Oleh: Ashari Ramadana (@ashariramadana)

Pohon Jambu

aku pohon jambu halaman rumahmu.
dimusnahkan daun-daunku yang jatuh jauh
sebelum kau terjaga, dan kau tak menyadari:
setiap malam, angin kupadamkan
sebelum memecah mimpi-mimpimu.

ingin sekali kaudatang waktu
pagi, meletakkan kaki di kering daun-daun
agar kaudengar riuh cemasku.
melintaslah saat gelap masih terang
agar kautahu, ada yang setia
melebihi bayang-bayang.

aku pohon jambu halaman rumahmu.
buahku matang dan diinginkan seseorang.
ia tak punya batu. pinjamkanlah
senyummu sebentar.

ketika buah pecah menyentuh tanah,
tak ada lagi rahasia.

*

Menjadi Daun

taman adalah teman
baik, bagi sepasang kekasih
yang gemar bertengkar.
angin mengusik dan daun-daun mengajarkan:
berpegangan dan berpelukanlah waktu
pagi jatuh, bak kesedihan yang berat,
tak terlihat,
dan tiba-tiba

aku ingin kita
sepasang daun itu. cinta
telah jadi burung
yang menebas jalan
panjang dan kehausan.

kauluruh lebih dulu
dan aku cemas menunggu
dipetik angin atau tangan
jahil anak kecil.

aku ingin gugur dan jatuh
menindih cokelat tubuhmu.
telentang di tanah, aku ingin
kita jadi satu dan basah.

dari sini, terdengar nyaring burung
mengiringi musim memakan kita,
menemani kita tersapu
ke perapian entah
siapa

*

Mengingat Kau

dalam perjalanan pulang dari Pettarani
menuju Losari, ketika langit berganti
warna, aku mengingat kau.

kau kemacetan;
riuh tak terhindarkan.
kau lampu-lampu jalan;
keberanian-keberanian
yang tabah dan teratur.
kau pohon-pohon;
dijauhkan,
dimusnahkan kota.

aku berusaha menjatuhkan
kau berkali-kali.

kautumbuh subur seperti akar
merusak jalan yang tak dibangun
sungguh-sungguh oleh pemerintah.
seperti itu kausentuh seluruh mata air
dalam diriku.

untuk melupakan kau, aku
harus musnah lebih dulu.

*

Mata Pelajaran Perpisahan

 di dalam kelas, berbaris-baris bangku
kosong, rusak dada, kaki dan lengan.
di atas papan tulis, kipas angin penuh
penjelasan.

seseorang pergi dan melupakan
aroma tubuhnya.

*

Belajar Mencintai dari Cara Binatang Mengelabui Musuh

bunglon

matamu pohon paling teduh,
aku bermukim di rimbunnya.
aku hijau, aku kuning
dan cokelatmu.

kecoa

berpura-pura mati.
hanya tidur penuh,
hanya di dasarnya
aku mampu memelukmu. 

cicak

meninggalkan ekor
amsal menanggalkan ingatan
menuju celah cahaya, aku
pensiun memikirkanmu.

*