Mencintai sebuah kota selalu punya alasan. Entahlah jika mencintai seorang manusia: apakah butuh alasan juga atau tidak. Atau mungkin saja, saya salah. Jangan-jangan, saya tidak betul-betul sampai pada tingkatan mencintai. Mungkin hanya perasaan yang berbeda. Namun, rasa itulah yang saya rasakan kepada Yogyakarta. Kota pelajar yang juga terkenal dengan Malioboro dan Sarkem. Tapi bukan itu alasannya.

Hal yang paling membuat saya jatuh cinta (sebut saja demikian) kepada Yogyakarta, karena kota tersebut memiliki banyak seniman. Baik itu musisi, pelukis, pematung, dan lain-lain. Terbukti dari begitu banyak pagelaran atau exhibition yang hampir tiap minggu diadakan. Dan, akhir bulan Mei lalu saya berhasil ke Jogja untuk menghadiri ART|JOG, kegiatan pameran seni rupa kontemporer terbesar di Asia Tenggara. Jadi, tidak bisa dibayangkan berapa banyak karya yang dipamerkan tahun ini. Tidak mungkin juga saya datang ke pameran sebanyak itu dalam beberapa hari saja. Maka dari itu, saya memilih ART|JOG|9 dan pameran tunggal Farid Stevy, satu dari banyak seniman favorit saya yang ikut terlibat dalam ART|JOG kali ini.

Pada malam tanggal 27 Mei 2016 di Jogja Nasional Museum (JNM), ART|JOG|9 yang bertema Universal Influence resmi dibuka oleh Sultan Hamengkubuwono X. Pengunjung yang datang tidak hanya datang dari Jogja saja, tetapi banyak yang datang dari luar kota maupun luar negeri. Sebelum masuk menikmati karya, saya harus antre sejam karena pengunjung dibatasi, bukan karena di dalam tidak cukup tapi untuk menghindari hal-hal yang tidak inginkan, misalnya menyentuh apalagi sampai merusak karya. Setelah sejam berdempet-dempetan akhirnya saya masuk ke dalam, belum sempat menikmati semua karya di lantai 1, pengunjung diberitahu kalau ART|JOG sudah hampir tutup, mau tidak mau saya harus ikut keluar.

Besoknya saya kembali lagi karena semalam sedikit kecewa. Saya kembali menikmati karya yang ada di lantai 1, sedikit pusing dengan penataan karyanya, saya langsung naik ke lantai 2 dan tambah pusing lagi tapi semua karya berhasil mengalihkan perhatian saya dari ketidakteraturan tersebut, lanjut ke lantai 3 masih sama seperti lantai 1 & 2 penataannya bikin pusing mau menikmati yang mana dulu. Dan seperti kemarin, belum menikmati semua karya sudah diberitahukan bahwa JNM sebentar lagi tutup. Dengan sedikit gombalan dengan mbak penjaga, saya akhirnya diberi waktu untuk menikmati semua dulu. Menikmati dan memahami 97 karya dari 72 seniman memang tidak cukup dengan waktu sejam atau dua jam saja.

Setelah puas menikmati karya-karya di ART|JOG, saya melanjutkan ke pameran tunggal Farid Stevy Asta, vokalis FSTVLST sekaligus seniman ini menjadi tujuan ke dua saya ke Jogja. Selain pameran tunggalnya ini, nama Farid Stevy juga ada dalam daftar seniman yang berpameran di ART|JOG tahun ini, karyanya adalah penggalan lirik dari bait ke-4 di lagu Hal-hal ini Terjadi dalam album FSTVLST. Namun, berbeda dengan pameran tunggalnya yang ke lima ini, dia mengangkat tema Too Poor for Pop Culture. Sayang sekali, saya tidak bisa berlama-lama karena jadwal keberangkatan pesawat yang saya tumpangi.

