahunku. Inilah sajak yang paling saya sukai, meski harus segera saya sebutkan bahwa saya sangat menyukai seluruh sajak Aan di buku ini, dan menyambutnya sebagai sebuah perkembangan baru – meskipun sebagai penyair Aan saya lihat belum ingin beranjak terlalu jauh dari zona persajakannya.

bahasa baru_sajak AADC 2_Revius

 

“Apakah kau sedang merindukan seseorang?”

Kasir toko buku itu, perempuan tua, bertanya

ketika aku hendak membayar.

 

Kau tahu, Pablo Neruda menulis 320 pertanyaan

di buku puisi itu. Apakah kau sedang merindukan

seseorang? Pertanyaan itu membuat jumlahnya

bagai hitungan mundur. Setelahnya kubayangkan

ada ledakan.

 

Aku dan toko buku itu akan hancur.

 

Jika sajak-sajak ini hadir di dalam film, terimalah mereka sebagai sajak Rangga.  Sajak yang menjadi halkat dalam seluruh rangkaian cerita dan mengamplifikasi suara hati Rangga. Maka dalam proses kreatifnya menghasilkan buku ini, penyair Aan sesungguhnya sama saja sedang berlakon – acting – sebagai Rangga, dan wujud lakonnya adalah puisi.  Segenap pengalaman pribadinya – jatuh cinta, memiliki seseorang kekasih, membangun mimpi, patah hati, bertahan dari segala pedih – menjadi referensi Aan dalam berlakon eh menulis sajak-sajak di buku ini.

Dengan menyadari posisi ini, saya bayangkan Aan berhasil mengurai kerumitan posisinya sejak semula, sebagai mana saya taruh sebagai dugaan awal, dan hasilnya adalah sajak-sajak yang meyakinkan kita itulah sajak yang ditulis oleh Rangga. Dengan kesadaran sebagai seorang aktor, Aan menyerap bahan skenario, menonton ulang film AADC yang pertama, mungkin juga berdiskusi dengan penulis skenarionya, atau sutradaranya, atau juga berdiskusi dengan Nicholas Saputra tentang tafsirnya atas tokoh yang ia perankan, atau mendengar lagu-lagu Melly Goeslaw untuk film ini, dan menjadi follower akun-akun Instagram yang lumayan banyak memasang foto-foto streetphotography New York.

Buku puisi ini bukan karya yang lebih dahulu sudah ada lalu dicomot untuk film. Buku ini direncanakan sejak awal – bait puisi di awal artikel ini bagi saya adalah lafaz niat menyair Aan untuk buku ini, dirancang sebagai bagian dari film, puisi-puisinya hadir di dalam film, dan sekali lagi Aan memposisikan diri sebagai tokoh utama dalam film ini, ia berlakon sebagai tokoh itu dan menulis puisi sebagai suara hati si tokoh.  Itu yang sekali lagi membuat buku ini hebat dan sebagai sebuah karya, puisi-puisinya unik. Tentu saja kita juga bisa dan boleh membaca sajak-sajak ini sebagai karya yang berdiri sendiri, utuh tunggal sebagai karya sastra, sebagai bagian dari perjalanan menyair seorang M Aan Mansyur.

Tidak Ada New York Hari Ini_ReviusTidak Ada New York Hari Ini | Penulis: M Aan Mansyur | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun: 2016 | Terbit: 120 halaman | ISBN: 978-602-03-2723-5

Baca tulisan lainnya

Tentang Aan dan Kata-Kata untuk Cinta

Kamu dan Cerita yang Seharusnya Dibaca di 2015

Kita untuk Saut, Saut untuk Kita

Dunia Sialan

Bahasa Indonesia, Sehat?