Teks: Achmad Nirwan (@achmad_nirwan)

Di tengah kemeriahan clothing festival dengan hingar bingar para musisi yang tampil, satu hal yang patut menjadi sorotan utama di ICON Fest adalah kehadiran brand-brand dari Makassar yang bersanding dengan brand-brand dari luar kota. Brand-brand tersebut selain mengusung kebebasan dalam berkarya dan kemerdekaan dalam bekerja, mereka bangga bisa membawa nama Makassar lebih dikenal luas dalam industri kreatif, khususnya di bidang fashion. Tidak ingin melewatkan momen berharga tersebut, M. Ifan Adhitya berusaha mengabadikan sosok-sosok yang berada di belakang brand-brand tersebut selama ICON Fest berlangsung. Seiring dengan foto yang dipotret Ifan, saya pun mewawancarai sosok-sosok tersebut terkait dengan brand dan keterlibatan mereka di ICON Fest dalam esai foto berikut.

Indefriendent

Satu booth yang menarik di ICON Fest adalah Indefriendent. Ada tiga brand yang menempati booth tersebut: Saveend FTW, Holycvnts, dan Rising Road. Walau tak sempat bertemu dengan Redit (pemilik dari Rising Road @risingtheroad ), saya berhasil menemui Steven (Saveend FTW) dan Arixdian (Holycvnts) untuk berbincang-bincang tentang merch-nya.

brand-lokal-makassar_icon-cloth-fest_revius4

Steven dengan brand Saveend FTW.

 

brand-lokal-makassar_icon-cloth-fest_revius6

Arixdian dengan Holycvnts.

 

brand-lokal-makassar_icon-cloth-fest_revius8

Redit dengan Rising Road.

Steven (Saveend FTW @saveend_FTW )

Saveend FTW, merch yang dibuat oleh Steven sejak 2013 ini memiliki konsep unik: “(Saveend) yang jelas itu wicked, fuck the world, dan rebel-rebel lah,” jelas Steven. Sedangkan segmentasi untuk Saveend FTW untuk para peminat musik underground. Mereka juga mewadahi para artworker dan illustrator di Indonesia untuk menuangkan karya ke dalam berbagai merchandise yang dirilis Saveend. “Beberapa desain (Saveend) sudah ada dari Tremor (Milisi Kecoa), dari Ichal yang biasa desain buat band-band Makassar, dan saya juga yang mendesain sebagian besar (untuk Saveend)”. Proyek berikutnya dari Steven bersama Saveend adalah berkolaborasi merilis merch band-band dari Makassar lebih banyak lagi. “Bulan Agustus kemarin, sudah berkolaborasi dengan The Hotdogs (punk rock) dan W.A.R (grindcore),” Steven menambahkan.

Selain itu, project yang sedang dijalani Steven bersama Saveend sekarang adalah membentuk perkumpulan untuk brand-brand Makassar agar bisa bergabung untuk ikut acara seperti ICON Fest, bahkan membuat acara yang serupa. Perkumpulannya terlihat jelas dari booth nomor 12 ICON Fest yang menaungi tiga brand sekaligus, Saveend FTW, Holycvnts, dan Rising Road. ”Namanya Indefriendent Syndicate, yang harapannya bisa menjadi wadah bagi teman-teman brand lainnya agar bisa hadir di acara-acara seperti ini. Biar artikelnya hanya satu, yang penting bisa hadir di sini,” Steven menjelaskan lebih rinci.

Teruntuk ICON Fest, Steven mengungkapkan pendapatnya. “Brand Makassar masih kecil, mungkin cukup berat untuk membayar booth dengan biaya sekian juta, dengan artikel hanya beberapa pieces.” Keterlibatannya bersama Saveend FTW di ICON Fest juga berawal dari iseng untuk ikut. “Ini juga pertama kalinya bisa ikut clothing expo begini, prospeknya bagaimana ya.” Hal yang unik juga dari booth Indefriendent ternyata baru buka sekitar pukul 13.00 siang dari jadwal pukul 10.00 pagi yang dijadwalkan Icon Fest. “Pokoknya kalo mau cari brand Makassar yang paling brengsek, cari mi di sini (Indefriendent),” ujar Steven yang saya sambut dengan tawa.

