Oleh: Anhar Dana Putra ( @anhardanaputra )

Budaya membaca adalah sebuah budaya masyarakat yang memiliki peran yang sangat krusial dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Peradaban negara-negara Eropa, Amerika, China, serta Jepang yang saat ini terbilang maju, tak lepas dari kebudayaan masyarakatnya yang sejak dulu akrab dengan buku-buku. Jika dilihat dari kacamata sejarah, hampir semua tokoh-tokoh besar dunia juga merupakan orang-orang yang sangat rajin membaca buku, sebut saja Sir Isaac Newton, Albert Enstein, Sigmund Freud, hingga Stephen Hawking. Barangkali tidak akan pernah lahir karya-karya revolusioner yang pada akhirnya mengubah peradaban dunia dari mereka, jika masyarakat tempat mereka besar tidak memiliki budaya membaca yang mapan.

Indonesia sebenarnya juga punya tokoh-tokoh yang mendunia, Soekarno, Moh. Hatta, Tan Malaka, dan Pramoedya. Ditinjau dari literatur sejarah, dua tokoh tersebut mampu tak tidur semalaman hanya karena membaca buku. Soekarno bahkan mengoleksi buku-buku dari berbagai negara. Bagi mereka, budaya membaca tentu adalah bagian penting dalam membangun masyarakat yang cerdas dan tak perlu dipertanyakan lagi apa yang tokoh-tokoh tersebut telah perbuat untuk kemajuan Bangsa Indonesia.

Namun, buah ternyata jatuh cukup jauh dari pohonnya. Generasi penerus bangsa, yang sepatutnya melanjutkan budaya cerdas yang diwariskan oleh para Founding Father, justru tidak lagi menerapkan budaya membaca sebagai bagian penting dalam berkehidupan. Data dan fakta menunjukkan bahwa Indonesia adalah Negara dengan budaya membaca yang rendah. Hasil temuan United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 2009 menempatkan Indonesia sebagai salah satu yang paling rendah budaya membacanya dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya. Organisasi Pengembangan Kerja Sama Ekonomi (OECD) pada tahun 2010 bahkan mempertegas dengan melansir data bahwa Indonesia menduduki peringkat paling rendah dalam budaya membaca di antara 52 negara di wilayah Asia Timur (Repubika, 2010). Dan menurut data terakhir yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa Masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu dengan menonton televisi (85,86%), atau kegiatan lainnya seperti internet dll (40,2%) daripada membaca (23,46%).

Data tersebut sangat jelas menunjukkan bahwa budaya dan peradaban bangsa Indonesia secara general sedang berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Sebab kemajuan peradaban suatu bangsa sangat bergantung pada budaya membaca masyarakatnya. Masyarakat Indonesia akan sulit melahirkan manusia-manusia yang unggul tanpa menerapkan budaya membaca yang tinggi.

Pemerintah memang telah menyediakan fasilitas perpustakaan umum kepada seluruh masyarakat di setiap daerah namun, kondisi perpustakaan umum yang ada di setiap daerah sangat memprihatinkan. Perpustakaan-perpustakaan umum yang ada sepi pengunjung. Berbagai macam asumsi muncul dalam menyikapi masalah tersebut, misalnya buku-buku yang ada tidak terawat, tidak sesuai dengan selera, tidak mengikuti perkembangan sastra terkini, hingga keadaan ruangan atau gedung yang tidak layak. Pemerintah punya pekerjaan rumah yang cukup banyak dalam membenahi masalah tersebut.

Satu upaya yang patut diperhatikan dalam menanggulangi masalah tersebut adalah pembangunan perpustakaan-perpustakaan alternatif oleh komunitas-komunitas literasi secara swadaya dan mandiri. Perpustakaan alternatif tersebut hadir sebagai solusi untuk menggantikan peran perpustakaan umum yang perlahan-lahan ditinggalkan dengan merekonstruksi citra perpustakaan pada umumnya. Buku-buku yang tersedia adalah buku yang relevan dengan selera masyarakat khususnya pemuda, dengan gedung atau ruangan yang dirancang sedemikian rupa agar terlihat menarik untuk menjadi tempat menghabiskan waktu, serta semuanya dapat diakses oleh siapa saja dengan gratis.

Hampir di setiap daerah di Indonesia terdapat komunitas-komunitas literasi yang mendirikan perpustakaan alternatif, mulai dari kota-kota besar seperti Perpustakaan Freedom Institute dan Forum Indonesia Membaca di Jakarta, Biblio Forum Perpustakaan Alternatif di Yogyakarta, Perpustakaan Katakerja dan Kampung Buku di Makassar, bahkan hingga ke desa-desa seperti Rumah Literasi di Kabupaten Soppeng dan Bola Panrita di Kabupaten Sunggu Minasa, Sulawesi Selatan. Kehadiran perpustakaan alternatif berbasis komunitas merupakan tanda bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai sadar akan pentingnya budaya membaca.

