Kilas balik saat digelarnya acara Indie Moviecoustic di gedung Societeit de Harmonie Makassar pada tahun 2013. Acara tersebut merupakan perpaduan antara pemutaran film indie Makassar dengan diselingi hiburan musik akustik. Ada tujuh film yang diputar, dan seingat saya, Sepatu Baru yang merupakan film kedua malam itu mendapatkan tepuk tangan paling meriah.

Kabar gembira lalu mulai berdatangan dari media-media nasional dan internasional. Film pendek berdurasi sekitar 14 menit itu meraih penghargaan. Di antaranya XXI Short Film Festival memenangkan Fiksi Naratif Terbaik dan Film Pendek Mahasiswa Terbaik dalam Apresiasi Film Indonesia. Sepatu Baru juga ditayangkan di Seoul Guro International Kid Film Festival, Tokyo Kinder International Film Festival, Special Mention untuk Sound di Brno16 Film Festival dan Desember nanti akan diputar di Singapore International Film Festival.

Padahal film pendek ini awalnya dibuat Aditya Ahmad hanya sebagai tugas akhir kampusnya Institut Kesenian Makassar.

SepatuBaruBanner

Seandainya kalau bukan karena tugas akhir, Sepatu Baru nda bakal ada?

Iya mungkin.. Karena saya sudah bilang sama rektorku waktu itu “Pak, saya nda usah mi ikut ujian dulu tahun ini (2012) deh. Tahun depan pi. Karena waktu itu saya rasa terlalu singkat sekali untuk bikin film pendek. Tidak mungkin. Sementara teman-temanku ada mi yang sudah syuting, sudah mau mi selesai tulisannya. Sementara saya masih belum dapat ide, masih buntu sekali.

Tapi, bisa dieksekusi dalam sebulan kan?

Ya, kurang lebih. Dua bulan lah. Maksudnya dari proses menulis sampai filmnya jadi.

Proses kreatif di balik Sepatu Baru, katanya Adit tinggal dekat rumah dengan mitos kayak gitu?

Sebenarnya mitos itu pertama kali saya dengar dari keluargaku yang pernah memutuskan pakai ritual itu. Waktu ada yang mau menikah. Kebetulan saya sama teman-teman punya semacam tempat nongkrongan. Kita sering nginap di sana, ada warung kopi yang hampir tiap hari kita datangi. Jadi itu lorong-lorong yang ada di set Sepatu Baru hampir setiap hari saya datangi. Semacam basecamp sih sebenarnya di sana. Nginap di sana. Terus pas bangun, pemandangan-pemandangan itu mi yang saya potret, yang saya lihat di daerah situ saya bikin di Sepatu Baru.

Itu di daerah mana?

Di Yos Sudarso. Dekatnya Pasar Cidu’. Itu unik-unik semua orangnya di situ. He he.

Adit sendiri percaya soal mitos itu?

Mitos? Ngg… apa ya? Mungkin.. saya nda tau. Percaya tidak ya? Ha ha. Nda percaya sih sebenarnya. Ha ha. Kenapa saya bikin ini ya.. kembali mempertanyakan kan sebenarnya. Budaya yang kita punya gimana nih di zaman yang.. kalau saya kan besar dengan jaman teknologi di mana kepercayaan-kepercayaan seperti itu sudah hampir mi hilang toh.. Ya itu mi mungkin yang bawa ka antara percaya dengan mitos-mitos seperti itu. Makanya pertanyaan itu terus timbul sampai saya bawa ke film. Harapannya semoga orang-orang setelah melihat film ini bisa mendiskusikan, mempertanyakan kembali gimana nih dengan mitos yang kita punya, apa nilai-nilai dari sini, dan ada jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku itu yang sampai sekarang belum sempat terjawab.

Tantangan apa yang dihadapi selama Sepatu Baru? Mulai dari pemilihan talent-nya mungkin?