Arixdian (Holycvnts @holycvnts )

Meski nama Holycvnts terkesan kasar, ternyata ada juga maknanya. “Setiap hal apapun yang buruk, seburuk apapun dirimu, kau bisa lebih suci dari orang yang mengatakan dirinya suci di hadapan orang lain,” Arixdian menjelaskan. Karena ia juga terpengaruh dengan musik yang ia dengarkan untuk melupakan rasa sakit hati sambil mendesain, seperti mendengarkan Misfits, Black Flag, bahkan Peterpan, akhirnya proyek sakit hati ini dilampiaskannya ke dalam style dan konsep merchandise dari Holycvnts. “Brand curhat ji pakai lagu nah, rusak tonji laki-laki kalo masalah hati,” tambahnya sambil tersenyum lalu melanjutkan, “Jadi, satu desain di baju itu bermakna sekali buatku, karena saya buat pas lagi emosional dan akhirnya saya tuangkan di (sini),” Dia mengambil salah satu artikel t-shirt Holycvnts bergambar jaket Misfits. Produk Holycvnts sejauh ini menurut Arixdian masih mencakup t-shirt saja. Sebagai street wear yang betul-betul merefleksikan dirinya. Dia mengungkapkan tema Negative Life untuk artikel berikutnya dari Holycvnts.”Temanya itu sebetulnya kembali ke masa lalu saya, tapi negative life juga merupakan proses pendewasaan dan mental seseorang di jalanan, menghadapi hidup yang keras.”

Sedangkan untuk kolektif Indefriendent Syndicate yang saat ini terdiri dari Saveend FTW, Holycvnts, dan Rising Road, Arixdian berujar ini berawal dari idenya Steven. Persoalan tiga nama brand yang berbaur dalam booth, membuat ketiganya membuat ringkas menjadi Indefriendent. “Baru belakangan ini malah terpikir untuk membuat sindikasi mewadahi brand-brand teman lainnya walau punya satu artikel ji.” Jadi, Indefriendent itu berasal dari tiga resapan kata, independent,friend and different. “Independent artinya tidak bergantung dengan orang lain, seperti dana diusahakan secara mandiri, ada untung, dana di-rolling lagi. Seperti katanya Boim (Bughats Clothes), bebas dalam berkarya, merdeka dalam bekerja. Friend berarti kita berteman dekat, ada masalah tetap diselesaikan dengan cara pertemanan, dan different masing-masing dari kita mempunya selera yang berbeda pastinya,” Arixdian berharap sindikasi ini bukan hanya untuk brand-nya, Steven, dan Redit.”Siapapun bisa bergabung, selama kita berteman dan mau jadi teman kita, menerima segala kekurangan dan kelebihan, seperti teman-teman ta’ di dekker.”

Arixdian juga berharap ada gigs sendiri dengan perpaduan clothing dan musik untuk menjadi salah satu pencapaian Indefriendent agar tetap konsisten. Karena menurutnya juga, dari lini musik seperti band juga minta dukungan untuk meng-endorse mereka. “Karena kalau memang support ya support saja, suka atau tidak suka. Daripada jadi support is bullshit, ada cerita di belakang lagi, itu kan sama saja omong kosong belaka,” Keikutsertaan Holycvnts di Icon Fest, menurut Arixdian, lebih kepada mencari teman dan menambah jejaring sembari menjalankan promosi merch-nya. Untuk ICON Fest sendiri, Arixdian berharap nama ICON Fest lebih bernuansa Makassar atau Sulawesi untuk menggambarkan asal clothing fest tersebut. “Jadi dari nama yang Makassar sekali, bisa mi ditau banyak orang bahwa event tahunan ini (Icon Fest) adalah bikinan home industry clothing brand dari Makassar,” pungkasnya sambil menambahkan ICON Fest bisa dikelola lebih baik dan benar.

