Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Adam Sandler, seorang komedian, aktor, screenwriter, dan produser. Beberapa tahun belakangan ini banyak dikritik mengenai film-filmnya, baik yang diproduksinya sendiri melalui perusahaannya Happy Madison Production ataupun pihak lain yang melibatkan dirinya.

Walaupun mempunyai beberapa film yang sempat bersaing di Box Office, materi-materi dan komedi yang dia tampilkan beberapa waktu belakangan ini dianggap terlalu klise dan tidak ada pembaruan. Memproduksi sebuah film, dengan kombinasi kerja sama dengan pihak atau aktor yang sama secara berulang, bisa dikatakan buah simalakama. Di satu sisi bisa menguntungkan dengan bisa memperkirakan budget produksi atau chemistry yang sudah terjalin satu sama lain. Tapi hal ini bisa menimbulkan rasa bosan penonton. Mereka akan memandang bahwa Adam Sandler hanya membuat film yang sama atau berulang.

Pendapatan yang dicapai dari tiap-tiap film yang diproduksi Adam Sandler pun bisa jadi tidak seimbang dibanding biaya produksinya. Contoh terbaru, film “Pixels” yang disutradarainya langsung, “hanya” meraup untung $24 juta di minggu pembuka. Hasil yang sangat mengecewakan mengingat biaya produksinya yang mencapai $88 juta (sumber : boxofficemojo.com).

Kritik untuk Adam Sandler pun bermunculan dari beberapa situs. Di antaranya, The Verge, yang mengulas tentang film tersebut dan berseru untuk Adam Sandler sebaiknya berhenti saja membuat film. Ada juga tulisan yang berjudul “Adam Sandler’s inexplicable career, explained” yang menjelaskan apa yang salah dalam perjalanan karir Adam Sandler.

Kegagalan demi kegagalan dan kritik demi kritik yang ditujukan kepada dirinya, diperkirakan menjadi alasan Adam Sandler mengambil sikap untuk menutup diri dari wartawan. Bahkan sampai menetapkan kebijakan untuk tidak menerima wawancara. Ia beranggapan bahwa tidak butuh pers saat mengeluarkan (dan mempromosikan) film. Ia akhirnya dicap tidak media-friendly, hal ini juga berpengaruh ke penyebaran informasi tentang film-filmnya.

Dengan melihat fakta di atas, Adam Sandler memang gagal dan sempat terpengaruh review dan kritik. Pasca The Wedding Singer (1998) film Sandler yang pertama kali saya nonton, film-film Adam Sandler lainnya saya anggap sebagai film-film yang tidak layak ditunggu bahkan ditonton.

Tapi setelah beberapa saat, waktu itu stok film saya habis, saya membeli beberapa film-film Adam Sandler, tanpa ekspektasi tinggi dan hanya ingin hiburan untuk mengisi waktu luang. Hasilnya mencengangkan, saya melihat pola teratur dari Adam Sandler.

Adam Sandler, banyak mengangkat tema keluarga dan ikatan persahabatan (yeah it’s cliche) tapi selalu mengutamakan “Ikatan antara Anak dan Ayah”, dapat dilihat dari beberapa filmnya. Penggambaran ikatan ini digambarkan dari berbagai latar belakang keluarga, baik itu keluarga yang masih utuh, broken home, adopsi, bahkan sampai yang paling absurd. Salah satunya, Sandler digambarkan sebagai anak iblis yang mencoba menjawab kepercayaan ayahnya untuk menjadi penerus tahta di neraka (Nonton : Big Daddy, That’s my boy, The Cobbler, Bed Time Stories, Little Nicky, Click, The Longest Yard, Growns Up 1&2)

Tema lain yang diangkat Sandler yang sedikit keluar dari zona nyamannya, yaitu emosi dan bagaimana meneruskan hidup, bagaimana seseorang menghadapi masalah (but it’s still cliche) mungkin masalah mengendalikan amarah, melepas rasa dendam kepada seseorang, masalah dengan saudara sendiri, sampai menghadapi hari-hari setelah kehilangan kejayaan dan anggota keluarga karena meninggal. (The Water Boy, Punch-Drunk Love, Reign Over Me, Men Women and Child)

Dan yang beberapa dengan tema percintaan dua sejoli (it’s the most cliche things in the world but always work), dimulai dari kisah cinta yang sederhana hingga yang mengalahkan kerumitan Romeo dan Juliet. Bayangkan saja, kau orang yang susah berkomitmen namun akhirnya menemukan pasangan yang kau anggap tepat. Ternyata dia mempunyai “short time memory loss” dan kehilangan ingatannya tiap terbangun. Dan yang bisa kau lakukan adalah membuatnya ingat dan jatuh cinta sekali lagi tiap dia kehilangan ingatannya.

Tema-tema yang diangkat Sandler sangat klise, sangat pantas rasanya dia dianggap gagal. Tapi, di balik kegagalannya, Sandler hanya ingin menyampaikan suatu pesan yang mungkin tidak dapat dimengerti banyak penonton. Dengan banyaknya tema keluarga, Sandler hanya ingin menggambarkan betapa pentingnya ikatan antara keluarga itu, utuh atau pun yang telah terpecah. Juga kekuatan “Ayah dan Anak” yang terselip bisa saja adalah curahan hati tentang ikatannya dengan sang ayah. Dengan tema yang lebih emosional, mungkin Sandler ingin menunjukkan bahwa “moving on” adalah jalan terbaik daripada terpuruk (Adam Sandler pernah dipecat dari Saturday Night Live, tapi dia melanjutkan karirnya dan sekarang dikabarkan dikontrak oleh Netflix). Dan semua romansa yang digambarkan Sandler tersirat bahwa hubungan serumit apa pun bisa diselesaikan dengan cara yang paling sederhana, romantis, dan menyenangkan. Bahkan bila pacar/istrimu adalah Drew Berrymore yang kehilangan ingatan.

Setidaknya, film-film Sandler dengan semua hal klise dan formula komedi yang berulang, masih menyediakan alur yang jelas untuk dinikmati, dan berisi pesan makna yang cukup untuk dipahami. Kegagalan Sandler masih lebih bermakna dibanding film-film komedi yang parodinya hanya menabrak alur beberapa film, atau bahkan film sukses (secara komersial) tentang kumpulan robot mobil yang bermandikan ledakan. Mungkin Sandler juga fans berat Joker dan menjadikan petuahnya sebagai prinsip berkarier.

“It’s not about the money, it’s about sending a message, everythings burns!!” –Joker


Baca tulisan lainnya dari Aswan Pratama

Haruki Murakami Kurang Ajar!

Mengenal Mise En Scene Bersama Memburu Harimau

Alasan Orang Harus Memiliki Media Sosial

Lingkaran Setan Lalu Lintas Makassar

Lain Kali Ikuti Imbauan Sang Raja Dangdut

Ulat Risih Menjadi Kupu-kupu Toleransi