Oleh: Afif Alhariri (@bung_ucok)| Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Sekarang saya ingin bertanya kepada anda – anda semua. Apakah tema yang paling ramai diperbincangkan di awal tahun 2015 ini?

KPK dan Polri? Benar.

Banjir Jakarta? Boleh.

Geng motor? Uuhh takuut.

Batu akik? Ini dia.

Topik yang kini hangat diperbincangkan mulai dari Starbucks hingga warung mace(1) Norma. Mulai dari kaum borjuis hingga kaum proletar. Mulai dari generasi tua hingga generasi muda. Bahkan mendobrak batas-batas gender, kini para wanita pun turut serta dalam pembahasan batu akik bersama rekan – rekan sosialitanya di acara arisan.

Jika dulu batu akik diasosiasikan kepada dua hal yakni mistis dan Tessy. Kini batu akik adalah standar baku untuk menentukan tingkat kekinian seseorang. Tren yang timbul konon disebabkan karena hadiah dari mantan presiden SBY kepada Obama. Kemudian menyebar bagai jamur di musim hujan, seperti pendahulunya, tren Blackberry. Kini saya tidak akan membahas hal tersebut. Tetapi pernahkah anda bertanya tentang perasaan mahasiswa Geologi yang lulus sebelum tahun 2014?.

Sebagai salah satu alumni Jurusan Geologi Unhas Prodi Pertambangan yang lulus di tahun 2013, perlu rasanya saya mengeluarkan isi hati ini. Mungkin saja juga merupakan suara hati teman – teman saya selaku alumni Geologi. Dan ini saya rasa tidak jauh berbeda dengan mahasiswa – mahasiswa Geologi di seluruh Nusantara. Sebab membicarakan batu akik kepada anak Geologi ini sama saja seperti membicarakan mantan kepada orang – orang yang gagal move on. Perih dan hanya bisa mengutuk nasib, menyesali. Begini alasannya.

Anak Geologi itu akrab dengan batuan. Isi bukunya penuh dengan pembahasan tentang batuan. Laboratoriumnya penuh dengan batuan. Kuliahnya tak jauh – jauh dengan batuan. Seperti bayangan mantan yang selalu menghantui kemanapun mata menatap. Kalau boleh mengutip kata pepatah “Hidup tanpa batuan, bagai sayur tanpa garam”.

Sangat akrab dengan anak Geologi. Nah, salah satu syarat untuk meluluskan mata kuliah seperti Geologi Fisik (dasar), Mineralogi, Petrologi, Geomorfologi, Struktur dan lain – lain, mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti kuliah lapangan. Kuliah lapangan ini berupa pembelajaran langsung di alam untuk membandingkannya antara teori di kelas dan di lapangan.

Termasuk salah satu bagian paling pentingnya adalah mengambil sampel batuan. Setiap mahasiswa/kelompok dibekali dengan sebuah kompas, palu geologi dan betel geologi. Dimana setiap orang wajib mengambil sampel batuan di setiap stasiun. Stasiun yang dimaksud di sini adalah lokasi pengambilan sampel yang dimana terlebih dahulu kita akan mendengar materi dari dosen.

Di sinilah awal mula siksaan itu berlangsung. Sampel – sampel itu diwajibkan berukuran sekepalan tangan yang dimaksudkan agar mudah untuk diteliti. Diambil dan dimasukkan ke dalam tas atau karung. Semakin panjang perjalanan dan semakin banyak stasiun maka semakin banyak pula sampel batuan yang dibawa. Bahkan, tak jarang, sampel yang dibawa itu bisa memenuhi satu karung pupuk terigu.

Sampel – sampel tersebut kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk diteliti. Setelah didapatkan hasilnya, sampel tersebut dibuang. Iya, dibuang. Di sinilah letak “Jangan bertanya kepada anak Geologi soal batu akik”. Sebab hal tersebut hanya membuat mereka terluka. Bayangkan jika batu akik ini sudah menjadi tren di masa kuliah dulu. Sampel – sampel batuan tersebut tentunya tidak akan langsung dibuang. Kami akan mengambil senter kemudian memperhatikan tingkat ketembusan cahaya dari batu tersebut. Jika telah dipilih dan memenuhi syarat, maka akan dibawa ke pengepul untuk dijual.

Bayangkan betapa banyak anak – anak Geologi yang tertolong. Tidak perlu lagi beli rokok ketengan. Tak perlu khawatir makan Indomie di akhir bulan. Dan mereka akan semakin bersemangat untuk melakukan penelitian di lapangan. Bahkan tidak mungkin, jika dulunya hanya mengambil sampel sebesar kepalan tangan, kini mengambil sampel sebesar kepala.

Kami juga ikut mendidik dan mencerdaskan para pecinta batu akik. Kami tidak akan menjual bongkahan batu tersebut dengan nama Kecubung, Sisik Naga dan Bacan. Tidak. Kami akan memberi nama sesuai nama ilmiahnya yang bisa kami temukan di buku Rocks and Minerals karya Simon dan Schuster. Kami akan menjualnya dengan nama Prasiolite Quartz, Labradorite, dan Chrysocolla.

Kami juga tak perlu lagi sibuk – sibuk mencari dana kesana kemari untuk membuat acara. Cukup kerahkan mahasiswa baru dengan alasan pra praktek lapangan. Kerahkan mereka untuk mencari batuan dan dibawa ke pengepul. Bukan hal yang tak mungkin bila nantinya alat praktek lapangan tidak hanya kompas, palu dan bentel. Tetapi senter. Entahlah. Saya tidak pernah menanyakan di junior – junior saya perihal praktek lapangan di era batu akik ini. Saya hanya berpikir nakal, seandainya saja waktu bisa diputar. Dan praktek lapangan menjadi ajang mencari uang buat saya. []

(1)Mace adalah sebutan untuk ibu di Makassar. Biasanya di lingkungan kampus, merujuk pada pemilik warung.