Oleh: Maysharah Nur Asrida*

Ketika mendengar kata Seoul, yang terlintas di pikiran kebanyakan orang Indonesia adalah boy band, drama, girl band, Lee Min Ho, atau hal lain yang berbau hiburan. Tidak bisa dipungkiri bahwa ibu kota Korea Selatan ini memang sangat terkenal dengan dunia entertainer-nya yang penuh gemerlap, tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Terletak di bagian selatan DMZ Korea atau tepatnya di Sungai Han, Seoul bukan hanya sekedar kota yang kaya akan entertainernya yang mendunia, tetapi juga kaya akan nilai-nilai budaya yang masih dijaga hingga saat ini. Ibu kota negeri ginseng ini juga disebut-sebut sebagai sinar ekonomi Asia Timur.

Saya telah mengenal Seoul dan jatuh cinta kepadanya sejak lama, kira-kira sekitar enam tahun lamanya, ketika drama Endless Love sedang populer-populernya. Awalnya saya hanya seorang penggemar K-pop dan drama Korea biasa seperti kebanyakan orang Indonesia. Tapi semua itu berubah setelah saya bertemu seorang profesor dari Korea Selatan, Profesor Jung. Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan saya pada keindahan budaya Korea dan juga mengajarkan bahasa Korea pada saya. Ialah yang membantu saya bisa berkomunikasi dengan bahasa Korea seperti saat ini.

Pertukaran ke Korea Selatan merupakan impian saya sejak lama. Sejak profesor Jung meninggalkan Indonesia saya bertekad untuk bisa menginjakkan kaki di negeri ginseng itu, bukan sebagai seorang turis biasa tetapi sebagai seorang yang bisa belajar berbagai hal dari Korea dan memperlihatkan kepada orang Korea tentang Indonesia.

2015 menjadi tahun yang benar-benar luar biasa bagi saya. Di tahun tersebut, saya bersyukur bisa menyentuh salju untuk pertama kalinya dan merasakan dinginnya musim dingin di negara impian saya, Korea Selatan. Tidak hanya itu, saya juga pergi ke sana sebagai exchange participant dari AIESEC dan bukan sebagai turis biasa.

Hidup berdampingan dengan warga Seoul selama 2 bulan benar-benar memberi banyak nilai-niai positif pada saya. Terutama tentang toleransi, mencintai budaya sendiri dan kebiasaan mereka untuk menggunakan transportasi umum. Sebagai seorang muslim yang juga menggunakan hijab mengunjungi negara non-muslim tentu saja cukup mendebarkan. Apalagi saat itu Islam Phobia sedang maraknya tersebar di kalangan masyarakat non-muslim. Tapi ternyata ketakutan saya itu tidak ada yang menjadi kenyataan. Alhamdulillah.

Meskipun jumlah muslim kurang dari 1% dari total penduduk seluruh Korea Selatan, saya bersyukur tidak pernah mendapatkan tindakan rasis dari mereka. Malah mereka selalu membantu ketika saya terlihat kebingungan atau membutuhkan bantuan lain. Dalam bayangan saya ketika saya berada disana orang-orang akan menatap saya dengan tatapan sinis dan enggan duduk disamping saya ketika berada di subway. Faktanya, semua itu menjadi sebaliknya. Selalu ada yang mengisi kursi kosong di samping saya. Bahkan ketika saya tampak ragu untuk duduk pada sebuah kursi kosong mereka dengan ramahnya mempersilahkan saya duduk. Mereka juga tidak segan untuk tersenyum lebih dulu kepada saya. Tatapan aneh juga tidak pernah saya dapatkan selama di sana. Malah mereka sering memuji kalau hijab yang saya gunakan sangat cantik dan cocok untuk saya. Mereka benar-benar luar biasa dalam bertoleransi.

Orang Korea benar-benar menghargai dan mencintai budaya yang mereka miliki. Jika anda berkunjung ke Istana Gyeongbok-gung melihat gadis-gadis Korea berfoto ria menggunakan hanbok (pakaian tradisional korea) merupakan pemandangan yang umum. Saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa gadis yang sedang berfoto di sana. Katanya mereka memang sengaja berfoto menggunakan hanbok pada waktu tertentu sebagai bentuk kebanggaan dan kecintaan mereka terhadap warisan budaya tersebut. Bahkan kaum pria juga banyak yang melakukannya menurut mereka. Situs-situs sejarah yang mereka miliki juga sangat terjaga dengan baik. Istana-istana kerajaan yang mereka seperti Gyeongbuk-gung dan Deoksung-gung masih berdiri dengan gagahnya bersanding dengan gedung-gedung pencakar langit yang bertebaran di sana-sini.

