Menulis dan aktivisme adalah dua hal yang akan sangat besar dampaknya jika dilakukan secara beriringan. Secara umum, menulis dan aktivisme dapat menjadi sebuah aksi yang bertujuan untuk mengajak, mengkritik sesuatu, bahkan mengubah pola pandang dan perilaku Masyarakat.

Banyak perubahan-perubahan sosial yang terjadi karena aktivisme. Aktivisme kemudian memiliki banyak wadah untuk disalurkan. Ada yang menggunakan media dan ada juga yang menggunakan aksi solidaritas. Namun pada intinya sama, merujuk pada perubahan.

Salah satu pre-event Makassar International Writer Festival 2015 kemudian menyelenggarakan workshop dan diskusi Writing and Activism pada hari Minggu (3/5) lalu. Aktivisme dan Menulis yang menjadi tema, kemudian diartikan Moderator, Akbar Zakaria, sebagai aktivisme damai. Pembicara yang hadir untuk memberikan pengetahuan dan pengalamannya adalah Penerbit Inninawa, Kedai Buku Jenny, Rumah Baca Philosophia, dan Revius sebagai pemandu.

Ketiga Pembicara dan Moderator di Workshop Writing adn Activism

Ketiga Pembicara dan Moderator di Workshop Writing and Activism

Saya yang hadir mengikuti workshop turut mendengarkan para pembicara-pembicara ini menceritakan suka-duka-pengalaman-kendala-dan-harapan mereka dengan dunia menulis dan aktivismenya. Ulasan dari materi mereka akan saya rangkum di bawah ini. Semoga yang membaca bisa memperoleh euforia dari semangat dan usaha mereka berkaitan dengan menulis dan aktivisme.

Anwar Jimpe Rahman (Penerbit Inninawa)

Jimpe, begitu ia biasa disapa. Lelaki lulusan Hubungan Internasional Unhas ini bekerja di Inninawa dan aktif di komunitas Tanah Indie. Tanah Indie sendiri berdiri pada tahun 1999, setahun setelah reformasi dan diinisiasi bersama teman-temannya di kampus. Lalu, pada tahun 2004, Inninawa lahir. Resmi bekerja di Inninawa setahun berikutnya pada tahun 2005.

Inninawa sendiri berdiri dengan fokus penerbitan. Buku terbitan dengan label Inninawa,  dalam 10 tahun terakhir telah memproduksi 30-40 buku. Kajian lokal kemudian menjadi kajian yang penting dan unik. Bagaimana kajian lokal merangkul kajian kuliner dan tempat wisata bisa menjadi inspirasi untuk liputan feature yang lebih berwarna.

Inninawa sendiri hadir untuk melawan arus informasi yang masih manual. Di mana saat zaman dahulu kala, kebutuhan akan buku besar namun ketersediaan buku masih kurang. Jawa kemudian menjadi tempat membeli buku yang paling lengkap. Meminta tolong untuk dibelikan buku  kepada teman yang akan berkunjung ke Jawa kemudian melatar belakangi Inninawa hadir.

Salah satu tujuan Inninawa sendiri sebagai jembatan masyarakat dengan teks-teks bahasa asing yang sebenarnya bertema lokal dan budaya. Begitu banyak buku dalam bahasa inggris dan Inninawa kemudian bertekad untuk menjembatani itu. Inninawa menerjemahkannya kemudian menerbitkannya. Namun, proses penerjemahan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Satu kata saja, dapat dijelaskan artinya dengan membaca kurang lebih tiga buku.

Warisan Arung Palakka (terjemahan), Mks Nol Kilometer, Persuami-Istrian Suku Bugis, Perkawinan Bugis (terjemahan) dan Pakkurusumange’ kemudian menjadi karya terbitan Inninawa yang laku di pasaran.

MakassarNolKm.com kemudian menjadi upaya dari ide Inninawa untuk terus memproduksi tulisan-tulisan. Website yang kemudian bekerja secara anarki. Anarki yang bukan berarti merusak. Dalam istilah politik, diartikan : semuanya sama. Dengan nafas jurnalisme warga, website ini masih aktif sampai detik ini.