Bertepatan pula hari ini merupakan hari penutupan ART|JOG|9 setelah sebulan dilaksanakan. Dan, tidak salah saya menjadikan ART|JOG sebagai alasan mencintai Jogja. Kota yang mampu membuktikan, setidaknya untuk saya, bahwa untuk menjadi kota yang diidam-idamkan tidak perlu menjadi sok cerdas. Cukup dengan memberi ruang kepada kesederhanaan dan keindahan.

Berikut foto-foto yang saya abadikan dari beberapa karya favorit saya dalam ART|JOG|9 serta di pameran Too Poor for Pop Culture. Jika ingin melihat foto dari karya lainnya, silakan cek di sini: https://www.instagram.com/chimankorus. Mungkin favorit kita sama.

ART | JOG | 9

Jogja National Museum, 27 Mei – 27 Juni 2016

1. MELLA JAARSMA : How Low Can You Go Variable dimensions; 6 objects each 200 x 50 x 50 cm | 6 objects of wood, iron, stainless steel, textile, leather Konsep Karya This work expresses my worry about ‘what is getting lost’ and the mental state where people find themselves at the moment.  Customary (adat) rules are replaced by religious rules, which leads to less respect for local wisdom, history, ancestry and syncretism. Indonesia’s rich mythologies and local believes are fading, and dogmatic approaches are gaining the upper hand. This work is about positioning ourselves, using common sense, back to a default state of humanity, where values are perpetually renewed.

How Low Can You Go

Mella Jaarsma

Variable dimensions; 6 objects each 200 x 50 x 50 cm | 6 objects of wood, iron, stainless steel, textile, leather

Konsep Karya

Karya ini mengungkapan kegelisahan Mella Jaarsma tentang ‘apa itu kehilangan’ dan keadaan mental seseorang saat berada pada momen itu. Aturan adat digantikan oleh aturan agama yang menyebabkan kurangnya rasa hormat pada kearifan lokal, sejarah, leluhur, dan sinkretisme. Mitologi dan kepercayaan lokal Indonesia kini memudar, sementara dogmatisme tengah berada di atas angin. Karya ini adalah soal memposisikan diri kita, menggunakan akal sehat untuk kembali pada keasalian manusia, dimana nilai-nilai senantiasa diperbaharui.

 

RUDI MANTOFANI : Dunia dan Bumi 99 x 162 x 108 cm | Aluminum, paint, golden plating  Konsep Karya Rudi Mantofani selalu berhasil menghadirkan objek-objek surealis yang kadangkala susah ditangkap atau diabaikan menjadi sesuatu yang strategis untuk diperbincangkan. Benda-benda keseharian yang tampak biasa digubah secara artistik dengan mereplika, mendekonstruksi, dan diolah secara halus (stilisasi). Dalam karya ini, ia berupaya mengajak publik untuk menemukan pengalaman estetis melalui benda keseharian yang tampak biasa.

Dunia dan Bumi

Rudi Mantofani

99 x 162 x 108 cm | Aluminum, paint, golden plating 

Konsep Karya

Rudi Mantofani selalu berhasil menghadirkan objek-objek surealis yang kadangkala susah ditangkap atau diabaikan menjadi sesuatu yang strategis untuk diperbincangkan. Benda-benda keseharian yang tampak biasa digubah secara artistik dengan mereplika, mendekonstruksi, dan diolah secara halus (stilisasi). Dalam karya ini, ia berupaya mengajak publik untuk menemukan pengalaman estetis melalui benda keseharian yang tampak biasa.

PINTOR SIRAITE : Brise 360 x 120 x 300 cm | Stainless steel  Konsep Karya 'Brise' adalah sebuah gerakan ballet yang sulit tetapi sangat indah. Dibutuhkan banyak waktu latihan agar bisa melakukan gerakan yang tidak biasa. Ketepatan waktu merupakan elemen kunci. Saya membuat sebuah F-1 Racing Car yang terbang, berputar, dan setengah hancur setelah mengalami kecelakaan. Kecelakaan biasanya terjadi karena waktu yang tidak tepat. Karya ini mengeksplorasi pentingnya ketepatan waktu, menggunakan keindahan gerak untuk memicu penonton agar berpikir dan merasakan momen dimana 'pemilihan waktu' kita sebagai manusia tidak pernah 'sempurna'.

