Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

BERCIUMAN cuma nikmat jika dilakukan oleh dua orang bersama secara sadar. Jika melakukannya sendiri, kamu tidak berciuman—tetapi mencium. Artinya, kamu barangkali melakukannya dengan bantal atau tembok atau punggung tanganmu sendiri atau pipi seseorang yang kemungkinan akan menamparmu setelahnya. Itu tidak enak sama sekali. Saya pernah mencium aspal. Rasanya: sakit!

Jika kamu lebih suka pelukan daripada ciuman, kata ‘berciuman’ di paragraf pembuka di atas bisa diganti dengan ‘berpelukan’.

Percayalah, jika mau jadi penulis, kamu tidak bisa melakukannya sendiri. Kamu akan kesulitan mengetahui kapan tulisanmu bagus, buruk, buruk sekali, atau buruk saja belum. Kamu selalu butuh bantuan. Carilah orang lain yang mau dan mampu membantu.

Saya tidak menganjurkan kamu mencarinya di Facebook. Orang-orang di Facebook murah memberi jempol dan senang memuji. Kamu tahu kenapa? Menurut pengalaman saya, karena mereka, 1) sesungguhnya tidak peduli dengan tulisanmu, 2) juga ingin dipuji, 3) tidak ingin menyakiti hatimu—karena mungkin dia takut kehilangan teman, atau 4) mungkin jatuh cinta kepadamu.

Cari orang-orang yang mau jujur mengatakan tulisanmu buruk—dan menunjukkan bagian yang mereka sebut buruk. Kamu akan belajar lebih banyak dari orang-orang seperti mereka. Berhentilah memperlihatkan tulisan-tulisan kamu cuma kepada orang yang senang memuji. Berhentilah tersenyum—seperti orang yang baru memiliki pacar—karena ada orang mengatakan tulisan kamu bagus di Facebook atau di blog atau di mana pun. Saya beritahu sesuatu yang penting: pujian hanyalah ujian yang sembunyi di belakang huruf P.

Pada tahun-tahun awal memutuskan jadi penulis, saya pacaran dengan seorang yang sadis. Sering kali begitulah kita menyebut orang-orang jujur. Kita menganggap mereka kejam. Tapi, saya beruntung pacaran dengan gadis kejam tersebut—yang semoga sekarang berbahagia dengan suami dan anak-anaknya. Bukan hanya kejam—di atas segalanya—dia juga cantik.

Selain pacar, dia teman menulis yang baik. Dia suka membaca tulisan-tulisan saya. Namun, dia punya satu aturan yang sulit dilanggar. Jika dia menyukai tulisan saya, kami boleh berciuman. Jika tidak, saya harus puasa ciuman.

Saya menulis, setiap hari, karena ingin bisa menciumnya. Tetapi, untuk bisa mendengar satu kata “suka” dari mulutnya, saya kadang harus bekerja keras menyelesaikan puluhan tulisan.

*

PENYAIR yang karya-karyanya sering saya baca waktu kuliah, John Keats, punya satu istilah. Negative Capability. Kemampuan menyimpan dua ide bertentangan pada saat bersamaan dalam diri kita.

Tiap kali kamu selesai menulis, hasilnya buruk. Itu sesuatu yang niscaya. Pasti. Alasannya sederhana. Jika menulis adalah pekerjaan mudah, semua orang akan melakukannya.

Kamu harus menyadari bahwa tulisanmu buruk. Jika tidak, kamu tidak akan pernah menghasilkan tulisan yang lebih baik. Kamu tidak akan menyediakan waktu menulis ulang atau menyunting beberapa kali.

Namun, kamu harus yakin, seburuk apa pun hasilnya, tulisan itu adalah hasil dari proses mengagumkan.

Keyakinan bahwa tulisanmu buruk membuat kamu berusaha lebih keras. Keyakinan bahwa kamu melakukan hal luar biasa membuatmu tidak berkecil hati, putus asa, atau bunuh diri.

