Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Sera menepuk-nepuk pipinya menggunakan kedua tangan. Dia duduk di depan tungku penghangat ruangan. Udara mencapai minus delapan derajat. Menurut ramalan cuaca, suhu ini akan tetap bertahan hingga dua tahun ke depan. Ditambah musim panas dengan angin kencang yang bertiup dari utara. Ia membacanya dari komputer umum milik desa.

Bulan Maret akan segera berakhir. Tahun ini, pemerintah dunia akan menetapkan kebijakan untuk menambahkan satu bulan lagi dalam jumlah bulan per tahun. Total satu tahun akan menjadi lima belas bulan. Kebijakan tersebut diambil oleh pemerintah dunia untuk menanggapi perhitungan waktu yang kian meleset setiap tahunnya, diakibatkan rotasi bumi yang semakin melambat karena semakin jauh dari matahari.

Tahun 2978 menjadi tahun tersulit bagi Sera. Di ulang tahunnya yang ke 16, ia harus menjadwal ulang perayaan ulang tahunnya karena mesti mengurus perpindahan tanggal lahir. Pemerintah mewajibkan setiap orang menghitung kembali kepastian hari lahir mereka dengan rumus yang telah diberikan sebelumnya. Hasil perhitungan tersebut harus diberikan kepada petugas kehidupan umum untuk didata kembali. Kebijakan yang aneh menurut Sera.

Sera meraih kemiri hangat yang baru saja diletakkan Ibunya di meja. Setiap kali ia meminum kemiri hangat, ia selalu ingat akan dongeng yang diceritakan neneknya. Konon, orang-orang tidak meminum kemiri hangat. Zaman dahulu ada banyak biji-bijian atau dedaunan yang dapat dijadikan minuman. Ada yang bernama coklat, kopi, teh, apel, pear dan banyak nama lainnya yang ia temukan dalam buku sejarah bumi. Ia ingin sekali mencicipi nama-nama yang disebutkan neneknya dalam dongeng. Namun apa daya, yang bisa tumbuh hari ini, setelah bencana radiasi terjadi di bumi, hanyalah kemiri.

Tiba-tiba lamunan Sera buyar karena mendengar keramaian di luar rumah. Bunyi langkah yang bersumber dari banyak orang membuatnya beranjak dari depan tungku dan menuju jendela. Dari balik tirai, ia melihat orang-orang menuju komputer desa. Jika sudah begitu, maka pasti ada sesuatu yang penting di sana.

Bergegas Sera keluar dari rumah. Ia berlari kecil sambil memakai sarung tangan hadiah dari paman Zayan. Dengan gesit ia melewati beberapa orang sebelum menyiku lengan Celo, teman sekelasnya.

“Kamu tau ini kenapa?” Sera menunjuk kerumunan orang di depan komputer desa.
“Kata Ayah ada penemuan artefak baru. Dari tahun 2016”
“wiiiihhhh pasti Skradabal”

“skradabal?”
“itu istilah asik tahun 2394. Gak baca artefak dua minggu lalu sih. Gak skradabal ah!”
“haha. Yang penting gaul, Sering ke lapangan! Emangnya kamu baca artefak melulu!”
“hahaha…..sssssstttttt. Jangan ribut ah. “

Akhirnya mereka sampai di depan komputer desa. Sera mengamati apa yang tertulis di hadapannya. Komputer dengan tinggi setengah meter dan lebar layar satu meter ini adalah komputer pembagian dari pemerintah kepada setiap desa di dunia. Setelah bencana radiasi tahun 2838, manusia sepakat untuk menjadikan seluruh dunia menjadi satu pemerintahan yang secara langsung membawahi puluhan juta desa.

Bencana radiasi tahun 2838 menjadi awal baru bagi dunia untuk menata kehidupan. Bencana yang menelan korban tiga-per-empat penghuni bumi baik manusia, hewan, atau tumbuhan, menyisakan pilu bagi generasi bumi selanjutnya karena hilangnya data dunia secara keseluruhan akibat kegagalan jaringan saat bencana radiasi.

Oleh sebab itu, pemerintah membentuk agen peneliti untuk mencari apa saja yang mungkin masih tersisa dari jaringan terdahulu untuk menjadi data awal agar bisa memperbaiki dunia hari ini. Penemuan data tersebutlah yang dimaksud dengan artefak. Penemuan artefak oleh agen ini akan dibagikan ke seluruh desa di dunia. Kali ini yang ditemukan adalah artefak dari tahun 2016. Ini artefak paling tua yang ditemukan sejauh ini. Sera sangat senang mengetahui hal tersebut. Setelah menunggu kurang lebih lima menit untuk memastikan seluruh warga desa telah berkumpul, akhirnya mereka mulai membaca artefak bersama-sama.

