Oleh: Shany Kasysyaf ( @shanykasysyaf )| Foto: BarruMembaca ( @barrumembaca )

Sebagai mahasiswa rantauan di Makassar, kamu tidak akan pernah mampu mengelak dari satu pertanyaan yang biasanya pasti ada dalam sebuah obrolan saat perkenalan “dimana kampungmu?” Kenapa? karena sebagai salah satu kota besar, Makassar akan selalu jadi kata ganti tujuan bagi beberapa perantau. Bila sudah terjebak dalam situasi genit seperti itu, biasanya saya akan memberikan dua kemungkinan jawaban “Polman atau Parepare”, tergantung siapa lawan bicara saya saat itu.

Alasan kenapa saya menjawab Polman, karena saya pernah tinggal paling lama di sana. Menghabiskan seluruh masa SD dan saya biasanya ke sana setiap tahun untuk bersilaturahmi sehabis lebaran. Sementara Parepare, karena sebagai kota asal, saya menghabiskan masa SMA di MAN 2 (bukan model) Parepare. Meski saat bersekolah di Parepare, secara administratif dan memang kawasan, tempat tinggal saya masih tercatat sebagai bagian dari Kabupaten Barru, di perbatasan Barru lebih tepatnya. Sehingga untuk tetek bengek catatan kependudukan, ada beberapa urusan administrasi yang harus diselesaikan di Ibukota kabupaten yang tidak main-main jaraknya.

Hal tersebut yang kira-kira sering membuat saya menyembunyikan ke-Barru-an saya. Hal yang barangkali dialami oleh mereka semua yang tinggal di tapal batas, entah Negara maupun kota. Bilapun setidaknya cukup sepadan saya disebut orang Parepare berdasarkan tempat kelahiran, itu bukan karena orangtua saya ingin meng-Habibie-kan anak-anaknya (dari empat anak, tiga diantaranya lahir di Parepare). Melainkan rumah sakit di Barru pada waktu itu hanya ada di ibukota kabupaten.

Walau berdomisili di tapal batas Barru dan Parepare, ada beberapa hal belakangan yang membuat saya hendak menjatuhkan pilihan untuk bersetia pada Barru saja. Pertama saya sadar, bahwa yang mencetak SIM, STNK, Kartu Keluarga, hingga tempat orang tua saya bekerja, adalah Barru semata, sementara Parepare hanya tempat untuk berbelanja, dan untuk alasan jarak jadi tempat paling terjangkau untuk bersekolah.

Kedua, setelah ikut serta dalam kegiatan BarruMembaca Community Night & Book Camp pada 2-3 Juli 2016 di Wisata Pantai Ujung Batu. Acara yang mempertemukan anak-anak muda Barru yang berkomunitas. Tidak seperti kota daerah Pangkep dan Maros, muda-mudi Barru biasanya sulit ditemukan berkumpul di pinggiran jalan. Ini dikarenakan tiap komunitas punya semacam basecamp yang biasanya merupakan rumah salah satu anggota dan dipilih menjadi tempat perkumpulan.

Di kegiatan BarruMembaca Community Night & Book Night Camp, saya sebagai satu-satunya peserta dari Makassar mewakili MARABUNTA (sejenis Mapala di Fakultas Psikologi UNM, tapi berbeda). Saya bertemu dengan beragam komunitas di sini. Mulai dari pegiat jalan-jalan dengan nama unik seperti Balala Trip, Selfie Trip ,hingga yang sedang populer macam My Trip My Adventure. dan Pejalan Barru serta Parepare. Salah satu di antar komunitas tersebut berpesan bahwa “Trip tanpa foto adalah HOAX”. Sementara yang lain menjelaskan, meskipun hanya komunitas yang senang jalan-jalan, mereka adalah komunitas yang peduli lingkungan dan anti nyampah di lokasi kunjungan.

