Jika slogan kota Makassar adalah Makassar menuju kota dunia maka sudah seharusnya Makassar mengikuti perangai kota-kota besar di dunia. Yakni, mempertahankan dan merawat bangunan bersejarahnya.

Yulianti Tanyadji, salah satu pemateri Kelas Akademi Berbagi (Akber) Makassar di Kafe Baca kemarin (20/3) membuka kelas dengan pernyataan tadi yang membuat saya mangut-mangut. Hujan dengan langit gelap dan angin yang bertiup sepoi merangsang ingatan saya menerawang ke masa lampau. Bagaimana tidak, tema yang dibahas dalam kelas tersebut adalah menghidupkan kembali bangunan bersejarah. Hadir tiga pembicara dengan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda namun saling terkait. Mereka adalah Yulianti Tanyadji (arsitek), Nandar Moehammad (dosen Arkeologi Universitas Hasanuddin), dan Dias Pradadimara (dosen Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin).

Perbincangan mengenai bagaimana menghidupkan kembali bangunan bersejarah ini berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam. Kota Barcelona sebagai contoh konkret bagaimana sebuah kota begitu menghargai peninggalan bangunan bersejarahnya adalah cerita pembuka dari kelas ini, kemudian berlanjut mengenai bangunan-bangunan pusaka di Indonesia yang secara garis besar menurut saya, nasibnya sama, yakni terkatung-katung. Menurut Dias, sepeninggal Belanda dari Indonesia, maka seluruh bangunan Belanda menjadi milik negara. Pemerintah dan beberapa orang menganggap bahwa keberadaan bangunan peninggalan Belanda ini hanya akan membawa efek trauma bagi masyarakat. Olehnya itu, mereka lebih memilih menghilangkan bangunan-bangunan ini. Kelas yang seyogianya dimulai pukul 15.30 harus molor 45 menit dikarenakan kurangnya peserta dalam kelas tersebut. Dari pengamatan saya, peserta yang hadir adalah para penggiat komunitas yang tiap kelas Akber selalu hadir dan ini tentunya jauh dari harapan pemateri. Dimana peserta yang diharapkan hadir adalah mahasiswa arsitektur. Tidak hadirnya mahasiswa arsitektur ini apakah disebabkan oleh kurangnya publikasi dari pihak Akber Makassar atau memang mahasiswa arsitektur di Makassar tidak mau ambil pusing mengenai pelestarian bangunan-bangunan bersejarah, entahlah.

Yuli kemudian memutarkan video berupa aksi yang dilakukan oleh Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma Institut Teknologi Bandung tentang bagaimana cara melestarikan bangunan bersejarah. Mereka, telah berhasil menghidupkan Gedung Gas Negara di Bandung dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah kota, arsitek, developer hingga komunitas fotografi. Contoh inilah, yang kemudian akan coba diterapkan di Makassar dalam waktu dekat ini, namun bentuk awalnya hanyalah sebatas mengumpulkan database situs bangunan heritage.

Saya merasa bahwa ide-ide dari kelas akademi berbagi ini akan “mubazir” ketika hanya diramaikan oleh relawan Akber Makassar dan orang-orang yang itu-itu saja, karena idenya hanya sampai disitu, sementara untuk ide bisa menjadi inovasi harus ada realisasi. Kita butuh kolaborasi. Kehadiran mahasiswa arsitektur akan memperkaya topik, wawasan serta gagasan.

Mengingat bahwa bangunan bersejarah merupakan sebuah wacana yang sangat luas. Saya tertarik dengan pendapat yang dilontarkan oleh salah satu peserta kelas ini yakni Akademi Berbagi Makassar sebaiknya melakukan kelas-kelas di kampus-kampus sebagai wujud sosialisasi. Ya, sesekali kita memang harus menjemput bola, mengajak lebih banyak orang-orang kompeten, pengumpulsan database situs bangunan, atau mungkin melaksanakan workshop dan simulasi. Yuli menegaskan bahwa selalu ada solusi untuk bangunan bersejarah selama kita mau mempertahankannya. Dan manusia, baru akan sadar, hanya setelah mereka kehilangan.