Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Pertanyaan sederhana yang kiranya akan saya bisikkan, andai bahasa Indonesia memiliki sepasang telinga.

Jadi suatu malam saya membuka gawai dan membaca sebuah cerita pendek. Penulisnya adalah salah seorang teman yang saya kenal dari sebuah kelas menulis kreatif. Kelas yang tiap pertemuannya membahas soal cerpen masing-masing orang. Orang-orang yang dibahas cerpennya pun harus berbesar hati. Sebab lagi-lagi kata Aan Mansyur, pujian adalah ujian yang selalu tersembunyi dibalik huruf P.

Ketika kelas dimulai, saya mendapatkan kesempatan pertama untuk berkomentar. Saya suka isi cerpen itu. Ia bertutur dengan bahasa Indonesia yang lugas dan pemilihan diksi yang tepat. Namun saya kecewa dengan pemberian judulnya. Berbahasa asing, bahasa Inggris. Saya menatap mata si penulis. Dia tertawa dan tertunduk lalu entah berpikir apa.

Esoknya saya mendapati diri menjadi resah sendiri. Dengan semangat menggebu, saya membuka mesin pencari dan mengetikkan kalimat sejarah bahasa Indonesia. Ternyata itu berasal dari bahasa Melayu pada zaman dahulu. Lebih tepatnya pada zaman kerajaan Sriwijaya. Bahasa Melayu rupanya banyak sekali digunakan sebagai bahasa penghubung antar suku di pelosok Nusantara. Kemudian menjadi bahasa perdagangan antara pedagang dalam hingga luar Nusantara.

Pada buku Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menggambarkan bahwa manusia-manusia Indonesia yang sudah menjadi manusia Pancasila, akan menjadi motor pendorong yang teguh untuk melaksanakan pembangunan lahir dan batin bangsa Indonesia. Lalu bagaimana caranya?

Dia Bernama Bahasa Indonesia.

Perkenalkan dan anggap dia sebagai bagian dari kita. Bagian dari ‘manusia’ normal pada umumnya. Dia dilupakan dan berusaha digantikan. Dia tua dan sudah lupa dilestarikan. Lalu datanglah isu bahwa muncul ‘she’ yang lebih bersemangat. She dipuji oleh semua negara. Alasannya sederhana, karena she mendunia. Karena semua orang menggunakannya. Jadi mau  tidak mau, kita harus menerimanya sebagai bagian dari kita.

Suatu hari, dia berjalan ke sebuah tempat kekinian dan mendengar orang-orangnya bercakap. Dia teringat, dahulu ada orang yang sering mengucapkan sebuah kalimat untuk menyatakan cinta pada kekasihnya. Itu sekitar 20 atau 25 tahun yang lalu. Kalimatnya begini; “Wahai adik yang rambutnya seperti mayang terurai, alis matanya bagai lebah beriring, bibirnya mekar merah delima, betisnya bagai padi bertelur, maukah menjadi kekasihku?”

Dia tersenyum. Dia berpikir, jika kamu melakukan itu di tahun ini, kamu akan ditertawakan. Bisa pula disangka menjadi bagian dari salah seorang sastrawan yang sinting. Dia merenung. Dia pikir kalimat semacam itu hanya akan berakhir di buku-buku bahasa Indonesia yang berdebu di sebuah perpustakaan yang sepi pengunjung.

Dia ingin sekali berteriak pada semua yang selalu semaunya. Bahwa sebenarnya, dia tidak pernah menuntut banyak, hanya ingin tetap digunakan meski tidak sekaku dulu. Dia bisa meringankan kamu pada bagian itu. Dia tidak ingin digantikan hanya karena alasan, itu terdengar lebih baik di telinga-telinga mereka yang percaya. Hanya ingin terus hidup dan dapat digunakan oleh generasi yang akan datang. Meskipun entahlah, mungkin lebih menguasai she dan lupa akan bahasa ibunya sendiri.

Dia merenung. Apakah esensi sebuah kata asing akan berubah jika diganti dengan aku saja? Atau apakah karena aku sudah tua dan tidak seprima dulu lagi? Dia berbicara sendiri. Bisakah kamu tidak menggunakan she jika kamu masih bisa menggunakan aku? Dia percaya, bahwa sungguh dia masih bisa hidup dan tumbuh subur. Meski hanya dalam hati mereka yang meyakini.

She Bernama Bahasa Inggris.

Perkenalkan. She datang karena permintaan orang-orang besar di dunia. Mereka bilang, bahwa She dibutuhkan. She pun digunakan hampir pada semua negara. Lalu disematkanlah julukan ‘bahasa Internasional’ kepadanya.

She masuk ke sebuah negara yang bernama Indonesia. Berkenalan dengan dia yang selalu bercerita banyak hal. Termasuk tentang dirinya yang perlahan terlupakan. Dia berkata bahwa orang-orang di Indonesia mulai jauh dari bahasa ibu. She prihatin. Dia bilang, itu karena mereka menganggap she lebih baik dan tidak ketinggalan zaman seperti dirinya. Padahal she merasa bahwa mereka setara. Namun dia ternyata berpikiran berbeda.