Brise

Pintor Sirait

360 x 120 x 300 cm | Stainless steel 

Konsep Karya

‘Brise’ adalah sebuah gerakan ballet yang sulit tetapi sangat indah. Dibutuhkan banyak waktu latihan agar bisa melakukan gerakan yang tidak biasa. Ketepatan waktu merupakan elemen kunci.

Pintor Sirait membuat sebuah F-1 Racing Car yang terbang, berputar, dan setengah hancur setelah mengalami kecelakaan. Kecelakaan biasanya terjadi karena waktu yang tidak tepat. Karya ini mengeksplorasi pentingnya ketepatan waktu, menggunakan keindahan gerak untuk memicu penonton agar berpikir dan merasakan momen dimana ‘pemilihan waktu’ kita sebagai manusia tidak pernah ‘sempurna’.

ICHWAN NOOR : Blue Moon 180 x 180 x 20 cm | Auto parts  Konsep Karya   Dalam karya-karyanya, Ichwan Noor kerap mengolah objek siap pakai menjadi sesuatu yang baru. Lewat karya ini, kita kembali diajak untuk menyelami hasil bentuk olahannya atas objek-objek siap pakai yang ia pilih. Ia seolah berupaya memprovokasi kita dengan menghadirkan sesuatu yang tampak mustahil dalam kehidupan kita: blue moon.

Blue Moon

Ichwan Noor

180 x 180 x 20 cm | Auto parts 

Konsep Karya
 
Dalam karya-karyanya, Ichwan Noor kerap mengolah objek siap pakai menjadi sesuatu yang baru. Lewat karya ini, kita kembali diajak untuk menyelami hasil bentuk olahannya atas objek-objek siap pakai yang ia pilih. Ia seolah berupaya memprovokasi kita dengan menghadirkan sesuatu yang tampak mustahil dalam kehidupan kita: blue moon.

MAK JUSTINIANI : Fortress Variable dimensions | LEDs, reflective media, objects.

Fortress

Mark Justiniani

Variable dimensions | LEDs, reflective media, objects.

 FX HARSONO : Undisclosed Identity Dimensions variable | Photography installation with light box, LED running text, found objects, etc  1/3 ed +1 ap Konsep Karya  ‘Manusia sebagai individu mempunyai kebebasan untuk menentukan kehendaknya sendiri’ adalah nukilan tak bermakna. Saat seseorang dinyatakan sah sebagai warga negara maka kebebasan berubah. Bagi orang Tionghoa, meski lahir di Indonesia, tetap dianggap sebagai pendatang. Selain surat Kewarganegaraan Indonesia, dia juga harus memiliki surat-surat lainnya dimana ketentuan itu tidak berlaku untuk orang Indonesia ‘asli’. Dikotomi asli–pendatang, bebas–terikat, ingin ditampilkan pada karya ini. Ekspresi wajah, pose, interaksi dalam keluarga yang tampak bebas nan bahagia di satu sisi; dan pada sisi lain, berhadapan dengan masalah legal-formal yang hanya dikhususkan pada mereka. Poinnya, undang-undang menjadi diskriminatif jika sekadar ditujukan untuk menekan sekelompok masyarakat.

Undisclosed Identity

FX Harsono

Variable dimensions | Photography installation with light box, LED running text, found objects, etc 
1/3 ed +1 ap

Konsep Karya

 Manusia sebagai individu mempunyai kebebasan untuk menentukan kehendaknya sendiri’ adalah nukilan tak bermakna. Saat seseorang dinyatakan sah sebagai warga negara maka kebebasan berubah. Bagi orang Tionghoa, meski lahir di Indonesia, tetap dianggap sebagai pendatang. Selain surat Kewarganegaraan Indonesia, dia juga harus memiliki surat-surat lainnya dimana ketentuan itu tidak berlaku untuk orang Indonesia ‘asli’.