Bughats Clothes (@bughats_clothes)
Pemilik: Boim

brand-lokal-makassar_icon-cloth-fest_revius1

Nama Bughats Clothes yang dipilih oleh Boim ternyata datang dari sebuah kisah pilu seekor bughats, burung gagak yang baru menetas dan kulitnya ditumbuhi bulu putih di antara saudara lainnya yang lahir tanpa bulu. Walhasil, sang induk tidak mengenali dan mencurigai bughats adalah anak burung lain. Terinspirasi dari cerita tersebut, Boim pun memasukkan konsep Bughats Clothes sejak tahun 2014 dengan dominan kepada perlawanan dan propaganda, seperti yang dialami bughats untuk bertahan hidup. Walau konsepnya seperti itu, Bughats Clothes menurut Boim style-nya dibuat mengalir saja dan sesuka hati.

“Untuk grafik penjualan belakangan ini, lumayanlah. Apalagi sekarang (untuk Bughats Clothes) sudah punya tempat produksi sendiri, jadi tidak mengharapkan lagi sama orang lain,” ucap Boim sebagai hal yang disyukurinya dari berkah penjualan Bughats Clothes. Merchandise dari Bughats Clothes yang mengandalkan t-shirt juga semakin beragam hingga tahun ini, mulai merambah ke lainnya seperti tas pinggang, snapback hingga beanie. Ditambah lagi Bughats Clothes sejak tahun lalu membuat official t-shirt untuk band-band Makassar seperti Dead of Destiny dan Speed Instinct. Untuk proyek selanjutnya, Boim memberi bocoran akan merilis versi boxset merch untuk Surgir, band post rock dari Makassar.

Festival clothing seperti ICON Fest, menurut Boim, sangat mendukung pergerakan untuk brand-brand Makassar. Hanya saja, dari segi administrasi pendaftaran booth ICON Fest untuk brand-brand Makassar, masih perlu diberi keringanan biaya, “(Icon Fest) bisa diadakan setahun sekali dengan publikasi yang lebih besar dan bisa dipersiapkan lebih serius dari jauh-jauh hari sebelumnya,” harap Boim.

Sadboy Club (@sadboy_club)
Pemilik: Saiful Irawan (@bangslah)

brand-lokal-makassar_icon-cloth-fest_revius3

Sadboy Club ini termasuk clothing brand yang telah lama diniatkan Saiful Irawan untuk dirilis. Setelah melewati berbagai kendala termasuk salah satunya biaya yang dikeluarkan sendiri, akhirnya Saiful mantap merilis Sadboy Club pada tahun ini setelah melalui beragam clothing line yang telah dirilisnya lebih dulu. Dengan Sadboy Club, pria yang akrab disapa Bangs ini akhirnya punya kiat agar brand-nya sekarang tetap konsisten. “Harus ki’ betul-betul berjuang untuk fokus dalam mempromosikan brand sendiri,” ungkap Bangs yang kini bisa berkonsentrasi untuk Sadboy Club dalam mencari biaya produksi setelah beres dengan pekerjaan sebelumnya. “Padahal artikel (Sadboy Club) masih sedikit, tapi lumayan memakan biaya juga,” tambahnya.

Sedangkan konsep untuk Sadboy Club menurut Bangs adalah digital artwork tees. “Saya suka menggambar desainnya itu dari iPad, lalu saya edit pakai Photoshop atau Corel, kemudian dijadikan mock up. Jadi bukan dari hand drawing atau pakai brush yang tersedia di tools, karena saya terbiasa memakai jari kalau menggambar di iPad. Apalagi lebih mudah dimain-mainkan warnanya kalo digital artwork.” Walau desainnya banyak menggunakan warna, justru itu tantangan buat Bangs karena membuat tukang sablon bajunya bekerja lebih ekstra dan mengeluarkan biaya ekstra pula untuk itu. Untuk proyek berikutnya, Bangs mengutarakan Sadboy Club akan tetap di jalur fashion dengan merilis bentuk merch lainnya seperti jaket bomber dan artwork.

