Oleh: Wahyudin Opu ( @whyopu ) | Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Berikut ini band-band Makassar yang menurut Wahyudin Opu harus merilis album perdana di tahun 2016 ini.

Jika rutin menghadiri event musik di Makassar, tentu anda akan tahu bahwa skena di kota ini cukup ramai. hampir saban minggu selalu saja ada keriuhan yang hadir di sudut-sudut kota. Tidak melulu konser atau gig dalam skala besar, kemeriahan bahkan bisa datang dari acara kecil-kecilan di ujung gang sempit. Musik menjadi alasan paling sederhana bagi bertemunya orang-orang di kota ini.

Dari keriuhan rutin tersebut, bersemai kemudian band atau musisi-musisi baru. Ada yang muncul satu-dua kali saja, namun ada juga yang terlihat serius dengan konsisten tampil di berbagai event. Band-band tadi kemudian mencuri perhatian kita, para penikmat musik dan acara kumpul-kumpul.  Bukan hanya tampil rutin, mereka juga datang dengan keunikannya masing-masing. Mulai dari komposisi musik yang segar sampai gimmick yang dihadirkan menambah daya tarik di tiap penampilan mereka.

Namun, tentu tampil konsisten dan menarik perhatian saja tidak akan pernah cukup bagi sebuah band. Eksistensi harus diwujudkan dalam bentuk karya. Karya haruslah dibungkus dalam sebuah album. Ucapan salut saya sampaikan kepada mereka yang sukses melakukannya di tahun 2015 lalu. Semoga tahun ini semakin banyak musisi atau band mengikuti jejak pendahulu yang sukses merilis album.

Untuk itulah tulisan ini dibuat.

Lewat tulisan ini saya ingin merekomendasikan beberapa, tepatnya tiga band, yang seharusnya merilis album perdana mereka di tahun 2016 ini. Bukan dijadikan beban, saya berharap ini dapat menjadi semacam motivasi bagi band-band tersebut untuk lebih bersemangat dalam berkarya. Syukur-syukur kalau pada akhirnya mereka betul-betul melepas album tahun ini.

Dengan segala hormat, inilah mereka;

Next Delay

Saya pertama kali menonton Next Delay pada akhir 2013. Saat itu mereka menjadi penampil di salah satu edisi KBJamming. Malam itu mereka meng-cover lagu Kosong milik Pure Saturday, nomor yang kemudian menjadi andalan mereka tiap kali tampil. Namun lagu berikutnya lah yang membuat saya mengingat band ini. Mereka membawakan karya sendiri yang berjudul Menantang Awan, kalau saya tidak salah ingat. Lagu bernuansa british pop ini cukup enak untuk dinikmati walau dengan sound seadanya waktu itu. Saya dan banyak pengunjung KBJamming bertepuk tangan semangat pada akhir penampilan mereka.

Next Delay yang awal mulanya membuka penampilan dengan cukup garing mulai menggila menjelang akhir lagu "Live Forever" dimana Riri, sang lead guitarist pun tidak henti-hentinya meletupkan atmosfer gitar delay berlapis-lapis dari gitarnya.

Next Delay ketika tampil di Musick Bus Fest #1: Tribute to Oasis, 1 Februari 2015.

Sebagai band baru, Next Delay punya cukup modal untuk jadi sesuatu. Secara musikal mereka memainkan musik dengan potensi mudah diterima pendengar. Materi lagu siap rekam pun sudah ada beberapa. Lagi pula mereka mendapat dukungan dari Kedai Buku Jenny dan lingkaran pertemanan komunitasnya. Dan jangan lupa, modal yang tidak kalah penting adalah, para personel Next Delay cukup rupawan dan lucu-lucu. Ini serius loh. Kalau sudah punya album saya kira mereka akan mudah mendapatkan banyak grupis. Ya minimal dedek-dedek gemes skena siap mengajak berkenalan lah. Yeah!

Teman-teman Next Delay, mari merapatkan ikat pinggang demi album impian dan calon grupis idaman. Hahay.

Simak lagu Hemisphere dari Next Delay berikut ini.

 

Titik Bias

Kehadiran Titik Bias baru saya perhatikan pada pertengahan 2015 lalu. Saya sempat beberapa kali menonton penampilan mereka, salah satunya saat menjadi band pembuka konser Mocca di perayaan ulang tahun salah satu distro. Yang membuat band ini mudah diingat adalah musik dan gaya mereka yang gampang untuk dinikmati. Mereka memainkan folk manis, genre yang akhir-akhir ini sangat mudah untuk diterima telinga. Tiap kali tampil, para personil Titik Bias bergaya seperti orang yang sedang piknik di taman atau sebuah dataran tinggi. Vokalis mereka, Nisa sepertinya senang bergaya hippie lengkap dengan hiasan kepala, sedangkan Rijal (gitar) dan Amin (gitar/xylophone) berpenampilan santai ala musisi grunge dengan kaos dan jeans belel. Sungguh sebuah konsep yang pas.