Dikotomi asli–pendatang, bebas–terikat, ingin ditampilkan pada karya ini. Ekspresi wajah, pose, interaksi dalam keluarga yang tampak bebas nan bahagia di satu sisi; dan pada sisi lain, berhadapan dengan masalah legal-formal yang hanya dikhususkan pada mereka. Poinnya, undang-undang menjadi diskriminatif jika sekadar ditujukan untuk menekan sekelompok masyarakat.

 

UGO UNTORO : Pacuan Sendirian approx 40 cm | Paper, wood, glass  Konsep Karya   Keindahan adalah yang pertama, yang sendiri, yang tunggal, yang ganjil, yang selamanya.

Pacuan Sendirian

Ugo Untoro

approx 40 cm | Paper, wood, glass 

Konsep Karya
 
Keindahan adalah yang pertama, yang sendiri, yang tunggal, yang ganjil, yang selamanya.

 

DAVY LINGGAR : FILM Variable dimensions | Site specific installation (photography)  Konsep Karya Karya ini adalah dokumentasi tentang 17 orang seniman. Lewat karya ini, dia meneliti ulang karya-karya seniman melalui ritual keseharian ketujuhbelas seniman tersebut. Menurutnya, lingkungan dan gaya hidup akan melahirkan kecenderungan tertentu di dalam karya seorang seniman. Secara teknis, karya ini dikerjakan melalui metode sinematografi, dengan berusaha mengedepankan presentasi alur cerita, narasi dan skenario.

FILM

Davy Linggar

Variable dimensions | Site specific installation (photography) 

Konsep Karya

Karya ini adalah dokumentasi tentang 17 orang seniman. Lewat karya ini, dia meneliti ulang karya-karya seniman melalui ritual keseharian ketujuhbelas seniman tersebut. Menurutnya, lingkungan dan gaya hidup akan melahirkan kecenderungan tertentu di dalam karya seorang seniman. Secara teknis, karya ini dikerjakan melalui metode sinematografi, dengan berusaha mengedepankan presentasi alur cerita, narasi dan skenario.

 

DHANANK PRAMBAYUN : The Darkness Led Me to The Light 120 x 50 x 30 cm | Mixed media assemblage  Konsep Karya Mula-mula, agama diciptakan sebagai pedoman untuk mencapai kesempurnaan. Namun, ajaran agama secara perlahan digiring untuk membentuk umat yang materialistis; berlomba-lomba mencapai surga dengan memposisikan ritual sebagai sarana untuk menumpuk pahala–dan di saat yang bersamaan, memelihara kebencian pada setan (kegelapan). Mereka lupa pada sang pemilik cahaya, yang tak pernah berhenti memberi petujuk  untuk kembali dalam cinta-Nya. Tak ada kilau cahaya tanpa ada kegelepan di sekitarnya. Puncak dari agama adalah cinta atau seperti kata Rabi’ah Al Adawiyah, “cintaku pada Tuhan tak menyisakan ruang kebencian untuk setan”. Kita hanya dapat mencapai kesempurnaan setelah mampu berdamai dengan kegelapan.

The Darkness Led Me to The Light

Dhanank Prambayun

120 x 50 x 30 cm | Mixed media assemblage 

Konsep Karya

Mula-mula, agama diciptakan sebagai pedoman untuk mencapai kesempurnaan. Namun, ajaran agama secara perlahan digiring untuk membentuk umat yang materialistis; berlomba-lomba mencapai surga dengan memposisikan ritual sebagai sarana untuk menumpuk pahala–dan di saat yang bersamaan, memelihara kebencian pada setan (kegelapan). Mereka lupa pada sang pemilik cahaya, yang tak pernah berhenti memberi petujuk  untuk kembali dalam cinta-Nya. Tak ada kilau cahaya tanpa ada kegelepan di sekitarnya. Puncak dari agama adalah cinta atau seperti kata Rabi’ah Al Adawiyah, “cintaku pada Tuhan tak menyisakan ruang kebencian untuk setan”. Kita hanya dapat mencapai kesempurnaan setelah mampu berdamai dengan kegelapan.

