Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Ade Firza Paloh. Satu nama dalam beberapa tahun terakhir yang akan terlintas jika menyebut musisi yang konsisten akan karya dan kualitas. Simak saja lirik-lirik puitis nan dalam dari band-nya, SORE atau Marsh Kids. Alunan sendu maupun bernuansa optimis, dibalut kata-kata yang menyayat-nyayat, mampu membuatnya diterima sebagai satu sosok yang cukup berpengaruh dalam dunia musik Indonesia. Bukan itu saja, jiwa seni yang kuat membuatnya mampu merambah dunia seni yang lain. Ade Paloh telah lama ikut terlibat dalam berbagai film di antaranya film Pintu Terlarang (2007) karya Joko AnwarPerempuan Punya Cerita (2007), Chants of Lotus (2007), The Forbidden Door (2009), dan Parts of the Hearts (2012).

Setelah kurang lebih 15 tahun hadir di skena musik tanah air, vokalis yang pernah ikut terjun dalam dunia politik praktis tersebut, tentu saja membuat penasaran mengenai hal-hal apa saja yang menjadi faktor pendukung Ade Paloh mampu eksis disertai kualitas penciptaan karya yang tetap konsisten. Dan dalam sebuah kesempatan, Revius berhasil mengulik santapan produk budaya Ade yang pernah hengkang sekali dari SORE tahun 2010 karena merasa bosan sebelum kembali bergabung. Sebuah usaha untuk menjawab secara tidak langsung rasa penasaran di atas.

Buku

“Yang menginspirasi cukup banyak.” Ungkapnya membuka wawancara, “Seperti Gerpolek dari Tan Malaka, Das Kapital-nya Karl Marx, buku fenomenologi Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness, dan perjalanan Che Guevara dalam Motorcycle Diaries“, Judul-judul buku yang kemudian ditimpali berat oleh kami dan Billy dari band Polka Wars yang ikut tampil bersama SORE malam itu. Ade kemudian tertawa lalu melanjutkan, “Oh iya, The Catcher in the Rye dari J.D. Salinger juga.”

Puisi

Melihat dan menikmati lirik-lirik yang dibuat Ade tentu bagian ini menjadi barang wajib. Alunan puitis yang dia ciptakan, sedikit banyak tentu berangkat dari karya-karya puisi yang dia baca. Satu hal yang kemudian terbukti, “Banyak puisi karya dari Chairil Anwar yang saya suka, terutama bagian ‘Sekali berarti setelah itu mati’ itu yang paling kuat dan sangat menginspirasi saya.” Beberapa karya dari penyair asing juga tak luput ia lahap, “Robert Frost dan Walt Whitman,” Sebutnya.

Film

“Sebagian besar film Stanley Kubrick,” Ade membuka sesi film dengan cukup serius. Sebelum dijeda oleh “Konro pakai nasi”, menu yang dititip kepada personil lain untuk dipesan setelah interview. Ade melanjutkan, “Tapi yang paling utama itu adalah film dari Terrence Malick berjudul The Thin Red Line, narasi penutupnya yang mengatakan ‘All things shining‘ itu kata-kata yang paling indah.”

Musik

Dari bidang yang digelutinya selama ini, Ade menyebut nama Paul Banks dari Interpol, Cholil dari Efek Rumah Kaca, Yockie Suryoprayogo, dan Eros Djarot. Nama terakhir adalah idolanya. Dia pernah mewawancarainya secara langsung dan dimuat di salah satu media musik ternama. “Liriknya saya suka dan paling penting itu keteguhan hatinya terhadap kecintaannya kepada alam dan semua yang telah diberikan hidup kepada dirinya,” ungkap Ade bersungguh-sungguh.

Situs Web

deathrockstar.info menjadi yang pertama disebut Ade, sebuah situs musik dalam negeri. lalu Whiteboard Journal dan jakartabeat.net. “Kalau Jakartabeat buat melihat-lihat kontradiksi,” jawabnya sambil tertawa.

Sebelum menutup obrolan, tak lupa Ade mengungkapkan pendapatnya tentang skena musik Makassar, “Satu hal, kita semua saudara. Dan, yang saya sukai dari Makassar adalah antusiasme-nya tiap SORE tampil di sini. By the way, kok bisa kalian sampai tanya-tanya tentang buku, film, dan yang kayak tadi sih? doyan saya kalau ditanya kayak begini,” antusiasme Ade yang kami sambut dengan canda dan tertawa bersama sebelum saling berucap terima kasih. []

Sumber foto untuk ilustrasi dari shutterbeater.com


Baca artikel lainnya

Sempurnanya The Private Concert

SORE: Siapkan Mentalmu dalam Bermusik!

Musik Kontemporer itu Seperti Virus

Tabuhan Penutup Bunyi-Bunyian di Halaman

MusikHutan: Menemukan Makna Teduhnya Nada