Menulis adalah pekerjaan menyebalkan yang menyenangkan—atau pekerjaan menyenangkan yang menyebalkan.

*

KETIKA memutuskan mau jadi penulis, ibu saya mengingatkan bahwa saya akan miskin dan semua orang tahu kemiskinan itu menyakitkan. Saya tidak percaya. Tentu saja, karena saya bodoh. Saya pikir, setelah dua tahun menulis saya akan mampu membeli semua barang yang sudah lama saya dambakan. Saya salah.

Saya terpaksa harus mengerjakan hal-hal lain supaya bisa beli buku.

Lalu saya menghibur diri—sebab, kamu tahu, menghibur diri adalah salah satu keahlian saya. Menjadi penulis miskin terdengar romantis—seperti di film atau novel. Mungkin pada saat berusia 27 tahun saya meninggal dunia. Dulu, saya selalu berpikir akan mati muda.

Saya salah. Sekali lagi. Saya tidak mati bahkan setelah merayakan ulang tahun ke-28 dan beberapa kali setelahnya. Dan, menjadi penulis miskin, demi Tuhan, tidak romantis sama sekali. Berhutang di sana dan di sini dan di situ juga bukan hal menyenangkan.

Sekarang, saya bisa hidup dari pekerjaan sebagai penulis. Namun, untuk bisa membeli buku, saya tetap butuh pekerjaan lain. Saya sengaja menulis dua kali kata ‘buku’ di kalimat ini, karena buku adalah salah satu penyebab kamu akan miskin jika mau jadi penulis. Jika kamu tidak sangat suka membaca buku, hampir bisa dipastikan kamu akan gagal jadi penulis yang baik. Dengan kata lain, uang yang akan kamu habiskan membeli buku mungkin jauh lebih banyak dibandingkan dengan uang yang akan kamu hasilkan dari menulis. Tapi, catat hal ini baik-baik, cara terbaik belajar menulis adalah membaca.

*

SEJAK 2001, tahun saat memutuskan ingin hidup sebagai penulis, setiap hari, saya menghabiskan minimal 3 jam untuk menulis—dan waktu lebih lama untuk menyunting gadis pujaan hati tulisan. Saat ini, selain menulis, saya memang bekerja sebagai editor lepas di beberapa penerbitan.

Ada 20 ribu tulisan buruk dalam diri saya. Begitu kata saya jika ada orang bertanya kenapa saya harus menghabiskan banyak waktu menulis tiap hari.

Saya selalu membayangkan diri saya tidak lebih dari sebuah kotak berisi tulisan buruk sebanyak itu. Untuk bisa menulis satu tulisan yang baik, saya harus mengeluarkan satu demi satu tulisan-tulisan buruk itu. Tulisan buruk yang sedang kamu baca ini salah satunya.

Tidak ada orang yang mampu membuat saya menulis lebih baik selain diri saya. Para pengarang terkenal yang senang memberi saran dan sering kali orang-orang anggap memiliki rahasia khusus itu juga tidak mampu membuat saya—dan kamu— jadi penulis yang lebih baik.

Kita selalu ingin tahu rahasia orang lain. Saat ada orang bertanya ihwal rahasia menulis, saya sering mengatakan, “Rahasia menjadi penulis cuma ada dua. Pertama, menulislah sampai kehabisan kata. Kedua, jangan pernah kehabisan kata.”

Kedua hal tersebut, tentu saja, bukan lagi rahasia. Saya sudah terlalu sering mengatakannya.

*

DI kelas menulis kreatif yang saya asuh—jika kamu tertarik ikut, tempatnya di Katakerja setiap Kamis sore—saya sering bertanya: Apakah kalian suka menulis? Biasanya, semua orang dengan percaya diri mengatakan senang menulis. Saya suka orang yang percaya diri. Saya biasanya mudah jatuh hati kepada gadis yang percaya diri. Tetapi, saya benci orang yang tidak jujur. Dan, sejujurnya, saya benci menulis.

