Ilustrasi : Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Menjadi Kupu-kupu dan menjadi Kura-kura. Dua pilihan yang seringkali menghinggapi mahasiswa. Pertama adalah Kuliah pulang-Kuliah pulang, Sementara yang berikutnya adalah Kuliah rapat-Kuliah rapat. Saya tidak pernah memilih yang mana yang lebih baik dari kedua kategori tersebut. Silakan pilih sesuai kebutuhan. Namun, beberapa mahasiswa dari pengamatan saya kemudian masuk dalam kategori ketiga, kunang-kunang (Kuliah tenang-Kumpul senang) Merekalah tipe mahasiswa yang dapat mengatur waktu dengan apik untuk kegiatan akademik maupun ekskul. Salah satunya, Awal Safar. Mahasiswa Kedokteran ini, saya kenal sejak tahun 2014 lalu. Saat kami tergabung dalam sebuah organisasi kepemudaan. Di tengah-tengah kesibukannya menyiapkan diri sebagai calon dokter, dia sukses membangun sebuah lembaga belajar bernama School of Medicos. Lembaga belajar yang dijelaskannya dalam wawancara bersama Revius berikut ini.

Jadi, siapa sebenarnya Awal Safar?

Saya Awal Safar. Saya baru saja lulus dari Fakultas Kedokteran UNHAS prodi pendidikan dokter dan sekarang aktivitasnya lebih aktif di School of Medicos tapi masih sering mengikuti kegiatan-kegiatan kampus.

Mohon dijelaskan apa itu School of Medicos?

School of Medicos sebenarnya adalah agensi. Agensi anak fakultas kedokteran yang mempunyai passion mengajar. Nah, ini sudah ada sejak 2012 sebenarnya kami mulai ngajar-ngajar. Tapi kami tetapkan itu 1 Juli 2013. Awalnya, kami hanya iseng ngumpul-ngumpul yang suka ngajar. Terus akhirnya kami dirikan School of Medicos.

School of Medicos? Apa makna dari kata School of Medicos itu sendiri?

Jadi sebenarnya kami bercita-cita ingin membuat sebuah sekolah. Walaupun kita sudah kuliah di fakultas kedokteran yang banyak orang bilang seperti dikurung, tapi kami masih bisa mengejar passion-nya kami. Ternyata dari teman-teman dulu banyak yang mau jadi guru. Dan mustahil kalau kembali ke jalur tersebut. Akhirnya kami buat lembaga sendiri. Kami menyebutnya sekolah (school) dan mahasiswa kedokteran (medicos).

Terus pengajarnya dari mana saja?

Pengajarnya itu dari seluruh mahasiswa fakultas kedokteran yang ada di Makassar yang memiliki kapabilitas dan passion untuk mengajar. Dan, sekarang sudah mulai buka di Palu ke universitas yang ada fakultas kedokterannya.

Lembaga belajar pasti membutuhkan siapa yang ingin diajar. Nah, dari mana saja siswa-siswa School of Medicos ini?

Siswanya itu dari tingkatan sekolah sasar hingga mahasiswa. Jadi biasanya mereka daftar menjelang ujian nasional. Terus kalau mahasiswa biasanya mereka masih memprogramkan mata kuliah umum seperti bahasa inggris, matematika dll. Terus kalau dari jangkauannya itu sendiri sekitaran Makassar, Gowa, Takalar dan Maros.

Apa yang membuat School of Medicos ini berbeda dengan lembaga belajar “mainstream” lainnya?

Jadi mungkin perbedaannya yang tadi saya ucapkan dari segi pengajarnya. Terus dari program-programnya. Jadi kami School of Medicos tidak ada namanya sistem paket belajar. Kami menggunakan sistem menabung jam belajar. Jadi misalnya siswa tabungannya ada 10. Nah 10 ini siswa dapat habiskan dalam waktu 10 hari, 1 tahun, 2 tahun. Jadi tergantung siswanya kapan ingin menggunakan jam belajar tersebut.

osn Dan inovasi. Ada beberapa program yang belum ada di Makassar. Seperti kelas fokus OSN (Olimpiade). Terus proyek Semangat Belajar. Kami lihat sekolah yang jarang sekali ada lulusannya yang masuk Universitas. Biasanya kalau mereka lulus mereka langsung nikah atau kerja. Jadi kami buat ini, kami tidak memberi doktrin harus kuliah namun kami beri kesadaran belajar itu memang penting. Dan kami tidak pernah memaksa mereka untuk masuk ke fakultas ini atau itu.

Selain passion, apa sebenarnya yang melatar belakangi seorang Awal Safar ingin sekali membuat lembaga School of Medicos ini? Padahal yang saya tahu, sebagai mahasiswa kedokteran pasti sibuk dengan tugas dan lab.

Selain passion, saya melihat banyak teman-teman saya yang ingin menjadi pengajar. Namun tidak ingin terikat kontrak. Akhirnya saya membuat School of Medicos ini tidak terikat kontrak dan honornya sepadan dengan usaha mereka.

