Cerita dari Andi Wasilah Yusra, tentang bagaimana “sakit”nya cara manusia memburu bahagia.

Warnet itu terletak di gang sepi antara kamar kos-kosan tua tak berpenghuni tengah kota. Gang kecil yang hanya mampu dilewati dua motor berdampingan. Catnya berwarna putih yang mulai menguning dan berjamur, sebagian sisinya mulai terkelupas. Pintunya besar juga berat, terbuat dari kayu mahoni dengan engsel berkarat dan gagang tua berawarna emas. Terdapat papan tua yang berdiri tepat di depan bangunan itu, tingginya hanya sekitar satu setengah meter dan tulisannya mulai memudar. Di sana tertulis, WARNET. Ya, hanya warnet, tidak ada tambahan lainnya. Tapi tidak akan ada yang menyangka, ada sesuatu yang lain di dalamnya.

Pagi itu terlihat beberapa orang memasuki warnet-di-gang-sempit-itu. Padahal biasanya, sepanjang tahun, hanya dua orang yang bolak-balik saat jam makan: penjaga warnet tersebut.

Pria ke-empat masuk. Berjalan sedikit tergopoh-gopoh sambil memegang handphonenya, memastikan alamat yang dituju tidak salah. Dengan ragu didorongnya pintu yang ternyata lebih berat dari perkirannya itu. Di dalam ruangan yang di masukinya, hanya terdapat empat bilik dengan komputer tabung entah produksi tahun berapa. Tiga lainnya sudah terisi. Pria itu duduk di bilik yang tersisa, meletakkan barangnya dan meilirik jam dinding antik yang memiliki gong bergoyang. Saat gong itu bergemuruh keras, muncul cahaya luar biasa terang dari keempat komputer tersebut, penjaga warnet yang asik dengan komputer dan rokoknya seolah tidak melihat apa apa, dan sekian detik kemudian empat orang pemuda itu hilang dari tempat duduknya.

***

“Selamat datang, calon agen!” Seorang wanita bertubuh gempal dengan hidung lebar, melebarkan tangannya, tersenyum bahagia menyambut empat pria yang masih setengah sadar. Butuh sekian detik untuk para pria tersebut menormalkan kembali ukurang pupil mereka akibat cahaya terang dari layar komputer tadi.

“Hai agen! Perkenalkan nama saya Agen El. Di Happiness Hunter Academy saya bertugas membimbing calon agen untuk tahap awal. Kalian adalah calon agen yang kami pilih dari sekian banyak manusia berusia 20-an di kota ini melalu seleksi rahasia. Baiklah tanpa berlama-lama, mari kita mulai pelajaran awal kita hari ini.”

Pria berbaju kuning gelap beberapa kali mencoba mengangkat tangannya. Dia masih belum mengerti mengapa mereka bisa berpindah tempat ke sebuah ruang putih terang berisi lima pasang meja dan kursi serta papan tulis ini, namun sayangnya tak mendapat tanggapan dari wanita di hadapannya yang malah sibuk menuliskan sesuatu di papan tulis transparan.

Masih sibuk menuliskan kata di papan sambil membelakangi keempat pria tersebut, wanita itu berkata, “Oh ya, kalian tidak usah mempertanyakan hal yang sedang menggerogoti kepala kalian sekarang. Cukup fokus pada pelajaran hari ini, karena kalian akan mengerti sendiri nanti. Dan juga kalian bisa memanggil saya Ms. El.”

#Lesson 1 : Your happiness is not my happiness

“Menurut kamus bahasa Indonesia, bahagia merupakan  keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Apa ada pertanyaan? Atau tanggapan?” tanya Ms. El seraya berjalan mengelilingi siswanya yang belum tersadarkan 100 persen itu, “baiklah kalau tidak ada pertanyaan silakan tulis di kertas di atas meja kalian, apa yang akan membuat kalian berbahagia. Setelah selesai, silakan bergilirian berdiri dan menjelaskan alasannya.”

Ms. El menepuk bahu pria berkemaja kusut, menyuruhnya untuk berdiri pertama. Pria itu menggaruk kepalanya bingung dan berdiri dengan ragu sambil mengangkat kertas, saat ingin menyebutkan nama, Ms. El menegurnya dengan meletakkan telunjuk di bibir. Sudah kesepakatan dari awal sebelum mereka dikirim ke sini untuk menjaga rahasia identitas masing-masing.

“Engg, saya selesai sarjana lima tahun lalu, dan kerja jadi pegawai kontrak,” katanya sambil menggaruk-garuk kepala, “lima kali saya tes jadi pegawai tetap tapi mungkin belum rejeki saya. Karena itu saya tulis karir di sini” jelasnya sambil menunjuk kertas yang dipegangnya lalu duduk kembali dengan kikuk.

“Saya bekerja di sebuah BUMN, sebagai manajer,” kata pria kedua melanjutkan yang diselingi deheman, “Sejak SMA sekitar lima kali saya menjalin hubungan dengan wanita dan semua berakhir dengan, yah, singkatnya saya diselingkuhi. Akibatnya,” hening sejenak, pria itu memutar bola matanya, “saya menderita phobia tidak bisa berhubungan dengan satu wanita. Itulah kenapa saya membutuhkan kepercayaan kembali untuk menjadi bahagia,” pria berkaos hijau pucat dengan kerah itu tersenyum malu sambil mempersilakan pria di sebelahnya.