Penampilan Titik Biasa yang semakin intensif di panggung-panggung musik Makassar harus dibayar dengan adanya rilisan fisik mereka tahun depan. Amin!

Penampilan Titik Biasa yang semakin intensif di panggung-panggung musik Makassar harus dibayar dengan adanya rilisan fisik mereka tahun ini. Amin!

Dengan segala potensi tersebut, tidak berlebihan jika Titik Bias masuk dalam daftar band wajib album tahun ini. Menurut sebuah sumber (yang semoga dapat dipercaya) mereka sudah memiliki beberapa materi lagu dan memang sedang mempersiapkan sebuah album. Tinggal waktu rilisnya saja yang belum pasti.

Jadi, Titik Bias, janganlah membuat kami menunggu terlalu lama. Kami sudah tak sabar untuk piknik sambil mendengarkan album kalian. Simak penampilan mereka membawakan Sajak Harapan dalam program #BunyiKota berikut ini.

Ruang Baca

Kalau tidak salah, nama awal dari Ruang Baca adalah Meet Me at Library. Para personilnya terdiri dari dua orang pustakawan Katakerja, salah satu ruang kreatif di Makassar yang dibangun oleh Aan Mansyur dan beberapa kawannya. Personil awal saat bernama Meet Me at The Library adalah Eka Besse Wulandari dan Saleh Hariwibowo dan setelah berganti nama menjadi Ruang Baca, terdiri dari Saleh Hariwibowo dan Viny Mamonto. Tidak hanya bermusik, mereka memiliki misi yang sangat mulia yaitu menebarkan virus budaya literasi.

Ruang Baca, duo folk akustik yang rupawan dari Makassar pun akhirnya menjadi penampil selanjutnya. Ruang Baca yang terdiri dari Saleh Hariwibowo dan Viny Mamonto, mengundang rasa penasaran saya untuk melihat penampilan mereka untuk pertama kalinya.

Ruang Baca, duo folk akustik yang rupawan dari Makassar ketika tampil di Pekan Depan #1, yang berlokasi di Desa Cempaga, Kab. Bantaeng pada 15 Maret 2015. (Foto: A. Bayu Indra )

Musik yang mereka mainkan hampir serupa dengan Titik Bias. Tapi tentu mereka memiliki daya tariknya sendiri. Karena bertujuan untuk menyebarluaskan budaya membaca, maka lagu-lagu yang mereka usung berkisar di seputar tema itu. Tentu dalam artian yang luas dan tidak kaku. Keunikan lain dari band ini adalah, ini baru saya tahu belakangan, ternyata kedua personilnya, Viny dan Ale, adalah sepasang kekasih. Duh, pantas saja tiap penampilan mereka selalu kompak dan manis. Mereka sangat berpeluang mendapatkan lebih dari sekedar tepuk tangan dari pendengar, tapi juga seruan “cie cie cie…” Hehehe.

Segala keunikan Ruang Baca tersebut semakin lengkap karena mereka didukung oleh Aan Mansyur, penyair kesayangan Indonesia saat ini. Saya membayangkan divisi lirik mereka akan sangat kaya dan penuh arti. Kalau boleh menyumbang saran, untuk melengkapi konsep yang telah dibangun, cobalah untuk berkolaborasi dengan perupa yang juga pasangan kekasih. Iya, yang saya maksud adalah Ina Waloni dan Gunawan Adi. Mintalah mereka untuk membuat artwork album kalian nanti. Atas nama cinta dan skena, saya yakin mereka tidak akan keberatan.  \m/

Jadi, siapa di sini yang sudah tidak sabar dengan sebuah album dengan konsep yang sangat menarik? apa, tidak tertarik? Dasar kamu jomblo sirik!

 

Itulah tiga band Makassar yang menurut saya seharusnya merilis album pada tahun ini. Dengan segala keterbatasan pengamatan yang saya miliki, tentu tulisan ini masih jauh dari kata komprehensif untuk merekam semua musisi dan band potensial di kota ini. Aku mah apa atuh, sejak pindah ke Papua beberapa bulan lalu, saya semakin jauh dari skena dan hingar bingar konser, khususnya di Makassar. Kalau ada yang merasa demikian, daftar ini masih dirasa kurang, tentu akan lebih baik untuk menambahkan di kolom komentar artikel di bawah ini atau membuat tulisan selanjutnya lagi, silahkan. Saya akan berterimakasih untuk upaya bersama itu. Terakhir, Selamat Tahun Baru 2016 untuk kita semua. []


Tulisan lainnya terkait dengan Wahyudin Opu

Musisi Indie Makassar Favorit

Humor yang Tidak Lucu di Kampus Merah

Memahami untuk Membasmi

Panggung Memukau Milik Musisi Indie

Membisingkan Ide dan Musik dalam Garasi

Hanya Ada Satu Kata Untuk Korupsi: Lawan!