Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

“Tidak apa-apa kalau jarang mengabari, karena saya tahu kamu sibuk. Yang jelas kamu jaga kesehatan yah.” Atau ”Kenapa kamu jarang memberi kabar? kan saya juga ingin mendengar kabarmu. Kesehatanmu bagaimana atau apa yang sedang kamu lakukan.”

Kebanyakan dari kita mungkin memilih kalimat pertama meskipun yang ingin kita sampaikan adalah kalimat kedua. Berbagai pertimbangan akan mempengaruhi apa yang manusia ucapkan. Itulah manusia dan itulah bahasa. Seperti suami istri yang tidak pernah akur tapi mampu bertahan hingga keduanya meninggal.

Asal usul kebohongan terbesar manusia dilakukan dengan bantuan bahasa. Bukan hanya bahasa lisan, bahasa tubuh juga mampu dimanipulasi. Air mata buaya, senyum badut, atau ketawa setan adalah istilah-istilah yang memperliatkan bahwa bahasa tubuh juga bisa berbohong.

Kebohongan-kebohongan itulah yang membuat saya lebih sepakat agar Komisi Pemberantasan Korupsi dibubarkan dan negara ini membuat Komisi Pemberantasan Kebohongan. Karena, lebih banyak hubungan percintaan yang berakhir karena pasangannya berbohong dari pada pasangannya korupsi waktu nongkrong berdua. Yakeles!

***

Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar nama Vicky Prasetyo. Pria yang terkenal dengan diksi aneh dan bengalnya itu dianggap sebagai perusak tatanan bahasa Indonesia. Karena keanehan bahasanya, banyak yang tidak mengerti dengan apa yang Vicky sampaikan. Membingungkanlah, lebaylah, alaylah, apalah.  Padahal, mungkin saja kita yang tidak pernah mencoba mengerti apa yang Vicky ingin sampaikan.

Saya memuji kepandaian Vicky memilih padanan kata untuk menyampaikan apa yang ia inginkan. Ia lebih jujur menggambarkan situasi perasaannya daripada saya—dan mungkin kebanyakan dari kita.

Seperti kalimat Vicky yang satu ini, “Kita belajar, apa ya, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita nggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan mengkudeta apa yang kita menjadi keinginan.”

Bahasa lisan seseorang harus dilihat kapan dan dengan tujuan apa ia menyampaikan ucapannya. Vicky menyampaikan kalimat itu sebelum pernikahannya batal dengan Zaskia Gotik. Kata kudeta yang dalam pengertiannya diartikan sebagai perebutan kekuasaan. Vicky berhasil membuat kata kudeta yang selama ini terkenal sakral dan berhubungan dengan situasi negara menjadi ungkapan paling romantis untuk seorang gadis pujaan hatinya.

***

Bagi saya, Vicky termasuk orang yang cerdas. Dalam hal ini, ia lebih jujur menggambarkan keinginannya dengan memilih kata yang dapat dengan mudah dimaknai getar getirnya. Jika seorang penyair, ia mungkin mirip dengan Sutardji Calzoum Bachri – O, Amuk, Kapak dan kalau penulis novel, ia mungkin menjadi Eka Kurniawan – Cantik itu Luka.

Dengan Vickynisasi-nya, ia memasuki tahap bahasa absurd. Tahap di mana bahasa harus dilihat melalui makna, bukan lagi tentang arti dan tidak melupakan asal usulnya. Ia telah melampaui batas bahasa normal dan memberi kita gambaran tentang kegunaan bahasa. Bahwa bahasa tidak selamanya kaku dan butuh dijelaskan melalui teori ini dan itu.

Tentu ini akan bertentangan dengan para ahli bahasa Indonesia. Dosen-dosen bahasa saya di kampus juga berkomentar miring tentang pilihan kata yang digunakan oleh Vicky. Katanya, bahasa yang digunakan Prasetyo itu menyalahi aturan tata bahasa. Sementara di ruang kuliah, dosen itu dengan tegas meminta mahasiswa mengulang kalimat yang ia ucapkan. Tanpa perbedaan. Mungkin dosen saya lupa, kalau dia juga telah menyalahi aturan kampus, dilarang mendikte mahasiswa.

Vicky memang tidak pernah bermaksud agar semua orang mengerti apa yang ia ucapkan. Ia hanya menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan. Bukan apa yang ingin kita dengar. Vickynisasi.

So, kebenaran tidak digunakan untuk menilai kesalahan orang lain. Tapi untuk melihat kesalahan orang lain sebagai upaya pembelajaran dalam menemukan kebenaran sejati. []