Sumber Gambar: Color Force - Lionsgate

Alasan mengapa saya menyelesaikan seri The Hunger Games, karena saya menyukai Katniss Everdeen. Saya selalu melihatnya sebagai pejuang, bukan semata-mata sebagai objek seksual di mana perempuan muda terjebak di antara dua cinta. Terima kasih untuk Francis Lawarence, sang sutradara yang di Tiga seri terakhir juga memperlakukan Katniss dengan cara demikian.

Tapi sekali pun Katniss memang terjebak cinta segitiga, saya rasa itu adalah hak istimewa. Hanya saja anggapan klasik sebagian besar orang adalah saat tokoh utama perempuan dalam keadaan seperti itu maka itu hal yang labil, sedangkan jika tokoh utama laki-laki yang terlibat cinta segitiga maka itu hal yang wajar.

Penciptaan Katniss adalah bagian dari revolusi figur perempuan tangguh dalam perkembangan film, figur yang tidak menggunakan daya tarik seksualnya untuk memenangkan pertarungan. Beruntunglah Katniss, walau hidup di peradaban masyarakat yang tersiksa di bawah tirani, tapi setidaknya maju dalam hal persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Tapi bukan hanya tidak memiliki daya tarik seksual, Katniss juga tidak memiliki kekuatan yang mematikan. Kualitas yang ada dalam dirinya yang saya rasa berhasil memenangkan hati para pengikutnya adalah karena dia selalu jujur pada dirinya sendiri dengan modal tekad yang kuat.

Sosok Katniss adalah bagian dari revolusi figur perempuan tangguh dalam perkembangan film, figur yang tidak menggunakan daya tarik seksualnya untuk memenangkan pertarungan.

Sosok Katniss adalah bagian dari revolusi figur perempuan tangguh dalam perkembangan film, figur yang tidak menggunakan daya tarik seksualnya untuk memenangkan pertarungan.

Katniss yang kita temukan sejak seri The Hunger Games pertama adalah dirinya yang kita temukan juga di seri penutup ini, karakternya tidak pernah berubah, hanya tekadnya saja yang terus bertumbuh.

Tak ada banyak plot yang bisa saya ceritakan di Mockingjay – Part 2, seperti yang sudah kita perkirakan ini adalah kelanjutan perjuangan Katniss bersama timnya untuk mengakhiri masa pemerintahan tirani Presiden Snow, di mana dalam usahanya untuk menaklukkan Capitol, dia juga harus mewaspadai kehadiran Peeta Mellark yang selalu bersiap membunuhnya.

Sebagai seri penutup, Mockingjay – Part 2 tentu saja diharapkan oleh banyak penonton untuk menghadirkan aksi-aksi yang bombastis, karena bagi mereka ini adalah sebuah tradisi, bahwa sebuah seri penutup haruslah demikian, tapi Francis Lawrence melakukan hal berbeda bukan bagian dari tradisi. Sama halnya seperti Part 1, Part 2 ini masih dihadirkan dengan drama bernuansa kelam, dengan aksi-aksi menegangkan yang mampu dihitung jari tapi muncul di waktu-waktu yang tepat.

Suzanne Collins, penulis novel sekaligus cerita film ini mungkin ingin memperlihatkan bahwa di bagian bumi mana pun dan di era mana pun, war is nothing but vanity. Perang harusnya bukanlah peristiwa yang glamour yang ketika disaksikan lewat sebuah layar besar kita dibuat berdecak kagum, perang harusnya menyakitkan, dan dengan arahan Francis Lawrence pesan tersebut tersampaikan begitu jernih. Francis tidak ingin menghibur penontonnya dengan perang yang epik, yang ia inginkan adalah penontonnya merasakan apa yang Katniss rasakan.

Melalui The Hunger Games, Suzanne Collins menyampaikan bahwa keputusan berperang hanyalah sia-sia, karena bakal merugikan banyak hal. Seperti yang dihadapi Katniss dalam kehidupannya.

Melalui The Hunger Games, Suzanne Collins menyampaikan bahwa keputusan berperang hanyalah sia-sia, karena bakal merugikan banyak hal. Seperti yang dihadapi Katniss dengan pilihannya untuk tetap melindungi keluarganya.

Jika ada satu hal yang saya takutkan akan menjadi titik kelemahan dari Mockingjay Part 2 itu adalah cara Francis Lawrence nantinya mengeksekusi akhir kisah cinta Katniss. Tapi ketakutan saya tidak terbukti, kisah cinta Katniss tidak pernah mengacaukan misi dan timnya untuk membunuh Presiden Snow. Francis justru membuat akhir kisah cinta yang tak terduga. Baiklah, banyak penonton yang mungkin sudah menebak dengan siapa Katniss pada akhirnya, tapi kuncinya bukan terletak di “siapa”, melainkan “bagaimana”. Bagaimana Katniss bisa berakhir dengan pasangan hidupnya tersebut menjadi bagian yang tak terduga, kecuali mungkin bagi orang-orang yang pernah membaca novelnya. Francis berhasil memperlihatkan kepada penonton bahwa Katniss bukanlah perempuan labil yang galau di antara dua cinta, dia adalah perempuan yang independen, yang perjalanan cintanya bukanlah inti dari perjalanan hidupnya. Perang bahkan hampir membuatnya lupa bahwa ia pernah mencintai dua laki-laki.

Jika gambaran saya di atas justru mungkin mengecewakan beberapa penonton yang baru ingin menyaksikannya, percayalah bahwa yang satu ini tidak akan mengecewakanmu, akting Jennifer Lawrence. Sebuah nilai plus bagi Katniss bahwa ia dimainkan oleh aktris muda yang dipilih bukan semata-mata karena sedang digilai banyak orang, tapi juga karena bakat alami aktingnya telah teruji di banyak film, dan jika Katniss diharapkan menjadi figur yang disukai banyak orang maka Jennifer Lawrence melakukannya dengan sangat baik. Tak sekali pun aktingnya jatuh dalam adegan atau ekspresi yang salah, sebuah penampilan yang memang lebih mementingkan bagaimana agar terlihat tangguh ketimbang semata-mata terlihat cantik. Jika dalam seri X-Men, Jennifer menjadikan Mystique sebagai jagoan bertubuh biru seksi yang membuatmu berkhayal karena kemungkinan ia setengah telanjang, maka Katniss akan dikenang karena hatinya, yang perjalanannya ibarat sebuah rangkuman yang memperlihatkan perbedaan makna menjadi seorang pejuang dengan menjadi seorang pemimpin.

THE HUNGER GAMES: MOCKINGJAY - PART 2
the-hunger-game-mockingjay-part-2-poster-wallpaperSutradara: Francis Lawrence | Tahun: 2015 | Genre: Drama, Action | USA |Rating : 4 / 4 Stars

Baca ulasan film lainnya dari Kemal Putra

Renungan Terbaik untuk Sebuah Pilihan Hidup

Kisah Berharga yang Patut Diceritakan

Cermin Dunia Pendidikan Masa Kini

Selera Humor yang Terpelihara di Tengah Kemelut Bertahan Hidup

Ego yang Lenyap dalam Hati Bajrangi

Kesedihan di Tengah Tawa

Roman Hitam Putih Kehidupan Siti

Kegilaan Superhero yang Ingin Tenar Kembali