Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Awal Juni di Katakerja, saya menyempatkan diri untuk bertemu dan berbincang dengan Andi Asyhary. Mungkin belum begitu banyak yang tahu atau peduli dengan namanya. Saya sudah lama mengenali sosoknya, karena terlalu sering melihatnya di berbagai workshop atau screening film di Makassar. Tak pernah terlintas di pikiran saya kala itu bahwa ternyata ia juga sudah aktif membuat film skala kampus. Asyhary merupakan mahasiswa di Institut Kesenian Makassar yang tahun ini, bisa dibilang ambisius, menghasilkan dua film pendek. Pelangi dan No Rain for Tomorrow adalah dua film buatannya yang juga diputar dan dinominasikan di Pekan Film Makassar 2016.

Dua judul tersebut, menggunakan fenomena alam; pelangi dan hujan, tapi keduanya mengangkat kisah yang sama sekali berbeda. Pelangi mengangkat kisah anak kecil dari keluarga ekonomi kelas bawah yang berharap dibelikan pensil warna oleh ibunya. Sementara No Rain for Tomorrow adalah film yang begitu jeli dan peduli dengan lingkungan di sekitar. Bahwa di kota seperti Makassar, masih ada kelompok tertentu yang hidup ibarat di desa-desa miskin di benua Afrika, di mana orang-orang ini harus mencari sumber air jauh dari rumah mereka, sementara banyak di antara kita sudah punya akses PAM di rumah.

“Penonton mungkin cuma mengira Pelangi hanya kisah seorang anak kecil yang menginginkan pensil warna, padahal sebenarnya anak kecil ini rindu sosok bapaknya yang telah tiada,” Ungkapnya. Jika diperhatikan hanya ada dua karakter di dalam Pelangi, yaitu ibu dan anaknya. Sementara bapaknya hanya bisa ditemukan dalam gambar yang si anak buat. “Beberapa waktu lalu, ketika saya mengunjungi JAFF (Jogja-NETPAC Film Festival), saya sempat mengikuti pembahasan tentang semiotika yang memberi saya semacam syok semiotika. Ini menginspirasi saya membuat film dengan makna tersirat. Ide cerita pertama saya sempat berkali-kali ditolak oleh pembimbing saya, hingga akhirnya ditulis berulang-ulang dan akhirnya muncullah Pelangi. Pelangi dikisahkan lebih naratif dari cerita yang sebenarnya, tetapi tetap memiliki kesan semiotik yang memang ingin saya sampaikan,” Ungkap Asyhary ketika saya menanyakan tentang cerita di balik Pelangi.

Asyhary kemudian melanjutkan cerita di balik No Rain for Tomorrow, “Film ini sebenarnya dibuat karena waktu itu saya mendapat tugas editing yang mengharuskan saya mengaplikasikannya ke dalam bentuk cerita. Kisah film tersebut diperoleh dari hasil riset saya selama berbulan-bulan di Workshop (Nama daerah di Pintu 1 Universitas Hasanuddin). Riset cerita ini tadinya termasuk bagian dari project Andi Burhamzah yang ingin membuat film omnibus berlatar tempat di sekitar Workshop. Usaha saya mencari informasi di sekitar workshop untuk dibuat ke dalam cerita mengiring saya menemukan beberapa fakta, termasuk permasalahan orang-orang sekitar dengan mahasiswa Unhas. Namun, akhirnya saya memilih persoalan kekurangan air di sana. Ide cerita inilah yang kemudian saya filmkan menggunakan metode cross-cutting yang menyatukan dua cerita yang tadinya berdiri sendiri, seperti yang kita saksikan di No Rain for Tomorrow. Satu cerita tentang orang-orang yang sedang mencari air, satunya lagi tentang seorang mahasiswa yang sedang mandi.”

Menariknya, satu dari dua film buatan Asyhary tidak hanya berhenti di Makassar saja. Kedatangan Yosep Anggi Noen di Seascreen Academy Maret lalu memaksanya mengumpulkan keberanian untuk bertemu langsung dan meminta pendapat Anggi mengenai kedua filmnya. “Mas Anggi sudah berbaik hati mau menemui saya di lobi hotel pagi-pagi sekali waktu itu. Sebelumnya saya memang sudah bertemu dengannya di JAFF. Ketika ia menyaksikan film-film saya, saya sebenarnya sudah siap dibantai, tapi justru setelah menyaksikannya, Mas Anggi mendorong saya untuk membawanya ke festival film. Mas Anggi pun ketika pertama kali belajar membuat film, ia selalu rajin mengikutsertakan film-filmnya ke festival, entah itu filmnya dinilai jelek atau bagus.”

Pelangi akhirnya menjadi filmnya yang berhasil tayang dan dinominasikan di beberapa festival film, seperti Festival Film Indie Lampung dan Festival Film Surabaya, dan kini sedang diikutsertakan di UI Film Festival. Keikutsertaan filmnya di festival diakui Asyhary memberi ia banyak pengalaman. Bertemu dengan sesama pembuat film dari berbagai kota di Indonesia, bertukar serta berbagi gagasan dan ide. Ketika saya menanyakan adakah rekan sesama pembuat film-nya di Makasar yang juga mengambil langkah yang sama tahun ini pasca Pekan Film Makassar, Asyhary tidak begitu yakin. “Saya pikir cuma saya yang mengambil langkah ini. Film saya yang tayang di festival film di Lampung dan Surabaya adalah satu-satunya dari Makassar. Entah apa alasan rekan-rekan saya tak ingin ikut serta, padahal peluang mereka untuk lolos sangat besar, mengingat saya merasa film saya tidaklah lebih bagus dari film mereka” Ia juga berharap agar kelak filmnya juga bisa tayang di JAFF, tapi tentu bukan sekarang. Menurutnya Pelangi (atau No Rain for Tomorrow) belum bisa masuk di festival sekelas JAFF, festival film dalam negeri yang begitu ia kagumi.