Untuk ICON Fest, Bangs merasa terbantu untuk promosi karena bisa dilihat bentuk nyatanya. ”Termasuk ajang pembuktian juga, di luar masalah laku atau tidaknya,” ungkapnya. Namun baginya, booth yang tersedia untuk brand lokal masih perlu diberi keringanan biaya, karena biaya yang dikeluarkan oleh brand lokal tidak sedikit juga. Apalagi menurut Bangs, brand-brand Makassar yang hadir di ICON Fest tidak kalah dengan brand-brand yang hadir dari luar Pulau Sulawesi. ICON Fest juga menurut Bangs menjadi menarik karena partisipasi brand-brand tersebut. Terinspirasi dari ICON Fest, Bangs juga berniat membuat acara yang serupa dengan skala kecil dan melibatkan brand-brand yang diundangnya.

House of Enjoy (@HOEMerch)
Pemilik: Fadel Ahmad

Alih-alih bertemu dengan pemiliknya, saya bertemu dengan Ichal, manager House of Enjoy, di booth ICON Fest. Sembari memajang merchandise dari House of Enjoy yang dimiliki Fadel Ahmad ini, Ichal pun memajang merchandise dari Silent Atlantis, brand yang dimilikinya. Ichal lalu menerangkan tentang konsep kedua brand tersebut, “House of Enjoy mengusung konsep street wear. Untuk Silent Atlantis sendiri konsepnya lebih banyak mengangkat tema laut secara umum,” ujar Ichal. Namun, untuk ICON Fest ini, Ichal memprioritaskan House of Enjoy untuk promosi berjualan yang masif selama ICON Fest berlangsung.

hoe_brand-lokal-makassar_icon-cloth-fest_revius

Fadel Ahmad, pemilik dari House of Enjoy.

Untuk proyek berikutnya, Ichal mengungkapkan kalau House of Enjoy di setiap tahun sudah punya perencanaan tema yang berbeda. “Untuk tahun depan juga, berharap agar bisa fokus pada brand supaya bisa lebih berkembang, dengan lebih banyak ikut di event clothing nasional lainnya, seperti JakCloth,” Ichal menjelaskan.

Harapan Ichal untuk ICON Fest selanjutnya sebagai salah satu pergerakan industri kreatif Makassar yang digelar dua atau tiga kali dalam setahun, karena bisa mendorong semangat pelaku industri kreatif lainnya. Selain itu, persiapan event ini, menurutnya, masih perlu dimatangkan lagi dari pihak penyelenggara maupun peserta untuk edisi selanjutnya.

ACO Makassar ( @aco_makassar )
Pemilik: Wawan

brand-lokal-makassar_icon-cloth-fest_revius7

“Aco Makassar sendiri telah berdiri sejak 2011 dan memiliki konsep yang sederhana, kita mau lestarikan budaya kita, budaya Makassar,” ungkap Wawan, sang pemilik Aco Makassar yang saya temui ketika ICON fest hari pertama. Berawal dari melihat paradigma tentang budaya Makassar yang terkesan kolot, Wawan membawanya ke persepsi yang lebih kreatif agar pesan budayanya tersampaikan.

Aco Makassar juga merupakan upayanya untuk bisa melestarikan budaya tersebut agar diterima oleh anak-anak muda di Makassar. “Konsumen Aco Makassar pun akhirnya tidak terbatas pada anak-anak muda saja, tapi semua kalangan mulai dari ibu-ibu hingga bapak-bapak juga,” tambah Wawan. Ia pun menjelaskan bahwa ciri khas dari produk Aco Makassar sendiri itu mengandalkan plesetan khas Makassar dan istilah yang lagi nge-tren di Makassar. Ketika saya menanyakan proyek berikutnya, dia masih mengungkapkan tetap konsisten mengangkat budaya Makassar melalui beragam artikel t-shirt yang dikeluarkan melalui Aco Makassar. “Karena memang kita dari dulunya fokus di t-shirt,” Wawan menambahkan.

Mengenai ICON Fest, dia berharap lebih banyak lagi clothing festival seperti ini mulai dari skala kecil, karena banyak brand yang bisa berkreasi bila diberikan ruang-ruang bersosialisasi. “Sebenarnya (ICON Fest) untuk brand-brand lokal. Cuma teman-teman clothing lainnya di Makassar belum percaya diri seutuhnya, jadinya masih banyak brand-brand dari luar Sulawesi yang datang berpameran,” ungkapnya. Wawan menambahkan harapannya untuk ICON Fest, brand-brand Makassar bisa seutuhnya untuk berpartisipasi.