Saya hanya senang sesaat setelah selesai menuliskan sesuatu. Untuk sampai ke momen menyenangkan itu, saya harus memaksa diri menulis. Saya harus melakukan hal-hal yang sesungguhnya saya benci. Sayang sekali, saya belum menemukan jalan lain. Tapi, salah satu hal yang membuat saya terus menulis hingga sekarang adalah karena menulis itu pekerjaan yang sulit. Sebagai penulis, pekerjaan yang paling sulit bagi saya adalah menulis. Apa menariknya melakukan hal-hal yang mudah? Ibu saya pernah mengatakan bahwa hal-hal indah itu tidak datang dari hal-hal yang mudah.

Kebanyakan dari kita berkali-kali lebih menarik saat berbicara daripada menulis. Kamu tahu kenapa? Karena kita panik tiap kali mulai menulis—dan itulah yang membuatnya menjadi semakin sulit.

Jika bagian ini mengingatkanmu kepada urusan mengatakan cinta, kamu tidak salah. Banyak orang gagal mengatakan cinta kepada orang yang ditaksirnya bertahun-tahun karena gugup/panik/tidak tenang/takut ditolak… dan sila tambahkan sendiri selebihnya. Saya kasih tahu, urusan menulis sangat mirip dengan urusan menjalin hubungan asmara. Percayalah! Kamu sering mendengar saran ‘show, not tell’, bukan? Nah, itu satu contohnya lain. Atau, coba baca bagian pertama tulisan ini. Itu satu contoh lagi. Jika mau punya pacar yang bisa diajak berciuman atau berpelukan, mustahil kamu bisa melakukannya sendiri—dan kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.

*

PENULIS selalu ingin bicara tentang menulis karena berbicara adalah pekerjaan yang jauh lebih mudah dibandingkan dengan menulis. Itu alasan kenapa kamu sebetulnya tidak betul-betul butuh mendengarkan saran dari para penulis—termasuk mendengarkan nasihat saya.

Ketika bicara tentang cara menulis yang baik, sesungguhnya para penulis itu sedang bicara tentang diri mereka sendiri. Penulis itu egois—dan tidak suka melihat ada orang yang menulis lebih baik dari mereka. Mereka akan menyarankan sesuatu yang penting buat diri mereka, bukan buat orang lain. Atau, bisa jadi, mereka akan membicarakan perihal yang terdengar luar biasa, tetapi tidak benar-benar mereka lakukan.

Sejumlah penulis—terutama yang tidak punya pacar—senang melakukan hal tersebut demi menghibur diri mereka sendiri. Apakah saya perlu mengulangi pernyataan saya bahwa saya ahli melakukan itu? Sebagian lagi, semata-mata supaya terdengar jagoan dan membuat kamu mau membeli buku mereka. (Sekadar informasi, tidak lama lagi buku terbaru saya terbit dan beredar di toku buku. Terima kasih jika kamu mulai menyiapkan uang untuk itu.)

*

SELAIN menemukan kalimat yang menarik untuk menutup tulisan ini, saya juga sulit menemukan judul yang bagus. Tentu saja, itu bukti lain untuk menunjukkan bahwa menulis betul-betul pekerjaan sulit yang menyebalkan.

Pada awalnya, saya menjuduli tulisan ini dengan ‘Setengah Lusin Saran untuk Mereka yang Mau Menjadi Penulis’, tapi itu sangat mirip dengan judul-judul artikel yang berseliweran di buzzfeed.com dan thoughtcatalog.com. Saya menganggantinya dengan ‘Jika Kamu Ingin Jadi Penulis’. Pilihan terkahir itu malah terdengar lebih cocok jadi judul reality show di televisi. Akhirnya, saya memilih memberinya judul seperti yang kamu baca di atas—dan berharap kamu tidak membiarkan saya sekadar menciummu.