Istana Gyeongbuk-gung.

Istana Gyeongbuk-gung.

Tidak hanya itu, mereka juga selalu menyisipkan nilai-nilai kebudayaan lokal ke dalam budaya yang mereka serap dari negara lain. Seperti saat merayakan tahun baru. Sebelum menyalakan kembang api sebagai tanda pergantian tahun, mereka terlebih dahulu membunyikan bosingak, sebuah bel tua peninggalan dinasti Joseon. Kebiasaan ini selalu dilakukan sejak ratusan tahun lamanya. Tidak hanya saat tahun baru saja, bosingak juga dibunyikan setiap hari sebagai penanda dimulai dan berakhirnya satu hari. Dalam mengadopsi makanan mereka juga melakukan hal demikian. Mereka selalu menyisipkan cita rasa korea kedalam masakan asing. Burger Bulgogi contohnya.

Masyarakat Korea Selatan, Seoul khususnya, sangat disiplin dan teratur. Hal ini terbukti dari bagaimana disiplinnya mereka berkendara. Selama dua bulan saya di sana, saya tidak pernah mendapati kemacetan seperti yang terjadi di Indonesia, baik itu di distrik sunyi maupun distrik padat seperti Myeongdong dan Kangnamgu. Tak satupun dari mobil-mobil yang ada pernah saya dapat menerobos lampu merah seperti yang umum dilakukan oleh pengendara Indonesia. Meskipun berkendara dalam kecepatan tinggi tetapi mereka selalu memastikan bahwa mobil mereka berhenti sebelum zebra cross ketika lampu merah. Jika melewati zebra cross, mereka akan mundur dan mobil-mobil di belakang pun dengan senang hati akan mundur.

Distrik Jongno (Pusat Pemerintahan)

Suasana di Distrik Jongno (Pusat Pemerintahan)

Di sana tidak ada jalur khusus bus seperti jalur busway di Indonesia. Tetapi ketika bus akan lewat, mobil pribadi yang sedang berada dijalur itu akan menyingkir dengan sendirinya. Mereka juga lebih memilih menggunakan kendaraan umum atau berjalan kaki ketimbang kendaraan pribadi. Trotoar-trotoar yang ada ukurannya memang sangat besar. Hampir menyamai ukuran jalan-jalan utama dan juga sangat bersih. Ketika berkunjung ke sana, anda akan selalu melihat antrian bus yang panjang dan desakan manusia didalam stasiun subway daripada kemacetan. Bagi orang Korea menggunakan kendaraan umum bukanlah hal yang memalukan. Mereka juga selalu menjaga kebersihan. Meskipun orang Korea hobinya makan, tetapi anda akan sangat sulit menemukan sampah yang berhamburan di jalan-jalan.

Namsangol Hanok Village.

Namsangol Hanok Village.

Berkunjung ke Korea Selatan sebagai exchange participant dari AIESEC memberikan saya lebih banyak kesempatan untuk belajar pada hal-hal positif yang mereka miliki. Tidak hanya belajar tentang lingkungan dan budaya saja, saya juga belajar bagaimana mereka menghargai pemikiran orang lain, bagaimana usaha mereka untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan lain-lain. Saya berharap suatu saat nanti apa yang saya dapatkan saat ini bisa saya terapkan di Indonesia. Pengalaman ini juga berhasil membuat saya lebih menghargai dan mencintai budaya Indonesia seperti orang Korea menghargai dan mencintai budayanya dan juga mengurangi menggunakan kendaraan pribadi sebagai langkah awal untuk mengurangi kemacetan. []

*Penulis merupakan exchange participant dari AIESEC Makassar. Seluruh foto merupakan dokumentasi  pribadi Maysharah Nur Asrida.


Baca tulisan lainnya

Makan Siang di dalam Mesin Waktu

India, Saya (Pada Akhirnya) Jatuh Cinta

Mengubah diri untuk Mengubah Dunia

Mengembangkan Jiwa Kepemimpinan

Saya, Korea, dan AIESEC