 

FARID STEVY ASTA : Hal-hal ini terjadi, bait 4 3 pieces each 93 x 100 x 15 cm | Plate, acrylic sheet, found objects  Konsep Karya Di masa kau terlahir, orang-orang tidak bertegur-sapa seperti manusia. Setiap dari mereka mempunyai wakil berupa angka atau kode yang membuat mereka bisa menjadi siapa saja yang bukan dirinya dan bertemu dengan siapa saja yang sebenarnya tidak ada. Daging bertemu daging tidak lagi penting. Hati bertemu hati tidak lagi sejati. Kau dan aku hidup di masa maha palsu.

Hal-hal ini Terjadi, bait 4

Farid Stevy Asta

3 pieces, each 93 x 100 x 15 cm | Plate, acrylic sheet, found objects 

Konsep Karya

Di masa kau terlahir, orang-orang tidak bertegur-sapa seperti manusia. Setiap dari mereka mempunyai wakil berupa angka atau kode yang membuat mereka bisa menjadi siapa saja yang bukan dirinya dan bertemu dengan siapa saja yang sebenarnya tidak ada. Daging bertemu daging tidak lagi penting. Hati bertemu hati tidak lagi sejati. Kau dan aku hidup di masa maha palsu.

 

ABDI SETIAWAN : Mooi Indie Painting 154 x 91 cm; chair 100 x 47 x 47 cm; table 110 x ᴓ60 cm | Teak wood, acrylic on canvas  Konsep Karya Karya ini bertolak dari apresiasi saya terhadap seni lukis Mooi Indie. Dari titik itu saya mewujudkan karya ini dengan membuat sebuah objek instalasi berjudul “Mooi Indie”, mempertemukan patung dan lukisan bercorak landscape sebagai sesuatu yang saling terkait. Karya ini sekaligus merupakan pengormatan estetik terhadap Landscape Mooi Indie yang asing dalam khasanah Seni Patung Indonesia.

Mooi Indie

Abdi Setiawan

Painting 154 x 91 cm; chair 100 x 47 x 47 cm; table 110 x ᴓ60 cm | Teak wood, acrylic on canvas 

Konsep Karya

Karya ini bertolak dari apresiasi Abdi Setiawan terhadap seni lukis Mooi Indie. Dari titik itu, Abdi mewujudkan karya ini dengan membuat sebuah objek instalasi berjudul “Mooi Indie”, mempertemukan patung dan lukisan bercorak landscape sebagai sesuatu yang saling terkait. Karya ini sekaligus merupakan pengormatan estetik terhadap Landscape Mooi Indie yang asing dalam khasanah Seni Patung Indonesia.

 

NASIRUN : ( Untitled ) 200 x 300 cm | Oil on canvas  Konsep Karya Dunia tanpa manusia. Rajah dan pawukon. Memberikan suatu tanda; apakah itu tanda tanya, tanda seru, tanda titik, atau tanda lainnya. Perlambang atau isyarat akan tanda-tanda zaman. Dalam dunia Jawa, sesuatu yang wingit pasti akan disamarkan. Hanya karena merupakan satu bagian dari konsep tradisi, sehingga sekarang digeser menjadi seni tradisi. Semakin menemukan banyak hal, akan semakin dikaburkan.