Ya sempat sih kayak bayangkan siapa ya yang bisa mainkan (karakter) anak kecil, kemudian saya ingat-ingat. Di dekat kampus itu ada anak kecil, sering main, dan memang kita sudah akrab sama mereka. Terus saya teringat mi sama ini yang namanya Isfira (pemeran utama di Sepatu Baru). Isfira kayaknya paling cocok, bisa mainkan karakter yang saya pilih. Selain itu kita terbatas dengan alat, harus pinjam sana-sini. Alatnya harus ngantri karena ngantri dengan teman-teman yang lain. Itu sih. Sebenarnya waktu yang paling menyiksa saat itu. Waktu yang padat kita harus kurang tidurlah. Dalam dua bulan itu kita benar-benar kurang tidur.

Sesulit apa sih mengatur talent-talent yang ada di Sepatu Baru?

Hmm.. nda ada sih sebenarnya. Orang-orang yang selalu ji saya temui setiap hari. Kayak anak-anak yang jadi talent itu yang biasanya sering lewat-lewat di situ. Terus diganggui. Ya kebetulan dia lewat waktu itu “We, sini ko dulu!” “We, jalan ko di sini nah, lari ko di sana nah, main bola ko nanti di sini, begitu ji. Pokoknya tidak boleh ada yang lihat kamera. Main bola sana, ya itu saja konsentrasi main bola.” Begitu ji.

Pendanaannya dari mana?

Dana pribadi. Yah.. setengah dari itu minta di mama sedikit. Ya karena duit yang dikumpulkan juga dari hasil kerjaan juga nda cukup.. ya mau nda mau daripada nda selesai. Alasanku waktu itu daripada nda selesaika, bantuka dulu bikin filmku.

Ada niat untuk bikin film yang lebih panjang durasinya?

Film panjang sama sekali belum ada, tapi mungkin suatu saat tapi belum direncanakan dengan baik kapan itu, ya sementara ini cuma.. belum ada yang jadi skrip sekarang. Cuma masih berupa catatan-catatan, masih ini sih. Bikin film pendek ji dulu ini mungkin.

Screenshot Sepatu Baru

Pelajaran terbesar yang didapat selama proses pengambilan gambar?

Selain itu kan, kita harus sadar kalau ada banyak hal yang dekat dengan kita, menarik sebenarnya kalau dibicarakan. Yang paling mahal dari sebuah proses adalah tim dan teman yang solid. Itu paling mahal sebenarnya dan yang paling susah didapatkan. Ide bisalah dicari-cari, cuman tim yang solid itu yang paling susah.

Hal apa yang dibutuhkan untuk membuat suatu film yang baik?

Ide-ide sederhana aja dulu, berangkat dari situ. Sepatu Baru kan dari sesederhana bagaimana anak kecil ini mau memakai sepatu barunya. Karena hujan, dia cari cara. Ya, mulai dari ide-ide sederhana aja dulu, jangan terlalu jauh. Apa yang dekat dengan kita, pasti banyak hal-hal menarik.

Ada metode spesial selama menyutradarai film ini?

Selalu ada ide baru sih kalau di lapangan. Tapi, tidak sampai mengubah bentuk film itu. Bentuk film itu sudah jadi, base-nya sudah jadi. Tinggal detail-detail, hal-hal kecil ji yang biasa berubah. Di lapangan saya nda pernah membebani aktor untuk banyak keluar dari kenyamanan dia berakting. Selalu dengan kemampuannya dia, saya tau kemampuannya seperti apa. Saya maksimalkan kemampuannya itu. Saya selalu kasih kebebasan sih, bagaimana kau merasakan dikejar orang, kalau ada latihan, saya lihat, saya koreksi sedikit, saya ambilmi bagaimana dia mengekspresikan itu. Nda pernah saya mencoba terlalu banyak membebani “kalau bisa ekspresimu harus gini gini” Nda sih. Saya selalu kembalikan ke dia. Bagaimana ketika kau merasakan seperti ini. Terus saya lihat, “Itu dia! Ayo saya butuh seperti yang kau lakukan barusan.” Seperti itu biasanya.