Peserta Workshop yang hadir dari berbagai kalangan. Mahasiswa, Aktivis dan Blogger.

Ilham (Rumah Baca Philosophia)

Rumah Baca Philosophia hadir karena inspirasi dari Kedai Buku Jenny dan Inninawa. Latar belakang terbentuknya sendiri berasal dari  Hadist Nabi yang di mana seseorang jika mati akan ada sesuatu yang ia tinggalkan: meninggalkan ilmu yang bermanfaat bagi manusia, meninggalkan sarana dan prasarana, dan memperoleh kesalehan. Intinya, menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat. Rumah Baca Philosophia kemudian berusaha mencapai kebaikan-kebaikan tersebut.

Rumah Baca Philosophia dapat menjadi bentuk tanggung jawab kita sebagai manusia yang memiliki pengetahuan. Berdiri sejak tahun 2008, Rumah Baca Philosophia telah memiliki kurang lebih 5000 judul buku yang dominan ke sastra. Diskusi, bedah buku, dan film kemudian menjadi agenda dari Rumah Baca Philosophia ini.

Sesi Tanya Jawab dan Diskusi mengakhiri rangkaian Workshop Writing and Activism

Sesi Tanya Jawab dan Diskusi mengakhiri rangkaian Workshop Writing and Activism

Bobhy ( Kedai Buku Jenny)

Bermula dari pengalamannya penuh inspirasi saat kuliah di Jogja, Bobhy sering mengunjungi pertunjukkan-pertunjukkan musik dari satu tempat ke tempat lainnya. Hingga dipertemukan dengan band Jenny, sebuah band yang dianggap memiliki kebiasaan unik dari kelompok musik pada umumnya. Sehabis nampil, band ini memberikan ilmu kesetaraan pada anak SMP dan SMA di angkringan. Etos ini kemudian melatarbelakangi dibentuknya Kedai Buku Jenny di Makassar.

Cita-cita membangun kedai buku sebenarnya bermula pada tahun 2005. Sempat membuat sebuah toko buku yang kemudian vakum di tahun 2008. Tak ingin patah semangat, kemudian dirintislah Kedai  Buku Jenny. Misi besarnya kemudian sesederhana ingin mendekatkan musik dan buku. Melihat fenomena komunitas buku kemudian hanya dekat dengan lingkungannya sendiri. Kedai Buku Jenny kemudian berusaha mencoba mendekatkannya dengan segmen musik.

Membuat perpustakaan Malala (nama diambil dari Malala Yusafzai, aktivis HAM dan pendidikan bagi wanita di Pakistan) dan juga  membuat penerbitan buku adalah usaha-usaha Kedai Buku Jenny dalam menginsiasi karya-karya penulis yang belum percaya diri untuk menerbitkan karyanya.

***

Tokoh-tokoh yang menjadi pembicara di atas kemudian memberikan inspirasi untuk saya. Bahwa sebesar apapun ide dan semangat yang kita miliki untuk sebuah passion, akan lumpuh jika tidak dikerjakan bersama-sama. Yeay!


Baca tulisan lainnya dari Chairiza

Sumur, Bersin, Mangga dan Jahitan di Makassar in Cinema

Cuplikan Ide Cerita Makassar In Cinema #2

Berkampanye di Media Sosial

Yang Berbatu, Yang Ber-AKSI

Tujuh Postingan Mengganggu di Instagram

Wabah Positif Bernama Flu Hijab

Menyibak Rahasia Gemerlap Malam Ibukota

Tujuh Buku Bagus yang (Ternyata) Ditulis oleh Teman-Temanku

Appabotingeng ri Tana Ugi

Ruang Kreatif: Wadah Baru untuk Karya Indie Makassar

Berburu Barang Berkualitas dengan Harga Miring

Ada Apa dengan Gelar Bangsawan?

Berkreasi dengan Pipa