KOK Makassar ( @kokmakassar )
Pemilik: Pulu Musada

brand-lokal-makassar_icon-cloth-fest_revius5

Kaos Omong Kosong Makassar yang merupakan kepanjangan dari KOK Makassar ini adalah nama brand yang punya cerita tersendiri bagi pendirinya, Pulu, Jaya, dan Kani sejak akhir tahun 2012. Pulu bercerita nama tersebut muncul karena berawal dari kebiasaan berkumpul sambil cerita-cerita kosong di jaman SMA sampai kuliah. ”Kebetulan, kita sempat ditegur sama orang tua kita, ‘apa itu kau bikin, cerita-cerita kosong sampai malam? Mending bikin yang bisa menghasilkan’” kenang Pulu tentang asal-usul KOK Makassar yang mulai berjualan sejak awal 2013 dari jalanan hingga sekarang memiliki toko di area Pasar Segar Panakukkang.

Pulu yang didaulat mengelola KOK Makassar sekarang, kemudian menguraikan konsep dari brand-nya. “Dari pengalaman cerita-cerita kosong tadi, kemudian dituangkan ke kaos yang temanya omong kosong. Tetapi, setelah belakangan, kenapa kita tidak mengangkat tema cerita sehari-hari di Makassar? Jadi selain kata-kata kosong, kita juga mengangkat tema tersebut,” ujarnya. Pulu mengungkapkan walau tentang omong kosong, tetap punya makna juga, tidak kosong seutuhnya. “Justru kita bisa menghasilkan pemasukan dari cerita-cerita kosong tersebut.” Pulu juga mengungkapkan next project dari KOK Makassar secara jangka panjang yaitu membuka toko yang tidak hanya menjual kaos, tetapi segala souvenir khas Makassar. “Segala hal yang bisa dibeli pengunjung sebagai oleh-oleh untuk keluarganya,” ujar Pulu.

KOK Makassar bisa berpartisipasi di ICON Fest ini menurut Pulu karena berawal dari wacana ingin dibentuknya asosiasi clothing untuk brand-brand Makassar. “Saya merasa pembentukan ini bagus memang, karena (brand lokal) di Makassar masih terpecah-pecah, kalo ada kesempatan bikin mereka berkumpul seperti clothing fest ini, saya mendukung sekali,” dia juga melihat ternyata banyak sekali brand-brand Makassar yang bagus-bagus dan tidak kalah dibanding brand-brand dari luar. Hal yang senada tentang frekuensi festival sekali hingga dua kali setahun untuk ICON Fest juga diutarakan oleh Pulu. “Supaya masyarakat di Makassar juga tahu, bahwa ada brand-brand Makassar yang kreatif dan bagus, kalau Icon Fest lebih sering diadakan,” pungkas Pulu yang juga menggaet brand-brand lokal lainnya untuk bisa memajang merch-nya di ICON Fest.

Ewako Clothing Makassar (@ewakoclothing)
Pemilik: Fatwa

brand-lokal-makassar_icon-cloth-fest_revius2

Kecintaan terhadap Kota Makassar membawa Fatwa untuk mencari kata-kata Makassar yang cocok untuk merek clothing-nya. “Sudah ada pakai kata Aco dengan Daeng, jadinya saya mantap memilih Ewako, karena senang dengan PSM juga,” ungkap Fatwa yang kebetulan pula juga merupakan salah satu anggota dari Macz Man, salah satu perkumpulan supporter PSM.

Konsep dari Ewako Cloth yang berdiri sejak 2015 ini menurut Fatwa adalah unsur etnik Makassar yang dibawa ke modern. “Jadi target kita tidak hanya orang Makassar saja, jadi lebih kepada meng-indonesia-kan Ewako,” ujarnya. Beragam merchandise seperti t-shirt, hoodie, pomade, totebag, snapback menjadi bukti Ewako serius untuk menjajal pasar lebih luas lagi.”Kita juga rencana membuat flannel, dompet, kaos kaki, dan sebagainya,” tambah Fatwa. Usia setahun dan cukup sukses di bidang clothing ini juga memunculkan kiat sederhana dari Fatwa untuk konsisten di bidang clothing. “Manfaatkan media sosial, seperti Instagram, terus rajin-rajin endorse artis IG di Makassar, serta mengikuti event-event apa saja yang ada clothing di dalamnya,”ujarnya mantap.