Bersama Yandy Laurens dalam workshop pembuatan film di Road To XXI Short Film Festival 2015

Bersama Yandy Laurens dalam workshop pembuatan film di Road To XXI Short Film Festival 2015

Film paling pertama yang dibuat?

Film pertama yang saya buat itu mi yang pas saya pertama kenal film waktu itu saya masih SMA. Acaranya British Council. Workshop itu akhirnya menghasilkan beberapa film salah satunya filmku judulnya Pagar. Tentang anak pesantren yang fanatik dengan klub sepak bola PSM Makassar dengan banyak keterbatasan supaya bisa keluar. Mereka punya keinginan kan, ingin bisa nonton langsung di stadion. Sementara pesantren banyak sekali aturan, tidak boleh keluarlah segala macam. Akhirnya suatu hari mereka memutuskan untuk lompat pagar dan memutuskan untuk nonton PSM langsung, sebelum dia betul-betul lolos dari pagar itu, dia ketahuan.

Itu diputar di mana?

Itu ikut kompetisi akhirnya dari workshop itu, dan langsung dapat penghargaan Runner Up di kompetisi Creativity Week British Council. Itu tahun 2006. Masih SMA.

Saran buat teman-teman yang mau bikin film pendek?

Kalau mau bikin sesuatu tuh, bikin saja sih. Jujur dalam berkarya. Jangan karena ada kepentingan lain. Saya sebenarnya salah acuan membuat film Sepatu Baru karena (ada isu) IKM mau tutup. Sebenarnya saya salah, tapi kegelisahan itu sudah lama sih sebenarnya saya rasakan. Ada kegelisahan di dalam diriku, persoalannya waktu itu cuma butuhji waktu saja. Ya sebenarnya maunya sih direalisasikan tahun depan, cuma karena mau tidak mau harus syuting. Sama ya itu kembali lagi jangan karena sesuatu. Jangan karena festival baru mau bikin film ya, harus gelisah sih, dengan sekitar dengan hal-hal yang teman lihat di sekitar kita yang mungkin tiap hari dilewati, mungkin tiap hari dirasakan. Itu sih.

Jadi, jangan tunggu dulu ada festival baru mau bikin film nih?

Festival kan sebenarnya cuma ruang kan? Salah satu ruang di mana karya kita bisa diapresiasi dengan baik. Ruang di mana orang-orang bisa menonton dengan nyaman. Itu sih sebenarnya festival. Kemenangan-kemenangan itu sebenarnya cuma bonus. Yang paling penting itu sebenarnya, bagaimana karya kita bisa diapresiasi. Bagaimana orang-orang bisa menonton dengan nyaman.

Film yang terakhir ditonton?

Film India, The Lunch Box. Identitasnya kuat sekali. Saya suka nonton film-film Asia yang identitasnya kuat. Film Iran yang betul-betul gelisah dengan lingkungan mereka, dengan masalah mereka di negara mereka. Identitasnya kuat sekali. Itu sih yang banyak saya pelajari dari film-film itu.

Rekomendasi movie buat pembaca Revius?

Pokoknya jangan banyak menonton film Hollywood lah. Film Hollywood itu kalau cuma buat hiburan sih oke.

Sekarang kita main Revius’ Rapid Questions ya..

Makassar? – Makanan
Film? – Like Someone in Love
Hujan? – Kopi
Sutradara? Akira Kurosawa
Kutipan film? – Tadi saya barusan baca kutipan film Bombe sih..
Music? – Melismatis
Motto? – Masa muda masa yang berapi-api.

 

Sumber foto dari She Speaks Movies dan dilustrasi ulang oleh Herman Pawellangi| Terima kasih kepada Kine Timur