Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Kata orang, tak ada Ramadan yang akan terasa sama. Bagi saya pribadi, Ramadan kali ini berbeda karena anggota keluarga saya berkurang tiga orang, tidak ada pilihan lain selain membiasakan diri hingga kekurangan ini terasa normal. Selain itu, Ramadan kali ini bertepatan dengan pagelaran pertandingan sepak bola antara negara-negara terbaik di Eropa. Bagi penikmat pertandingan sepak bola dan fans layar kaca seperti saya dan mungkin bagi beberapa orang, hal ini akan menjadi sedikit hiburan pengisi waktu menunggu sahur, setidaknya lebih berfaedah dibandingkan melakukan kegiatan melelahkan di luar rumah atau membuka tube-tube lain selain YouTube (tapi tetaplah yang terbaik mungkin adalah mengaji atau sholat malam). Ya, bagi saya ada romantisme tersendiri antara bulan puasa dan sepak bola. Mereka adalah dua hal berbeda yang saling melengkapi. Sebenarnya di luar Ramadan pun ada Liga Champion. Tetapi, pertandingan sepak bola rasanya berbeda jika bertepatan dengan bulan puasa. Kita merasa lebih ikhlas dalam menerima dan memaklumi jadwal tayangnya dengan lebih sedikit kekhawatiran akan bangun kesiangan esoknya.

Sayangnya, setelah terbiasa dengan perubahan suasana di dalam rumah, puasa yang cukup lancar, piala Eropa kali ini yang sekarang sudah mencapai fase knockout 16 besar, terasa sangat biasa saja. Semua tim-tim andalan berasa di sisi pot yang sama jadi kemungkinan final dini tidak terhindarkan. Selama fase group juga walaupun tidak menonton semuanya, namun dari berita atau pembahasan di media pertandingan yang menarik dan seru sangat sedikit. Hal itu membuat saya kadang hanya menonton satu babak saja selebihnya hanya mengikuti live tweet dari akun-akun  bertema sepak bola di Twitter. Namun di salah satu pertandingan, kalau tidak salah ingat, saat tim favorit saya Belgia dikalahkan Italia dengan skor 2-0, saya melihat cuitan yang menampilkan foto yang mengejutkan karena berisi pengumuman bahwa stasiun TV di bawah naungan MNC group yaitu RCTI, MNCTV, dan Global TV menarik siarannya dari jaringan TV kabel secara menyeluruh.

Pengumuman penghentian itu didasarkan pada surat edaran dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Indonesia Cable TV Association (ICTA). Isinya, semua TV kabel harus menghentikan saluran milik PT Media Nusantara Citra Tbk tersebut. Surat tertanggal 14 Juni lalu harus diterapkan. Surat langsung ditandatangi oleh Presiden ICTA, Faisal Ershad dan Sekretaris Jenderal ICTA, Mulyadi Mursali yang ditembuskan langsung ke Menteri Komunikasi dan Informatika RI. Dengan surat tersebut, semua LPB TV kabel harus menurunkan siaran dari grup MNC TV. Jika melanggar, maka Lembaga Penyiaran Berlangganan (LPB) TV kabel diancam kurungan paling lama 2 (dua) tahun dan denda Rp5 miliar. Hal ini sesuai ketentuan pasal 12 (a) peraturan pemerintah nomor 52 tahun 2005 bahwa Penyelenggaraan Lembaga Penyiaran Berlangganan disyaratkan harus memiliki hak siar atas setiap saluran yang disiarkannya.  Banyak pendapat soal langkah MNC Group ini, ada yang mengatakan ini monopoli yang harus ditindak tegas oleh KPI, ada yang bilang ini langkah bisnis, dan sebagainya. Apapun alasannya, saya kecewa dan patah hati saat melihat foto pada twit itu. Saya langsung terbayang dialog dalam adegan film Ada Apa Dengan Cinta 2 di mana Cinta dan Rangga bertemu di café dan ada kalimat yang diucapkan Cinta kepada Rangga hingga viral di dunia maya.”Apa yang kamu lakukan ke aku itu, ja…hat.” Iya, MNC Group, yang kamu lakukan itu ja…hat.

Solusi sebenarnya sederhana, pakai saja antena standar biasa atau antena dalam (manual) namun tidak sesederhana itu di rumah Oma saya. Semua penghuninya punya trauma tersendiri dengan antena yaitu kerumitan naik di genteng mencari posisi yang pas. Itu pun bila satu stasiun TV yang jernih gambarnya belum tentu yang lainnya juga ikut jernih. Belum lagi kalau cuaca buruk. Jangankan antena rubuh atau tersambar petir, antena yang berubah arah saja sudah bikin frustasi. Begitupula dengan antena dalam (manual), dia juga harus sering diatur dan tidak jarang berakhir dengan tersetrum listrik. Maka pilihan paling bijak adalah menggunakan layanan TV kabel ekonomis tapi punya banyak tawaran tayangan.

Namun masalah utama yang membuat saya kecewa dengan ditariknya tayangan-tayangan dari MNC Group di luar saya harus menonton Euro 2016 di channel lain (saya maunya RCTI, titik!) adalah rasa kehilangan yang sangat besar atas beberapa tayangan berkualitas yang sering ditayangkan oleh ketiga stasiun TV tersebut. Pertama, kita kehilangan sinetron-sinetron bermutu terutama yang tayang di RCTI. Sinetron RCTI terkenal laku dan selalu memiliki rating tinggi. Buktinya ada yang sudah menyentuh ribuan episode, luar biasa. Jangan lupakan juga bagaimana sinetronnya yang tidak merepotkan pemirsaya karena tidak mengutamakan logika atau kontinuitas per adegan yang penting ada intrik antara si baik dan si jahat, semua layak tayang. Bahkan pada beberapa sinetron kita disuguhi dengan sedikit tambahan-tambahan animasi (kebanyakan) binatang yang memanjakan mata.

Kita juga kehilangan program infotainment dari ketiga stasiun TV ini yang masing-masing memiliki kira-kira dua sampai tiga tayangan infotainment. Kita kehilangan kesempatan buang-buang waktu untuk mengurusi hidup selebriti, kita kehilangan role model pola hidup mewah dan masih banyak lagi, betapa ruginya kita. Lalu ada variety show musik yang diisi banyak drama dan lelucon bintang tamu ataupun host-nya. Bayangkan betapa dahsyatnya kehilangan kita. Juga acara (semi) reality show yang menginspirasi saya untuk menyusun tulisan Investigasi Serba Kebetulan. Last but not least, saya juga kehilangan buaian merdu Mars Perindo.

Rasanya tak sanggup lagi saya menghitung banyaknya kehilangan yang diakibatkan oleh hal ini. Sekali lagi. Tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. Setelah beradaptasi dengan puasa yang berubah karena kepergian beberapa anggota keluarga, saya harus beradaptasi lagi dengan hilangnya beberapa stasiun TV berkualitas dari TV kabel saya. Saya berharap semoga saja pemilik ANTV, SCTV juga Indosiar tidak terinspirasi untuk mengikuti langkah mereka, bayangkan saja ditinggal saat lagi sayang-sayangnya dan hidup tanpa mereka.


Baca tulisan lainnya

Investigasi Serba Kebetulan

Komunitas yang Mengundang Kebingungan

Komunitas, Jangan Asal Kumpul-kumpul

Tamparan dari Tulisan Spotlight

Menteri yang Lucu

The Power Syndrome

Zaskia Gotik dan Rasa Syukur yang Kupetik

Yang Mengkhawatirkan dari Muda-Mudi Kekinian