Berpartisipasi di ICON Fest ini cukup membantu Fatwa bersama Ewako, termasuk penjualan. “Apalagi ICON Fest diikuti juga sama brand-brand dari luar Sulawesi, jadi sekalian mi memperkenalkan Ewako itu ada di Makassar.” Harapan ICON Fest bisa diadakan sekali setahun juga diamini oleh Fatwa, karena sangat membantu brand-brand lokal Makassar bisa bersaing dengan brand-brand luar. Fatwa juga mengungkapkan Ewako Makassar yang berencana me-launching tokonya dan membuat event-event seperti ini dalam skala kecil.

Patch (@patchdenim.mks)
Pemilik: Fatrizal Putra dan Kiki Qebo

brand-lokal-makassar_icon-cloth-fest_revius10

Saya sempat mengira brand Patch khusus menjual logo patch saja. Ternyata nama brand ini iseng didapatkan oleh Ichal (Fatrizal) dan Kiki karena terdengar catchy dan mudah diucapkan.”Kebetulan kita berdua juga punya basic pekerjaan di clothing, jadi nama yang simpel itu penting untuk memudahkan penjualan,” ujar Ichal. Berawal dari celana denim, Patch kemudian melebarkan sayap ke t-shirt hingga beberapa item terbarunya saat ini.

Konsep yang dibawakan oleh Patch masih mencari bentuk karena brand ini juga baru dirilis tahun ini. “Untuk sekarang masih dominan ke street wear. Produksi pertama dari awal itu denim, kemudian mencoba untuk membuat t-shirt kita dengan varian model font, kemudian sekarang mulai banyak bermain di gambar dan warna juga,” terang Ichal sambil menambahkan topi, kemeja, jaket hoodie yang juga merupakan item terbaru dari Patch. “Untuk artikel berikutnya mungkin kita akan membuat boxer, lighter, jam, dan sebagainya.”

Berpartisipasi di ICON Fest, Ichal merasa Patch mesti bersaing lebih keras dengan brand lainnya, karena penjualannya masih di bawah ekspetasi. Ditambah lagi, Icon Fest juga membuat konsentrasi pengunjung yang hadir terpecah belah, antara membeli pakaian atau menonton panggung musik. Perlunya keringanan biaya booth ICON Fest juga sempat diutarakan Ichal. “Brand luar sudah punya nama, tentu saja penjualan mereka tidak sebanding dengan brand-brand lokal seperti Patch.” Di luar itu, satu hal yang kurang menurut Ichal untuk industri clothing di Makassar adalah rumah produksi yang mantap. “Di sini, untuk konveksi itu sudah banyak, tapi yang belum ada itu rumah bordir yang tersedia untuk produksi menjahit kaos sesuai ukuran yang pas dengan brandnya. Mau tidak mau mesti produksi ke Bandung atau Jakarta lagi,” ungkap Ichal.

CVLS ( @c.v.l.s )
Pemilik: Hardinansyah P. Siji

brand-lokal-makassar_icon-cloth-fest_revius9

“CVLS itu sebenarnya clothing line dari toko Lo-ving,karena selama ini Lo-ving sebagai toko distribusi, kita akhirnya berpikir juga untuk merintis clothing in-house,” ujar Hardinansyah P. Siji membuka percakapan ketika saya bertemu dengannya di ICON Fest. Berasal dari singkatan dari nama perusahaan Lo-ving, akhirnya CVLS (yang dibaca kals) dipilih sebagai nama brand sejak 2014. T-shirt, kemeja, jaket, sweater, topi, celana, jeans, menjadi merch CVLS dibuat dari konsep universal street wear diterapkan CVLS untuk lini produk men yang mencakup pop culture, music, lifestyle dan lini produk women yang mengarah ke basic dan pop art. Selain di Lo-ving sendiri, CVLS juga didistribusi ke beberapa toko di Sulawesi. “Walau relatif masih baru, CVLS ternyata bisa head-to-head dengan brand-brand lawas, dengan desain dan citra brand lokal dari Makassar yang melekat di CVLS,” ujar pria yang akrab disapa Ardy ini menyebutkan pula produksi CVLS setiap dua bulan merilis produk baru. Ardy juga membagi kiatnya untuk konsisten di jalur clothing tentu saja karena passion-nya yang besar terhadap fashion, mulai dari mendesain dan meyablon sendiri hingga bisa membuat clothing seperti CVLS yang bisa lebih massif.

