Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Samar-samar saya mengingat saat ibu menitipkan saya di kantin kampus semasa kecil saya. Yes, kantin kampus! Agar tidak rewel, saya selalu disogok dengan teh kemasan kotak selagi dia menghadiri kelasnya waktu itu. Ibu menikah saat usianya 19 tahun, tepatnya setamat sekolah menengah atas, dan usianya sekitar 20 tahun ketika kakak saya lahir. Ibu tidak serta merta meninggalkan kuliahnya setelah pernikahan bahkan setelah melahirkan ketiga anaknya, walaupun akhirnya tidak menggunakan ijasahnya untuk melamar pekerjaan.

Ibu saya sering kali menceritakan pengalamannya saat kuliah dulu, di antaranya pengalaman saat Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mungkin sekarang menjadi hal lucu saat mendapatkan nilai B untuk KKN, tapi berbeda dengan ibu. Masa KKN merupakan masa berat karena ibu harus mengurus ke sana-sini untuk mendapatkan lokasi yang tidak jauh dari Makassar agar bisa pulang setiap hari. Sayangnya kegiatan pulang-pergi ibu diketahui dosen pembimbingnya secara tidak sengaja dan alhasil dia harus berbesar hati dengan nilai B. Yang tidak bisa saya bayangkan pula, setelah cuti dua kali seusai melahirkan, ibu yang kuliahnya memakan waktu tujuh tahun ini menjalani masa hamil besar anak ketiganya di akhir masa perkuliahan dimana sedang padat-padatnya jadwal praktikum. Berkaca dari pengalaman ibu dan melihat beberapa pengalaman orang-orang di sekeliing, saya jadi tertarik untuk sedikit mengulas perihal teen mom.

Seringkali saya mendapat sosok perempuan yang memiliki prestasi yang cemerlang memilih menjadi seorang ibu seutuhnya seusai menyelesaikan studi. Bagaimana pendapat kalian tentang kasus seperti ini? Sebagian dari kalian akan berpikir alangkah ruginya perempuan itu, dan sebagian lagi berpikir alangkah hebatnya perempuan itu. Saya jadi teringat ungkapan yang mengatakan, the best thing a girl can be is a good wife and a mother, yang ternyata ditulis oleh penulis yang memiliki deretan prestasi dan gelar akademisi, Nancy E. Turner. Setujukah kalian menjadi seorang ibu muda?

#tentang_setuju_atau_tidak

Perkara jodoh dan menjadi ibu merupakan takdir Tuhan. Walaupun kemajuan ilmu medis mampu mengontrol, namun tetap saja bukan kita yang menentukan. Sebagai manusia, kita tidak bisa menebak kapan jodoh dan rejeki akan datang dan pergi. Jadi sebenarnya bukan setuju atau tidak. Ada beberapa alasan yang membuat perempuan menghindari menikah muda dan hamil dini. Satu yang paling populer adalah karir. Tidak bisa dinafikkan perempuan yang memiliki pekerjaan memiliki ambisi yang lebih besar dalam segi finansial, sehingga untuk mencari pasangan cenderung lebih sulit dikarenakan akan mencari pasangan yang lebih dari segi tersebut. Biasanya dengan memiliki karir perempuan akan lebih menghargai diri dan waktunya, sehingga merawat orang lain sering kali dianggap menganggu rutinitasnya.

Tingginya tingkat perceraian secara tidak langsung semakin menurunkan semangat menikah muda masyarakat sekarang. Belum lagi dengan ramainya seruan kesetaraan gender yang semakin membebaskan wanita dalam berekspresi bahkan aktualisasi. Salah benarnya perkara kesetaraan gender tidak akan habis dibahas karena setiap orang akan memiliki opininya masing-masing. Namun yang tidak bisa dipungkiri adalah seorang perempuan akan selalu menjadi ibu dan seorang laki-laki akan selalu menjadi ayah.

Selain rentetan alasan mengenai pekerjaan terdapat pula beberapa alasan terkait dengan ketakutan menjadi ibu muda, seperti ketakutan akan selalu dikaitakan dengan marriage by accident,  atau ketakutan tidak memiliki waktu luang, bahkan ketakutan menjadi anti-sosial, ketakutan tidak berkucukupan, ketakutan tidak memiliki kesempatan membahagiakan orang tua, dan sebagainya. Namun sadarkah kita kalau ternyata ketakutan yang sebenarnya adalah ketakutan akan siap atau tidak.

#tentang_siap_atau_tidak

Menjadi seorang ibu adalah hakekat setiap perempuan. Perempuan tidak memiliki alasan untuk tidak siap menjadi ibu, karena persiapan menjadi ibu seharusnya dimulai sejak dini. Seorang parenting writer and speaker, Andy Smithson, mengatakan the sign of the great parenting is not the child’s behavior. The sign of the truly great parenting is the parent’s behavior. Sebagai calon ibu yang akan menghabiskan waktu dengan anak lebih banyak, kita akan menjadi sosok yang paling memengaruhi karakter anak. Jadi bagaimana cara untuk menyiapkan diri? Ternyata kita hanya perlu mengubah hal-hal kecil dalam diri kita sejak dini, berikut beberapa di antaranya.

  • Belajar keras

Sosok ibu adalah sosok yang akan menjadi guru seorang anak. Jadi pemikiran tentang menjadi ibu tidak membutuhkan pendidikan tinggi wajib kita hapus bersama.

  • Be a good listener

Kebiasaan kita untuk selalu ingin didengar sepertinya perlu kita ubah, girls. Menjadi ibu sangat membutuhkan kebiasaan mendengar yang baik, loh!

  • Membangun Kesabaran

Merawat seorang anak akan membutuhkan kesabaran yang sangat besar, tentu kita bisa membayangkan bagaimana sabarnya ibu menghadapi kita semasa kecil. Kesabaran tidak tercipta secara instant, melainkan membutuhkan sebuah proses. Mari belajar sabar mulai dari sekarang!

  • Peduli kesehatan

Menjadi seorang perempuan tidak harus pintar memasak, namun menjadi perempuan yang peduli kesehatan adalah sebuah keharusan. Mari mulai membiasakan diri memperhatikan setiap asupan yang kita konsumsi, contohnya dengan memperhatikan zat yang dikandung pada makanan atau tanggal expirednya.

Saking beratnya beban menjadi ibu, terdapat sebuah syndrome bernama baby blues atau biasa disebut stres pasca persalinan. Baby Blues merupakan gangguan psikologis berupa sedih, cemas dan emosi meningkat yang dialami sekitar 50- 80% wanita setelah melahirkan khususnya bayi pertama. Selain karena alasan hormonal, faktor adaptasi sangat mempengaruhi stres yang satu ini.

Menjadi seorang perempuan dengan jutaan mimpi dan harapan di dalamnya adalah kebenaran, menjadi seorang perempuan dengan rencana dan target menumpuk bahkan sangat pantas diacungi jempol. Menjadi perempuan yang dikenang karya-karyanya tentu saja akan menjadi idaman. Namun, menjadi perempuan yang menuliskan keluarganya dalam mimpi dan harapan, mengikutsertakannya dalan setiap rencana dan target, serta menjadikan keluarganya salah satu motivasi dan isnpirasi karya, adalah yang terbaik.


Baca tulisan lainnya dari Andi Wasilah Yusra

Maksud Hati Ingin Menikah, Apa Daya Adatnya Posesif

Bahagia Bukan dengan Ukuran

Apalah Arti Bercurah Hati, Jika Friendzone

Sedih Karena Patah Hati? Mari Bersyukur

Ada Harapan di Setiap Tindakan