Kemudian She mulai merasa bersalah. Lalu berjalan dan menemukan beberapa orang. She berhenti dan bertanya. Salah seorang berkomentar, “Aku lebih suka menggunakanmu. Karena aku sudah terbiasa dan menurutku mudah saja mengungkapkannya.” Seorang di sebelahnya berkata, “Aku juga suka menggunakanmu. Karena menurutku itu tidak berlebihan. Tidak harus berbicara panjang lebar untuk memuji temanku. Sebab pasti mereka mengatakan aku berlebihan sekali. Jika memuji dengan memakaimu saja, tentu mereka akan langsung mengerti.”

She pulang dan dia tampak lesu untuk sekadar menyambut.

Alena Bernama Bahasa Daerah.

Alena juga merasakan hal yang sama dengan dia. Bahkan lebih parah dari itu. Alena saat ini digunakan hanya pada orang-orang tua. Orang tua yang masih memegang teguh adatnya. Seiring dengan alena yang juga semakin dilupakan.

Alena suatu hari berkunjung ke kotanya. Mendapati orang-orang yang memakai pakaian bagus dan nampak menyilaukan mata. Alena merasa patah hati. Lantaran mereka memakai she dan “dia” secara bergantian. Alena tahu orang-orang itu. Mereka sering menggunakan alena sewaktu kecil. Sewaktu masih  berada di rumah. Berada di kampung halaman.

Semenit kemudian alena mengenang. Dahulu, mereka sering diajarkan menggunakan alena saat berbicara dengan saudara-saudaranya. Saat bermain dengan teman sebaya. Pula saat mengetuk pintu rumah tetangga untuk meminta sedikit gula. Mata alena berair. Alena merasakan perih yang sulit dijelaskan.

Tapi Alena bingung harus menyalahkan “dia” atau she. Alasannya sederhana saja karena untuk sekadar berbicara, bukan dia, alena, dan she yang menentukan. Namun orang itu sendiri.

Ea bernama Bahasa Latin.

            Surat dari Ea ditemukan oleh Alena, She, dan Dia di sebuah laci tua. Sebuah obituari yang ditulis di sebuah kertas panjang tergeletak di sampingnya. Surat itu bisa dibaca dengan bahasa yang mereka pahami. Mereka membacanya dengan perlahan;

Namaku Ea. Entah kapan kalian akan menemukan ini. Tapi tentu saja aku sudah tidak ada lagi. Secara semantik, orang di zaman kalian akan menyebutku sudah mati. Meski sampai surat ini kutulis, aku merasa yakin tetap hidup dan tumbuh menjadi bahasa-bahasa lain.

            Adalah kekaisaran Romawi yang pertama kali menerapkan aku untuk digunakan oleh semua masyarakatnya. Roma merupakan entitas politik yang sangat kuat dan berpengaruh di zamanku. Hasilnya pasti bisa kalian tebak. Aku kemudian menyebar dan terus digunakan selama satu periode abad pertengahan dan tetap menjadi bahasa utama.

            Namun tiadanya lagi kekaisaran Romawi yang membuatku menjadi bahasa pemersatu itu, ternyata banyak daerah yang kemudian mengembangkan aku menjadi dialek yang berbeda. Menjadi unik dan sayangnya juga semakin menjauh dari diriku sendiri.

            Sebut saja ada bahasa Spanyol, Portugis, Italia, dan Perancis yang merupakan bahasa-bahasa dunia dan semuanya berakar dariku. Ada juga bahasa Romansh yang digunakan di bagian sangat  kecil dari Swiss dan mungkin merupakan bahasa modern yang paling menyerupai diriku.

            Cukuplah aku menuliskan surat ini sebagai pengantar saja untuk kalian. Jaga persahabatannya dan jaga kesetaraannya ya. Aku tahu, aku beruntung kalian bisa membaca keluh kesahku ini.

            Surat dari Ea berakhir. Dia, Alena, dan She mulai berpandangan. Mereka saling memegang tangan. Meskipun Alena merasa sedikit bergetar, Dia dengan tangannya yang dingin, dan She yang tetap baik-baik saja namun diamuk banyak badai dalam hatinya.

Itu adalah sekelumit cerita yang berasal dari ‘mereka’ yang sering digunakan. Bahasa Indonesia yang kemudian dianalogikan dengan kata dia, sungguh sedang berusaha sehat-sehat saja pada abad 21 ini. Bahasa Indonesia tidak ingin berakhir seperti Ea yang menitipkan surat dan sebuah obituari. Bahasa Indonesia pun akan terus meyakini. Bahwa orang-orang tempat dia tumbuh akan segera sadar. Bahwa bahasa Indonesia akan kembali digunakan meski dengan perubahan di sana-sini. Namun bahasa Indonesia tetap tidak bisa melakukan apa-apa. Kelanjutan hidupnya kini ada di tangan kita. Silakan dipilih dan semoga tidak menyesal. []


Baca tulisan lainnya dari Nurul Fadhillah

Untuk Kamu yang Masih Peduli Kepada Bumi

Menangis dan Belajar Berbahagia

Panggung Menjadi Ruang-Ruang Kebebasan

Tentang Keheningan di Sela Acara Tawa

Ketakutan Saya tentang Makassar di Masa Depan

Sebut Saja ini Keberuntungan Pemula

Belajar Mengingat Hari Bersama Yetti