Melihat keterlibatan puluhan clothing brand local di ICON Fest, Ardy sangat senang CVLS bisa berkumpul dengan brand-brand lokal Makassar lainnya yang potensial untuk go national dan bisa lebih dari itu. “Karena clothing-clothing di kota lain seperti Bandung, juga berangkatnya seperti ini,” tambahnya. Sama halnya dengan Rock In Celebes yang memberi ruang untuk perkembangan musik di Makassar, ICON yang diinisiasi Ardy bersama Anto dari Immortal dan rekan-rekan brand lokal lainnya bisa terealisasi untuk memberi wadah di industri kreatif bidang fashion Makassar yang bisa membuat clothing event atau clothing festival. “Di luar Sulawesi, sudah ada KICK Fest, Jakcloth, nah, Makassar juga mesti punya event seperti itu dengan brand-brand lokal sebagai pelaku utamanya, untuk bersosialisasi dan berpromosi,” ungkapnya melihat dua tahun belakangan ini anak muda Makassar cukup solid dalam membuat sebuah brand. “Brand lokal Makassar sudah mampu menjadi kreator yang utuh, bukan hanya mendesain produk untuk brand-nya, tetapi juga me-manage, me-maintain, dan menciptakan image untuk brandnya juga.”

Pemilihan nama ICON yang merupakan kepanjangan dari Indonesian Celebes Clothing Association, menurut Ardy memang konsepnya dipersiapkan untuk global, sehingga dari pilihan namanya juga mesti kreatif dan mudah diterima banyak orang. “Karena ICON juga ingin membuat brand event yang besar, namanya dipilih seperti itu agar orang bisa cepat menangkap dan lama mengingat,” tambahnya. Ardy menuturkan harapan agar pembentukan ICON ini agar brand-brand lokal agar bisa berpartisipasi lebih dominan di di ICON FEST sendiri serta selanjutnya bisa menginvasi clothing festival di kota lainnya. “Karena ICON Fest ini termasuk crossover industry, brand-brand lokal yang baru juga bisa bersanding dengan brand-brand yang mapan. Hal ini saya pikir agar teman-teman brand lokal bisa menambah rasa percaya diri dalam mempromosikan brandnya”.

Selain event tahunan, Ardy bersama rekan-rekan di ICON juga berencana membuat satellite event, bahkan tour untuk brand-brand clothing lokal nanti semacam road to ICON Fest di kota lainnya.”Untuk sementara juga kita merapikan direktori brand-brand lokal yang terdaftar di ICON. Sejauh ini sudah ada 92 brand lokal Makassar yang masuk dan 30% yang ikut berpartisipasi di ICON Fest tahun ini,” dia bersama ICON akan membuat katalog digital atau cetak yang tertata rapi tentang brand-brand ICON dan promosinya. “Rencana katalog tersebut bisa berkolaborasi juga media-media di Makassar untuk publikasinya. Jadi bukan hanya membuat event saja, tapi juga marketing kit-nya juga terstruktur.” Dia juga menyampaikan bagi brand-brand lainnya yang belum terdaftar, ICON masih terus membuka submission agar data yang terkumpul di ICON lebih beragam, dia berharap ICON Fest tahun ini walau persiapannya pendek, tapi bisa menjadi evaluasi untuk ICON FEST selanjutnya. “Dan, juga berharap ini bukan hanya tren, kompetisi, tetapi minimal produk kita dari Makassar bisa diterima dan dibeli oleh banyak orang. Jadi, punya nilai ekonomi yang bagus, agar industri clothing di Makassar juga semakin berkembang,” pungkas Ardy menutup pembicaraan tentang ICON.