( Untitled )

Nasirun

200 x 300 cm | Oil on canvas 

Konsep Karya

Dunia tanpa manusia. Rajah dan pawukon. Memberikan suatu tanda; apakah itu tanda tanya, tanda seru, tanda titik, atau tanda lainnya. Perlambang atau isyarat akan tanda-tanda zaman. Dalam dunia Jawa, sesuatu yang wingit pasti akan disamarkan. Hanya karena merupakan satu bagian dari konsep tradisi, sehingga sekarang digeser menjadi seni tradisi. Semakin menemukan banyak hal, akan semakin dikaburkan.

 

HENDRA BLANKON PRIYADANI : Passionate 143 x 210 cm | Assemblage, collage, mix media polyster resin on lettice work  Konsep Karya Site specific Installation ini terdiri dari kolase objek temuan. Kumpulan objek berfigur berbeda dikomposisikan dengan apa yang diperoleh dari pengalaman diri. Laiknya keputusan untuk menghidupi/menafkahi pilihan yang ditetapkan dengan sepenuh hati, maka perlahan dan pasti pilihan tersebut akan menghidupi/menafkahi kita kelak.

Passionate

Hendra Blankon Priyadani

143 x 210 cm | Assemblage, collage, mix media polyster resin on lettice work 

Konsep Karya

Site specific Installation ini terdiri dari kolase objek temuan. Kumpulan objek berfigur berbeda dikomposisikan dengan apa yang diperoleh dari pengalaman diri. Laiknya keputusan untuk menghidupi/menafkahi pilihan yang ditetapkan dengan sepenuh hati, maka perlahan dan pasti pilihan tersebut akan menghidupi/menafkahi kita kelak.

 

Alfredo and Isabel Aquilizan : New Order Variable dimensions | Vehicle license plate, motorcycle  KONSEP KARYA As a take off point for this project, we looked into the history and also statistics of motor vehicle accident and accounts of fatalities in which Indonesia is one of the highest. The work can be read provocatively about taking no account of the laws and regulations or street anarchy, but as this work will be presented as a signifier, it can be read as political in a sense that it can reference past history of political turmoil in Indonesia like street anarchy for example (eg. Malari 1974) where they burned electronics and particularly motorcycles. It also talks about the present contemporary issues and in particular situations in Yogyakarta, such as issues regarding freedom of expression where police had become very repressive to activisms. It comes to our knowledge that they banned and cancelled lots of movie screenings, public discussions, music and performances and many others. The work can also be a direct form of critique to art in general. As the work will directly involve the audience in the formulation of its meaning they become active participants in the creation of the work.  

New Order

Alfredo and Isable Aquilizan

Variable dimensions | Vehicle license plate, motorcycle 

Konsep Karya

Proyek ini berangkat dari sejarah dan catatan statistik perihal tingkat kematian akibat kecalakaan motor di mana Indonesia termasuk yang tertinggi. Alih-alih dibaca sebagai pengabaian peraturan hukum atau anarki di jalanan, karya ini justru akan dihadirkan sebagai penanda yang bisa dibaca secara politis; dalam arti bahwa ia merujuk pada sejarah kerusuhan politik di Indonesia (misalnya peristiwa Malari pada 1974) dimana terjadi pembakaran terhadap toko-toko elektronik dan kendaraan bermotor. Karya ini juga membahas isu-isu kontemporer dan situasi tertentu yang terjadi di Yogyakarta, seperti isu pengekangan kebebasan berekspresi dimana polisi melakukan tindakan represif terhadap para aktivis. Kami tahu bahwa telah terjadi pelarangan dan pembatalan berbagai jenis kegiatan seperti pemutaran film, diskusi di ruang publik, pertunjukan musik, performance dan lain sebagainya. Di samping itu, karya ini sekaligus merupakan kritik terhadap seni rupa secara umum. Karena karya ini melibatkan audiens untuk merumuskan maknanya, maka mereka menjadi partisipan aktif dalam penciptaan karya.