Indikasi dan semangat para pegiat kampanye literasi di berbagai daerah tersebut kemudian menginspirasi sekumpulan anak-anak muda Kota Barru yang peduli dengan isu budaya membaca rendah untuk juga menginisiasi gerakan kampanye literasi dan perpustakaan di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Gerakan tersebut dinamai gerakan #Barrumembaca, yang bertujuan untuk mengarusutamakan budaya literasi (membaca buku dan menulis) di kalangan anak-anak muda di daerah khususnya Kota Barru, agar kegiatan membaca dan menulis yang tadinya menjemukan kembali menjadi trend dan terkesan keren bagi anak-anak muda.

pamflet_barrumembaca_revius

Program gerakan #Barrumembaca yang baru-baru ini dilaksanakan sebagai salah satu strategi melakukan mainstreaming budaya membaca di kalangan anak muda di kota Barru adalah membangun Pop-up Library. Pop-up Library adalah perpustakaan sementara yang dibangun di pusat-pusat keramaian seperti taman kota, alun-alun, pusat perbelanjaan, kampus, pantai dll. #Barrumembaca Pop-up Library sendiri dibangun di dua titik pusat keramaian kota Barru yakni di alun-alun kota pada hari jumat 29 Januari & Sabtu 30 januari pada pukul 16.00 – 18.00 dan di pantai Ujung Batu hari Minggu 31 Januari pada pukul 09.00 – 18.00.

#Barrumembaca Pop-up Library nantinya akan diupayakan untuk diadakan setiap dua kali dalam sebulan, yakni di minggu kedua dan ke empat, dan akan bergerak dari satu pusat keramaian ke pusat keramaian yang lain bahkan hingga ke pelosok-pelosok daerah yang ada di seluruh wilayah Kabupaten Barru, sehingga kampanye budaya literasi dan perpustakaan #Barrumembaca dapat menyentuh seluruh masyarakat, khususnya anak muda di Kabupaten Barru tanpa terkecuali.

crew 2_barrumembaca_revius

Para pemuda yang berinisiatif dalam gerakan #BarruMembaca.

Di #Barrumembaca Pop-up Library, para pengunjung dapat membaca buku sepuasnya. Meskipun saat ini buku-buku yang tersedia di #Barrumembaca Pop-up Library masih terbatas sebab merupakan koleksi pribadi kami, namun para pengunjung masih dapat memilih pilihan judul buku (baik itu buku fiksi, nonfiksi, majalah ataupun komik) yang cukup beragam dan up to date. Selain itu, di #Barrumembaca Pop-up Library juga disediakan kursi dan alas tikar serta kopi gratis untuk menunjang kenyamanan saat membaca. Bagi pengunjung yang belum tertarik untuk membaca, #Barrumembaca Pop-up Library juga menyediakan spot dan mock-up unik dan keren untuk sekedar berfoto bersama teman atau berselfie ria.

buku 2_barrumembaca_revius

keep calm and read a book!

Selama tiga hari pelaksanaan, animo masyarakat, khususnya anak muda kota Barru terhadap kehadiran #Barrumembaca Pop-up Library bisa dibilang cukup tinggi. Terbukti dengan maraknya hashtag dan publikasi gambar #Barrumembaca yang dibagikan di sosial media dan banyaknya dukungan berupa donasi buku oleh OSIS SMA 2 Barru dan Dinas Pariwista serta dukungan ide dan tenaga oleh komunitas-komunitas lain yang ada di kota Barru seperti Komunitas film Barrusinematografi, Para pegiat Pariwisata Barru.org, serta para Komunitas Loyalis Bagisrocklabel.

kegiatan mendongeng

Selain kegiatan membaca, #Barrumembaca juga memberikan hiburan untuk adik-adik yang sedang membaca seperti mendengarkan dongeng kanak-kanak.

Geliat-geliat semacam ini seharusnya menjadi pertanda yang menyenangkan bagi siapa saja yang peduli terhadap isu pendidikan, khususnya isu rendahnya budaya literasi di Indonesia. Gerakan alternatif peningkatan budaya membaca berbasis komunitas tetap saja butuh perhatian dari setiap lapisan masyarakat untuk bekerja bersama-sama dalam mengatasi isu rendahnya budaya membaca di Indonesia. Salah satu upaya bangsa ini bisa selamat dari kebodohan serta keterpurukan. Semoga. []