Berbicara soal inspirator, siapa yang menginspirasi Awal Safar ingin mendirikan lembaga School of Medicos ini?

Inspirasinya dari almarhum ayah saya sendiri. Jadi dulu sebelum beliau meninggal, beliau sudah membeli tanah untuk membuat sekolah. Nah dari situ saya berpikir kalau suatu saat nanti saya bisa lanjutkan cita-citanya.

Memulai sesuatu adalah hal yang sulit. Jadi siapa orang-orang yang mendukung untuk “ayomi buat School of Medicos” ini?

Pastinya teman-teman kuliah yang saat ini saya temani mengajar. Karena saya memang tidak bilang ke keluarga saya tentang ini. Baru tahun kedua, baru akhirnya saya memberi tahu. Jadi yang betul-betul mendorong dan membantu  adalah teman kuliah. Dan kami bikin yang awalnya sedikit hanya 5 orang dan sekarang sudah hampir 100-an pengajar.

Lalu saya ingin bertanya sesuatu yang lebih sensitif. Bagaimana dengan sistem pembayaran bimbingannya?

Kalau pembayarannya, dulunya menggunakan asas kepercayaan. Jadi dulu kami tidak mengharuskan bayar di awal. Jadi mereka datang belajar dan di akhir baru dibayar. Tapi ternyata banyak yang akhirnya tidak membayar. Jadi kami ikhlaskan saja dan mengubah sistem dengan mereka membeli kuota belajar di awal. Itu untuk yang les privat. Ada juga yang sistem datang-belajar-bayar.

Selama hampir 3 tahun berjalan. Bagaimana sepak terjang dan suka dukanya dalam menjalankan lembaga ini?

Hmm… suka dukanya mungkin kalau ditanya ke semua pengajar toh mereka punya cerita lucu masing-masing. Makin lama juga makin banyak yang mulai bergabung. Sukanya mungkin waktu kemarin kami menang juara lomba dan diberi penghargaan oleh Gubernur.

Jadi selain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara hehehehe apakah ada tujuan lain dari School of Medicos?

Jadi saya pernah menjadi ketua di salah satu komunitas di Makassar bernama Indonesian Future Leaders. Nah saya mengambil tiga pilar dari IFL yaitu : Pertama pengembangan kapasitas, jadi bagaimana mengembangkan kapasitasnya anak fakultas kedokteran yang dulunya memiliki prestasi, tapi sulit dibagi. Nah melalui School of Medicos mereka dapat menyalurkannya. Jadi, prestasinya tidak hanya menjadi kenangan. Kedua, pemberdayaan masyarakat, jika ada proyek sosial yang masuk, sebisa mungkin walaupun dana juga kritis, kami akan membantu. Kami memberi bantuan. Dan alhamdulillah kami kemarin juga diberi penghargaan sama pak Menteri karena kami memberi sponsor ke acara pendidikan ke pelosok. Ketiga, peningkatan ekonomi, kami mau kembangkan pembangunan negara dari segi ekonominya. Karena banyak sekali mahasiswa yang masih cari kerja setelah lulus kuliah. Kenapa tidak mereka membuat lapangan kerja sendiri dengan berwirausaha.

Bisa ceritakan pencapaian paling memuaskan dari School of Medicos selama ini?

Pencapaiannya kalau bisa dibilang lebih dikenal. Kemarin juga sudah diundang sama walikota dan diberi bantuan. Terus diberi penghargaan waktu hari sumpah pemuda sebagai wirausaha pemula berprestasi oleh Gubernur dan alhamdulillah kami sudah punya kantor. Sekarang penghasilannya kami sudah lumayan. Hingga sekarang, jumlah siswa kami sudah 500-an dan tersebar bahkan ada yang sudah lulus.

Saya juga mendengar tentang IFL. Wah, ternyata Awal juga aktif di kegiatan luar kampus. Bagaimana tips membagi waktu antara kuliah kedokteran, komunitas IFL dan School of Medicos?

Waktu menjabat sebagai ketua IFL itu, saya juga sedang mengurus School of Medicos sambil kuliah juga. Tiap hari, ada rentang waktu saya mengurusi School of Medicos. Terus di luar dari itu saya kuliah dan akhir pekan saya urus organisasi. Sebenarnya justru organisasi seperti IFL pas sekali dengan keilmuan saya. Di situ saya belajar tentang pengambilan keputusan. Hal tersebut saling menunjang. Jika kuliah memberikan hardskill, organisasi memberikan softskill.

Sebagai penutup, ada pesan dari Awal untuk pembaca Revius?

Ada dua kata, “Jadi berbeda”.

Oke, terima kasih atas waktunya Awal. Berhubung baru saja lulus, selamat menjalankan dunia koas dan tentunya sukses untuk School of Medicos-nya.

Sama-sama, Revius.


Baca artikel lainnya dari Remember The Name

Do It First, Do It Fast, Do It Your Way

Saya Benci iTunes!

Sebenarnya Film Sepatu Baru itu Salah Acuan

Saya Berharap Ilustrasiku Ibarat Lagu yang Menenteramkan Hati