 

THERESIA AGUSTINA SITOMPUL : Her Memory, Her soul: Spirare 300 x 500 cm | Silkscreen on chiffon fabric, monoprint on paper (7 frames)  Konsep Karya Permintaan akan proses kreatif yang berlangsung terus-menerus menyebabkan saya fokus pada sebuah metafora tentang tubuh, pakaian, kain, binatang, tumbuhan, dan berusaha membawanya pada kehidupan sendiri, yakni semangat batin. Spirare untuk bernafas, seperti nafas, jadi semangat dalam prinsip dan menjiwai kekuatan setiap mahluk hidup.

Her Memory, Her Soul: Spirare

Theresia Agustina Sitompul

300 x 500 cm | Silkscreen on chiffon fabric, monoprint on paper (7 frames) 

Konsep Karya

Permintaan akan proses kreatif yang berlangsung terus-menerus menyebabkan Theresia fokus pada sebuah metafora tentang tubuh, pakaian, kain, binatang, tumbuhan, dan berusaha membawanya pada kehidupan sendiri, yakni semangat batin. Spirare untuk bernafas, seperti nafas, jadi semangat dalam prinsip dan menjiwai kekuatan setiap mahluk hidup.

 

Venzha Christ (v.u.f.o.c - HONF Foundation) ISSS - Indonesia Space Science Society - A collaboration project with Myung Hyun RHEE (SETI Korea Society - Search for Extraterrestrial Intelligence) Part of SeMA Biennale Mediacity Seoul 2016 commiss Variable dimensions | DIY radio astronomy, electronic circuits, antenna, animation, TV, realtime signal receiver.

ISSS – Indonesia Space Science Society

A collaboration project Venzha Christ (v.u.f.o.c – HONF Foundation) with Myung Hyun RHEE (SETI Korea Society – Search for Extraterrestrial Intelligence) Part of SeMA Biennale Mediacity Seoul 2016

Variable dimensions | DIY radio astronomy, electronic circuits, antenna, animation, TV, realtime signal receiver.

Konsep Karya

Dalam perkembangan aktivitas pencarian sebuah tanda-tanda yang dilakukan para pakar dan ilmuwan (astrophysics, astronomer, astrobiology) telah melakukan banyak percobaan baik dengan mengirimkan signal maupun dengan menangkap signal. Tentu saja signal yang diharapkan pasti akan berasal dari tempat (gugusan bintang, galaksi, tata surya, planet) yang sangat jauh, bisa ratusan, jutaan, atau bahkan puluhan juta tahun cahaya. Satu yg terbesar dan sangat serius dalam pencarian signal atau tanda-tanda ini adalah SETI – Search for Extraterrestrial Intelligence, yang berpusat di California, Amerika.

Bekerja sama dengan SETI, Venzha Christiawan / Vufoc merancang sebuah platform di bidang astronomi dan space science yang disebut ISSS – Indonesia Space Science Society” merupakan satu kelanjutan dari proses kerja yang telah dilakukan oleh “v.u.f.o.c – an extraterrestrial study center” yang bertujuan untuk membentuk satu jaringan dan institusi baru di bidang Astronomy and Space Science. ISSS akan mengangkat issue yang sangat global tentang sebuah aktifitas besar di balik perkembangan dunia astronomi serta ingin mengajak audience untuk membayangkan berbagai tingkat spekulasi dan hipotesa tentang kemungkinan adanya bentuk koloni makhluk cerdas di luar planet bumi. Pada Opening ART| JOG|9 , 27 Mei 2016 inilah ‘ISSS – Indonesia Space Science Society’ diperkenalkan dan di launching pembentukannya. ISSS akan membuat satu antena yang akan dipasang di sebuah tower setinggi 32 meter dan satu ‘grup antena’ yang dipasang di atas sebuah instrument penangkap signal dan frekuensi (seperti pada gambar) dan pengunjung atau audiens bisa mendengarkan secara real time, berbagai sumber suara/data yang tertangkap. Di sini ISSS ingin membagikan sebuah informasi data yang bisa diakses dan dapat dikembangkan sesuai dengan module dan bentuk aktifitas interdisipliner yang menyertainya. Data dari project ISSS – ART|JOG|9: Universal Influence ini yang berupa sinyal tersebut rencananya akan direkam dan diproduksi dalam format vinyl 12″ pada tahun 2017 dan dipresentasikan di Amerika.