Bisa menghasilkan dua film, bisa membawa salah satunya ke beberapa festival film, mendapat banyak pengalaman dari situ, tentu belum bisa dijadikan bahan berbangga diri bagi Asyhary. Masih banyak yang perlu ia capai, ia berulang kali berucap bahwa ia belum ada apa-apanya kecuali mungkin ia bisa menyamai prestasi Aditya Ahmad atau Wregas Bhanuteja. Ia juga sempat menyebutkan nama-nama seperti Dheksa Mahesa Amry, Andi Burhamzah, Rezkiyah Saleh Tjako, Rusmin Nuryadin, dan masih banyak lagi yang sulit saya ingat namanya satu per satu yang menurutnya ambil andil dalam proses pembuatan film-nya hingga ke festival.

Berbicara mengenai siapa yang menginspirasi ia dalam membuat film, Asyhary lalu mengenang Laskar Pelangi. “Saya terhubung dengan cerita dalam Laskar Pelangi. Menginspirasi saya untuk mengejar impian saya menjadi pembuat film”. Ini jugalah mungkin yang membuat Asyhary menjadikan Riri Riza sebagai sosok sutradara panutan, di samping Angga Dwimas Sasongko. “Saya mengagumi mereka berdua. Menyaksikan film-film Kak Riri bagi saya seperti sedang tidak menyaksikan film, tapi dibawa langsung mendekati realitas yang ada. Selain memiliki kemampuan membuat cerita yang bagus, film-film karya Kak Riri dan Angga Dwimas Sasongko juga kerap sukses secara industrial. Jadi, saya pikir jika ingin membuat film, harus bisa seperti film-film mereka. Punya cerita yang baik dan harus punya penonton yang luas.”

Asyhary kemudian menambahkan tentang kegirangan para sineas lokal yang selalu berusaha berbicara kearifan lokal dalam film-film yang mereka buat, “Saya tidak selalu tertarik harus berbicara kearifan lokal dalam film-film yang saya buat. Karena kenyataannya, banyak pembuat film yang ingin berbicara kearifan lokal, tapi justru akhirnya bukan film yang mereka buat, melainkan rekaman budaya. Hampir tak ada cerita yang bisa dikulik di dalamnya, hanya kearifan itu semata”, tuturnya. Saat ini Asyhary juga sedang bersiap menggarap dua film pendek baru. “Saat ini saya sedang membantu teman saya mengarap film pendek barunya, jadi bisa dibilang saya sebagai produser di situ. Selain itu, saya juga sedang mempersiapkan film pendek saya yang lain. Teman-teman saya masih banyak yang mengajak saya mengikuti festival-festival film, tapi pekerjaan tersebut melelahkan dan jika saya terlalu sibuk mengikuti festival, saya jadi berpikir tidak punya waktu untuk membuat film lagi.”

Mengurusi film ke festival yang membuat lelah ini jugalah yang jadi sorotan Asyhary terhadap kondisi perfilman di Makassar sekarang, “Menjadi pembuat film di Makassar, yah harus siap-siap menjadi segalanya. Harus bisa bikin film, lalu setelah filmnya jadi harus dipikirkan juga mau diapakan, mau dibawa ke mana, mau diputar di mana. Padahal jika ada satu lembaga atau pihak yang bisa mengurusi distribusi atau pemutaran film-film ini, tentu pekerjaan kami sebagai pembuat film akan lebih ringan,” ungkapnya.

Persoalan lain menjadi pembuat film bagi Asyhary adalah orang tuanya masih sulit menerima pilihan karirnya. “Ibu saya masih mengharapkan saya kelak menjadi pegawai negeri. Itu sebabnya demi memuaskan keinginannya, selain kuliah jurusan film dan TV di IKM, saya juga kuliah jurusan Komunikasi di UPRI. Saat ini, saya masih dalam tahap pembuktian kepada orang tua bahwa pilihan karir saya adalah yang tepat. Jika film-film saya lolos di festival, saya pasti memberi tahu mereka. Bahkan ketika terpilih sebagai produser terbaik di ajang penghargaan film kampus, P3TV Awards, saya harus meyakinkan ibu saya untuk hadir agar bisa menunjukkan piala saya kepada beliau di hadapan seluruh tamu,” kenangnya sambil tersenyum.

Kekagumannya terhadap film-film Riri Riza, lalu tantangan yang ia hadapi dari orang tuanya, mungkin menjadi salah satu aspek yang membuat Asyhary berharap kelak bisa membuat film panjang seperti Laskar Pelangi, “Saya berharap kelak bisa membuat film panjang dan jika itu berhasil terwujud, saya berharap film saya bisa menginspirasi banyak orang.”

Simak trailer dari film Pelangi dan No Rain for Tomorrow karya Andi Asyhary berikut ini.


Baca tulisan lainnya

Sebenarnya Film Sepatu Baru itu Salah Acuan

Saya Seniman yang Ingin Bersenang-senang

Saya Berharap Ilustrasiku Ibarat Lagu yang Menenteramkan Hati

Saya Benci iTunes!

Ada Dua Kata, Jadilah Berbeda

Do It Fast, Do It First, Do It Your Way