Apa yang kamu gunakan untuk mengingat kenangan? Maksudku, mengekalkannya? Apa setiap jengkal jalan yang pernah dilewati bersama pasangan harus kamu pungut satu-satu dan masukkan dalam kotak kemudian dipajang di tempat tertinggi agar mudah dilihat ketika ingin tidur atau ketika sedang rindu?

Pertanyaan tersebut sebenarnya akan terus berputar pada tempat yang sama ketika kamu mulai kehabisan akal untuk menjawabnya. Beberapa orang barangkali akan melakukan berbagai upaya untuk menghapuskan kenangan yang mereka buat. Tapi beberapa yang lain, tentu setuju tetap menyimpan kenang dalam kening yang bahkan akan membingungkan mereka untuk membuatnya kering. Sebab, mungkin kenangan serupa jalanan basah yang becek dan mengekalkan sebuah nama di dalamnya yang meskipun sering kali tersiram air hujan, mustahil untuk menghapuskannya begitu saja. Seperti itulah hidup bekerja.

Berbicara tentang penulisnya, jujur saja saya belum terlalu sering mendengar namanya. Mungkin saja karena saya yang masih selalu kurang membaca. Tetapi karya satu ini membuat saya percaya bahwa Yetti A.KA adalah seorang penulis yang cukup cerdas membingkai kenangan menjadi beberapa cerita dalam buku kumpulan cerpennya. Buku yang berjudul Satu Hari yang Ingin Kuingat. Buku dengan 110 halaman ini mampu menghadirkan sisi lain dari cara orang-orang mengingat hari dan kenangan yang mereka miliki. Bukunya ringan dengan diksi yang menurut saya menarik hingga membuat saya selalu ingin membacanya lagi dan lagi. Satu cerpen dengan satu hari dan satu cerita yang apik. Dari 13 cerpen yang dihadirkan, ada 3 benang merah yang bisa ditarik. Semua cerpen di dalam buku ini membahas tentang hari, lelaki, dan hewan yang memiliki sayap seperti kupu-kupu dan belalang. Bahwa sungguh, meskipun dengan cerita yang berbeda dan pengaturan emosi pembaca yang cenderung diajak berubah, buku manis ini mampu menghadirkan warna yang berbeda.

Dalam buku ini ada dua cerpen yang membekas di ingatan saya sampai pada saat saya menuliskan ini. Pertama, cerpen berjudul “Tiga Pasang Mata Marinda”, cerpen yang akan membuat pikiran siapapun pembacanya menjadi terbolak-balik. Jika bukan pikiran yang terbolak-balik, barangkali cuma lembar demi lembar cerpen ini saja yang dibolak-balik karena kurang yakin dengan apa yang dibaca sebelumnya. Ceritanya singkat, tentang Marinda yang pamit pergi ke masa lalu karena tidak bahagia dan menyerah dengan rasa bahagia. Bingung? Sama. Saya juga. Kemudian cerpen kedua, yang berjudul sama dengan bukunya, Satu Hari yang Ingin Kuingat. Sesingkat yang tadi, cerpen ini hanya berlatar seputar kafe dengan meja nomor 19, kursi warna krem dengan sandaran beraksen anyaman, kotak tisu, gelas minum setinggi 15 sentimeter, sedotan putih susu, tas merah, telepon genggam dan masih banyak lagi yang harusnya bisa kamu baca sendiri. Bagaimana akhir kisah cerpen ini? Tragis. Kenapa? Silakan dibaca saja langsung.

Saya rasa Yetti A.KA memang seorang perempuan yang peka. Terbukti dari pengantar yang ia tuliskan berisi kata-kata yang bagi orang lain mungkin tidak penting meskipun hal itu sering dilalui sehari-hari. Ia menuliskan bahwa rasa sakit itu bisa datang dari mana dan dalam bentuk apa saja; selembar daun yang jatuh, bunga mawar yang layu, atau kekasih yang berhenti mencintai. Berhenti di kalimat itu, maka akan sangat miris ketika dibaca oleh seseorang yang baru saja patah hati dan hanya memiliki kemungkinan kecil untuk cepat sembuh. Sepertinya memang begitu.

Judul : Satu Hari yang Ingin Kuingat | Penulis : Yetti A.KA| Penerbit : Penerbit UNSApress | Tebal : 110 halaman | ISBN : 978-602-71176-7