N.B. Teks untuk caption foto diambil dari notes yang tertera di samping karya.

***

TOO POOR FOR POP CULTURE, TOO HUNGRY FOR CONTEMPORARY

Farid Stevy Solo Exhibition di Kedai Kebun Forum, 20 Mei – 3 Juni 2016

Pameran Farid Stevy Asta_Too Poor for Pop Culture_Revius

Lebih dahulu berkenalan dengan seni rupa bukan di ruang galeri seni melainkan lewat jabat tangan dengan klien di meja runding untuk proyek-proyek desain grafis dan komunikasi visual, membuat Farid Stevy terbiasa bernegosiasi dengan ini dan itu dan ini dalam berkarya rupa. Praktek kerja desain harus selalu sampai pada titik capai bernama solusi atas permasalahan yang harus dipecahkan pada setiap project-nya. Form follow function, selalu seperti itu, tidak ada kelonggaran sedikitpun di wilayah tersebut. Profesi sebagai desainer grafis dan komunikasi visual yang ia lakoni ini kemudian dengan sangat sadar membentuk perilaku default mode dalam seni rupa. Berkarya rupa (di wilayah desain) adalah cara yang ia tempuh untuk mendapatkan uang untuk bertahan hidup. Membayar tagihan, membeli kebutuhan-kebutuhan, dan terkadang juga untuk menebus keinginan-keinginan.

Karena kehidupan kadang indah lebih banyak enggak indahnya, buncah bahagia dan gugat gelisah tetap selalu harus diberi tempat untuk menyatakan dirinya, Farid menggunakan musik dan pertunjukan bersama bandnya, dan juga praktek berkarya rupa di luar desain untuk hal itu. Tanpa ada keharusan untuk memecahkan masalah, dan segala kebebasan berekspresi yang hampir tidak berbatas, berkarya rupa dan bermain musik bisa menjadi taman bermain melarikan diri dari rutinitas, sampai jadi mimbar khidmat untuk sok-sokan menyatakan sikap dan kegelisahan yang mendesak.

Pada pameran tunggal yang ke lima ini, Farid Stevy ingin membicarakan cara pandang pribadinya terhadap seni rupa kontemporer dan budaya populer dari posisinya berdiri sehari-hari. Membuat karya seni rupa dan berpameran adalah hobby, seperti halnya membuat lagu dan pentas bersama band. Kegiatan yang ia lakukan untuk mencari kesenangan, menukarnya dengan waktu, energi dan banyak hal lain yang tidak sedikit, yang biasanya tercurah untuk pekerjaan dan keluarga. Jadi buat Farid, berpameran dan pentas bersama band adalah sebuah kemewahan. Karena ini sebuah kemewahan, Farid tidak akan pernah menyia-nyiakannya begitu saja, Farid akan meluapkan diri setumpah-tumpahnya, dan menikmatinya dengan amat sangat.

Terlalu miskin untuk budaya populer, terlalu lapar untuk seni kontemporer.

*Disadur dari tulisan Farid Stevy untuk pameran Too Poor for Pop Culture.

Pameran Farid Stevy Asta_Too Poor for Pop Culture2_Revius

Pameran Farid Stevy Asta_Too Poor for Pop Culture3_Revius


Baca artikel lainnya

Saya Seniman yang Ingin Bersenang-senang

Dominasi Musik Idealis para Musisi Indie

Kepalkan Tangan, Teriakkan Persatuan

Berbagi Impresi Bandung Berisik

Tidak Memerkosa Sejak dalam Pikiran