Oleh: Jumardan Muhammad | Foto: Tim Media MIWF 2017

Sifat alamiah manusia memang berbeda dan kita pun terlahir berbeda. Pendapat terse but diungkapkan oleh Yerry Wirawan dalam diskusi tentang Bissu and other stories about minorities di Ballroom Menara Phinisi, Universitas Negeri Makassar (19/5). Diskusi yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan pada Makassar International Writers Festival 2017 dengan menghadirkan Yerry Wirawan (Indonesia), Halilintar Latief (Indonesia), Bénécdite Gorrillot (Prancis), dan Faisal Oddang (Indonesia).

Diskusi tersebut dibuka dengan perkenalan diri oleh masing-masing pembicara dan pemaparan oleh Halilintar Latief mengenai Bissu. Ada lima klasifikasi gender di kebudayaan Bugis, yakni Makkunrai (perempuan), Oroané (laki-laki), Calabai (laki-laki feminim yang berpakaian sebagai perempuan), Calalai (perempuan maskulin yang berpakaian sebagai laki-laki), dan Bissu (penasehat kerajaan yang tidak memihak ke empat gender yang ada). Gender kelima ini berasal dari kata Bessi yang berarti suci dan menggunakan bahasa to rilangi’ untuk berinteraksi sesama bissu.

Pimpinan dari Bissu kemudian dikenal dengan julukan Puang Matoa dan Puang Malolo sebagai wakilnya. Mereka bertugas sebagai penasehat, pelaksana upacara kerajaan-kerajaan, dan pelantik para raja. Peran bissu kemudian menyusut ketika kerajaan-kerajaan Bugis bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini kemudian diperparah oleh gerakan DI/TII yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan yang ingin mendirikan negara Islam dengan menghilangkan hal-hal berbau musyrik. Gerakan yang dikenal dengan nama Gurilla (Gerilya) ini membakar rumah-rumah yang berisi benda-benda pusaka dan naskah-naskah. Para bissu kemudian dibantai dengan cara dipancung dan diarak keliling kampung. Dalam rentang waktu 1960-1965 digelar pula Operasi Toba’ di Sulawesi Selatan yang digelar oleh militer dan masyarakat untuk mencari para bissu untuk dihilangkan.

Sedikit berbeda dengan Halilintar, Bénécdite Gorrillot memaparkan minoritas dari sudut pandang kesusasteraan di Prancis. Pada mulanya hanya ada dua jenis puisi: puisi akademik dan puisi modern. Puisi akademik muncul dari hal-hal yang berbau spiritual, secara berlebihan orang-orang menyebutnya suara Tuhan. Para penyair yang berkutat di puisi ini memercayainya sebagai sebuah kebenaran. Namun, secara berbeda muncul puisi modern yang mengingkari keberadaan puisi akademik yang terlalu kaku. Jenis puisi ini menggunakan kebebasan berbahasa dalam berekspresi sehingga orang-orang Prancis menyebutnya sebagai puisi sampah, puisi pesimistik, dan puisi negatif.

Diskusi yang cukup ramai di Ballroom Menara Phinisi, Universitas Negeri Makassar

Pertentangan tersebut, menurut Bénécdite, berlangsung secara terus menerus. Layaknya lukisan yang muncul di era perang dunia kedua, puisi modern menurut orang-orang, tidak mempresentasikan apa-apa sehingga tidak ada sesuatu yang bisa mereka dapatkan. Apalagi ketika puisi modern berkolaborasi dengan musik dan tarian. Namun, hal ini ditanggapi oleh orang-orang yang menganut puisi modern sebagai ketidakmampuan orang-orang akademik memahami kesenian. Bénécdite kemudian mencoba menjembatani mereka dengan menyebut istilah puisi kontemporer yang memadukan puisi akademik dan puisi modern.

Berikutnya adalah Yerry Wirawan yang mengisahkan tentang Tionghoa di Makassar yang selama ini dianggap minoritas. Konon, papar Yerry, Makassar mempunyai aura yang dapat menyerap para pendatang di Makassar untuk menjadi bagian di dalamnya. Sekitar 500 tahun yang lalu, ketika pelabuhan Makassar ramai oleh aktivitas perdagangan rempah, banyak laki-laki pendatang yang menikah dengan perempuan setempat karena kapal yang mengantar ke tempat berikutnya butuh enam bulan hingga setahun menunggu angin untuk berlayar sehingga tidak sedikit pendatang yang beranak pinak di Makassar, termasuk orang-orang Tionghoa. Anak-anak yang lahir dari perkawinan ini kemudian disebut sebagai peranakan.

Dengan sedemikian banyaknya pendatang, pemerintah Belanda yang menguasai Makassar di zaman penjajahan membagi-bagi mereka ke dalam kampung-kampung seperti Kampung Melayu, Kampung Bali, dan Kampung Cina untuk mengenali jajahannya. Menariknya, masyarakat menolak untuk dikotak-kotakkan dan memilih untuk melebur. Layaknya orang-orang Bugis dan Makassar, orang-orang Tionghoa pun memiliki strata sosial dan bahasa yang berbeda-beda.

Serupa dengan Bénécdite Gorrillot yang melihat dari sudut pandang sastra, Faisal Oddang yang merupakan pembicara terakhir mengungkapkan bahwa cerita-cerita yang dituliskannya selama ini mengangkat kisah-kisah kaum minoritas sebagai cara untuk menyuarakan suara-suara mereka.

Sayangnya, penjelasan Faisal harus terhenti karena durasi diskusi telah melebihi waktu hampir 20 menit sementara adzan salat jumat sebentar lagi berkumandang. Moderator Yola Nur berkelakar takut diskusi ini dibubarkan paksa hanya dengan alasan tidak menghargai umat Islam yang akan beribadah. Dia menyimpulkan bahwa mayoritas adalah kumpulan minoritas. Sulawesi Selatan dijadikan contoh bahwa daerah ini didiami oleh minoritas suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Keempat suku ini kemudian menjadi mayoritas bernama Sulawesi Selatan. Sebagai pertanyaan, jika perbedaan diibaratkan warna, apa artinya hidup jika hanya ada hitam dan putih?