22 Januari, 2016

Pukul empat pagi dan mata saya tak bisa lepas dari layar telepon genggam.

Semenjak punya telepon genggam, saya memang suka pura-pura insomnia. Seolah-olah tak bisa tidur padahal tak bisa membiarkan telepon genggam saya menganggur terlalu lama. Kebiasaan ini hinggap di diri saya sejak kelas dua sekolah menengah pertama. Dengan memegang telepon genggam, saya yang ada di rumah bisa tiba-tiba juga berada di kamar Sheila, sahabat saya sewaktu SMP, atau juga di rumah Yayu, yang juga sahabat saya.

Saat itu Saya menjadi orang yang sibuk. Berada di rumah sendiri, sekaligus di rumah Sheila dan Yayu. Di rumah Sheila, saya hadir dengan kode yang ada di layar telepon genggamnya. Begitu pula di rumah Yayu. Sheila dan Yayu juga hadir di rumah saya dengan cara yang sama. Kami bertiga seolah menjadi planet yang membuat galaksi kami sendiri dan tak membiarkan satu orang pun mengurangi jatah orbit kami.

Itu dulu, saat telepon genggam hanya menjadi alat penghubung satu sama lain. Hari ini, telepon genggam menjelma menjadi sesuatu yang sangat cerdas. Telepon genggam menyerap kekuatan alam raya dan menjadikannya sebagai layar ke mana saja.

Jika saat SMP saya hanya bisa ke rumah Yayu atau ke rumah Sheila, sekarang saya sudah bisa ke Rumania, Zimbabwe, Uzbekistan, atau Polandia. Sesekali saya juga mengunjungi Pantai Apparalang, Danau Tempe, kebun teh Malino, atau tempat lain yang sering dikunjungi orang-orang seperti kafe atau mall.

Dengan layar kemana saja, saya bahkan tak usah menentukan ke mana tujuan saya akan pergi. Saya cukup memandanginya dan menekan beberapa tombol yang akan memberikan saya suguhan tempat di manapun atau apapun yang sedang digandrungi banyak orang. Saya bisa keliling dunia tanpa harus berpindah tempat.

Hari ini telepon genggam bukan hanya menghubungkan saya dengan orang yang saya tuju, tapi menjadi tujuan saya sendiri. Saya tak mau melewatkan apapun yang disajikan oleh layar ke mana saja. Saya bisa tiba-tiba berada di ruang artis tempat Syahrini maju-mundur-cantik atau di belakang mobil putih tempat polisi dengan senapan panjang berjaga-jaga menyergap pelaku bom sarinah.

Awalnya saya merasa senang bisa berada di mana saja. Namun saat ini, ketika saya sedang menulis tulisan ini, saya tetap tak bisa lepas dari genggaman layar ke mana saja. Sesekali mata saya akan meliriknya untuk diminta dibawa ke mana saja. Saya tak lagi menggenggam telepon. Kini saya di genggaman telepon. Saya merasa berada di mana saja sekaligus tidak dimana-mana.

Sera berhenti membaca artefak sampai di situ dan memilih untuk tak meneruskannya. Ia melangkahkan kaki dan memutuskan pulang ke rumah. Sejak bisa membaca hingga kini, Ia sudah membaca ratusan artefak yang menggambarkan tentang ketidakberdayaan nenek moyangnya dulu dalam menghadapi teknologi. Bahkan artefak paling tua yang ia baca hari ini, juga menuliskan hal yang sama. hal itu membuatnya menjadi gadis pembenci. Ia benci menjadi dirinya hari ini. Generasi yang tinggal di bumi yang rusak karena kekonyolan nenek moyang yang tak bisa menahan diri, generasi yang menerima hukuman tanpa harus berbuat salah. Ia benci tak bisa pergi ke mana saja seperti nenek moyangnya. Ia benci tak bisa berada di sini sekaligus di sana. Ia benci ingin merasakan apa yang dirasakan nenek moyangnya dulu.

Ia benci hidup di zaman ini, yang hanya bisa meminum kemiri. []


Baca tulisan lainnya dari Viny

PHP, Wacana yang Mengombang-ambingkan Mahasiswa

Media Massa, Media Maksa

Maniang dan Sekolah Barunya

Manusia dan Warisan Tuhan

Pidi Baiq, Si Manusia Selundupan

Skenario Drama Kota

Untuk Anak-anakku

Kala Teater di Kala Malam