Pria ceking berkaos usang dengan kerah yang sudah melar itu tersadar dari lamunannya, “Ma-maaf, sedikit melamun ka’ tadi,” katanya sambil buru-buru berdiri dan mengangkat kertas bertuliskan uang, “Keluargaku’ jauh dari kata cukup. Berhentika’ sekolah waktu umur 12 tahun, karena tidak bisaki orang tuaku bayar uang sekolahku dan tiga adekku bersamaan. Ibuku kerja jadi tukang cuci, bapakku tukang jahit sepatu,” ada raut sedih yang berusaha disembunyikan di balik wajah jenakanya, “jadi karena biasa tidak cukupki beras, ganti-gantianka puasa sama ibu-bapakku, yang penting adek-adekku bisa makan teratur. Jadi itumi kenapa saya tulis uang di kertasku.”

Ruangan menjadi sedikit lebih hening dari sebelummnya, namun segera dicairkan dengan ketukan jari Ms. El pada meja menyuruh pria terakhir berbaju kuning gelap itu melanjutkan.

“Mewarisi lima bisnis keluarga dan masuk dalam jajaran figur berpengaruh ternyata tidak membuat saya bahagia,” dilonggarkannya simpul dasinya sembari melanjutkan, “saya memiliki rumah besar yang saya tempati sendiri. Papa saya meninggal karena dibunuh, dan segera setelah mendengarnya mama saya terkena serangan jantung dan menyusul suaminya. Om dan tante-tante saya sibuk berebut saham, saya tidak memilki teman karena sebagian besar hanya penjilat yang ingin mengambil keuntungan. Lebih sering saya merasa hampa, mungkin karena tidak ada lagi cinta tulus yang saya dapatkan.”

Ms. El meletakkan tangannya di atas meja, masih melanjutkan mengetuk-ngetukkan jarinya. Seperti sedang berpikir ingin memulai dari mana.

#Lesson II : The Hierarchy

Maslows-Hierarchy-of-Needs_sm_revius

Ms. El menampilkan sebuah gambar di papan tulis melalui proyektor yang entah dari mana, “Dari deskripsi kalian saya rasa ada dalam piramida ini. Semakin ke atas akan semakin meruncing yang artinya akan semakin mendekati kebahagiaan. Bukan merupakan hal yang tidak mungkin setiap manusia memiliki semua elemen dari piramid di atas, namun akan sangat jarang terjadi. Kalian mungkin akan kaya, namun kaya memiliki resiko lebih berbahaya dan memiliki semakin sedikit waktu untuk bersama keluarga, kalian mungkin miskin namun memiliki keluarga yang lengkap, istirahat yang cukup dan pasangan yang setia, kalian mungkin memiliki segalanya namun memiliki penyakit menahun yang siap merenggut nyawa kapan saja. Namun ketidaksempurnaan itu apakah berarti kalian tidak bisa bahagia?

#Lesson III : We Are Happy

“Perhatikanlah dari definisinya, walaupun mungkin definisi tidak bisa mewakili segalanya atau cukup mengekspresikan bagaimana rasanya. Bahagia adalah tentang senang dan tentram. Tidak berlaku hanya dengan salah satunya.” Ms. El menjelaskan lagi sambil bolak-balik di depan papan tulis, “Bahagia sangat sederhana, tapi jangan pernah berpikir mendapatkannya dengan sederhana. Indonesia sudah terlalu ramai dengan konfliknya. Dimulai dari korupsi sampai pembunuhan. Tidakkah sudah sangat jelas tersiratkan alasannya?”

“Bukankah tindak kejahatan ada karena kurang puas atau kecewa dengan apa yang dimiliki? Lalu bisakah manusia puas? Tentu saja tidak. Lalu bagaimana mengatasinya? Ini akan menjadi tugas pertama kalian, silakan tulis di atas kertas di hadapan kalian dan kumpulkan di meja saya.”

Setelah mengumpulkan kertas ke empat pria tersebut, Ms. El menambahkan, “Yang terpenting dari bahagia adalah jangan bahagia sendirian. Itulah alasan diciptakannya Academy ini. Setelah lulus dari sini kalian akan menjadi agen-agen kebahagiaan nasional yang akan kami turunkan ke lapangan dengan harapan mampu mengurangi tindak kejahatan dan bunuh diri. Robert Green Ingersoll berkata, the time to be happy is now, the place to be happy is here, the way to be happy is to make others so. Sampai jumpa di pelajaran berikutnya!”

Ms. El melangkah menuju pintu sambil membawa kertas jawaban, namun dihentikan dengan pertanyaan pria berkaos usang, “Ms. El, apakah ini semua nyata? Maksud saya, tempat ini dan anda.”

Ms. El tersenyum tipis, “tentu saja tidak. Namun kalian nyata, bukan?” []

Image source: freepik.com


Baca tulisan lainnya dari Andi Wasilah Yusra

Bahagia Bukan dengan Ukuran

Apalah Arti Bercurah Hati, Jika Friendzone

Si Jomblo Squidward

Cerita Cinta Pertama

Sedih Karena Patah Hati? Mari Bersyukur

Ada Harapan di Setiap Tindakan