Selain komunitas jalan-jalan, ada juga anak-anak motor yang berbakti pada orang tua dan hobi donor darah serta menolong sesama. Ada BIMCO (klub motor Ya**tit) , dan BACO (pecinta motor klasik) yang konon masih berkerabat dengan si Boy Anak Jalanan. Ada juga BASI (Barru Sinematografi) yang menjaring para sineas dan fotografer muda berbakat Barru ke dalam satu lingkaran, menariknya jika disuruh memilih, mereka akan lebih memilih objek wisata atau semua hal tentang Barru sebagai sasaran bidik ketimbang adek-adek SMA seksi yang sering dikambing hitamkan oleh bapak-bapak di mimbar ceramah. Untuk pecinta kopi, jangan lupakan BAGIS (Bahagia Selalu) warung kopi yang para baristanya berbaik hati membagikan pengetahuan seputar kopi, mulai dari sejarah, cara pemilihan, pengolahan, hingga cara penyajian.

Bukan hanya komunitas yang berhubungan dengan minat, Community Night & Book Camp juga dihadiri komunitas dan gerakan-gerakan sosial. Sebut saja Street Store yang membuka distribution outlet dhuafa untuk masyarakat belum berkecukupan, agar mereka mendapat kesempatan merasakan betapa bahagianya memilih dengan bebas saat berbelanja tapi tanpa dipungut biaya. Gerakan cibu-cibu yang mewadahi kesenangan berbagi, hingga gerakan peduli pendidikan bagi anak-anak di kaki gunung seperti Sokola Kaki Langit turut pula hadir. Oh iya, ada juga komunitas bersepeda peduli lingkungan bernama Four C yang mengkampanyekan bike to work di Barru, semacam antisipasi kalau-kalau Barru terindikasi menjadi kota Metropolutan seperti dalam lagu Navicula.

Atau bila kamu menggemari teori konspirasi bahwa bintang akan lebih terang bila cahaya lampu kota samar-samar. Lokasi community night & book camp yang kebetulan diadakan di Wisata Pantai Ujung Batu akan menjamin pembuktian teori tersebut, kamu bisa mengajak kekasihmu suatu hari untuk bermesraan di sini. Selain temu komunitas, juga ada event lain yang tak kalah unik. Seperti lomba sitahangngang (bertahan paling lama) membaca buku yang seumur-umur baru saya temui di sini, sahur bareng, foto bareng, dan nonton Piala Eropa 2016 bareng-bareng, reading corner, ditambah bonus hiburan dari musisi B+ (Barru Positif) yang memanjakan telinga. Juga jangan lupakan kehadiran portal informasi Barru.Org yang katanya berniat menjadi kompetitor Revius.

Meski belum banyak orang Barru yang sukses menjadi inspirasi bagi kaum muda di pentas nasional, hal itu sepertinya belum cukup jadi alasan bagi golongan muda Barru untuk berhenti berkarya demi mengangkat derajat daerahnya. Selemah-lemahnya di mata golongan mudanya sendiri. Dengan harapan, Barru kelak punya sesuatu yang dibanggakan sebagai kampung halaman, meski sebenarnya hal tersebut telah tercapai setidaknya di mata saya.

Dan karena semua hal tersebut, bahkan penghuni tapal batas seperti saya pun akan kehabisan alasan untuk menduakan Barru meski sebelumnya lebih mesra dengan kota tetangganya. Mohon maaf, Parepare. Setelah ini, kita tidak bisa lagi bermesraan. Tapi kita masih bisa tetap jadi teman baik, kan?


Baca tulisan lainnya

Mengintip Ramadan Mahasiswa di Makassar

Lima Film Berwajah Islam Layak Tonton di Bulan Ramadan

Puasa, Sosialita, dan Narasi Anti Tembakau

Selamat Menyenangkan Ibadah Ramadan!

Merayakan Kekalahan

Oh, The Masjid You’ll Go!