Esai oleh: M. Aan Mansyur (@hurufkecil )

“A baby fills a place in your heart that you never knew was empty.” — Unknown

SAYA suka bayi. Sangat suka. Saya senang bermain dengan anak kecil. Saya sering dengan riang dan sukarela menjadi babysitter sahabat-sahabat saya. Kadang-kadang saya sengaja mengunjungi rumah teman-teman saya hanya supaya bisa bermain dengan anak-anak mereka. Beberapa orang yang saya sebut sahabat dalam hidup saya adalah anak kecil. Pada banyak kesempatan, saya lebih senang berbincang dengan anak kecil daripada orang tua mereka. Orang dewasa kerap membosankan, sok tahu, dan senang menggurui! Saya kadang membayangkan diri saya kembali jadi bayi.

Saya selalu ingat kalimat Buckminster Fuller: Everyone is born a genius, but the process of living de-geniuses them. Dan, berikut beberapa hal yang selama ini saya pelajari dari bayi, mahluk jenius dan menggemaskan itu.

Jangan pernah kehabisan rasa penasaran. Beratnya beban hidup. Tumpukan masalah di tempat kerja. Drama tidak penting dengan kekasih atau para sahabat. Semua itu membuat kita kerap membatasi diri, takut mencoba hal-hal baru, dan terjebak jerat rutinitas. Alasannya sederhana: khawatir masalah bertambah! Saya belajar dari bayi untuk menjelajahi hal-hal yang belum pernah saya lakukan—dan membiarkan diri saya mengalami kejutan-kejutan menyenangkan.

Jatuh cintalah kepada hal-hal kecil dan rayakan. Belasan tahun lalu, saya bertemu dengan seorang anak kecil yang bercita-cita menjadi termos. Dia mengatakannya dengan mata berbinar-binar sambil tertawa. Sampai sekarang saya masih kagum dan bertanya-tanya dengan hal tersebut. Apa gerangan yang membuat gadis kecil itu ingin menjadi termos?

Jangan khawatir dianggap bodoh dan jangan takut meminta bantuan. Keluguan seseorang lebih sering kita anggap kelemahan daripada kelebihan. Akibatnya: kita menjadi sok pintar, penuh kepalsuan, dan gampang curiga terhadap orang lain. Hanya orang dewasa yang melakukan hal semacam itu.

Jika kamu lapar, makan. Jika kamu lelah, istirahat. Sebagai orang dewasa, kita sering menganggap diri kita punya kekuatan super. Kita sering memasukkan diri kita ke dalam kerumitan yang tidak mampu kita atasi sendiri. Keasyikan mengerjakan hal-hal yang disenangi sering membuat kita lupa bahwa kita sebetulnya lemah. Jangan suka telat makan dan begadang, Sayang!

Jangan lupa bermain. Seburuk apa pun hidup memperlakukanmu, seserius apa pun persoalan negara ini, ingatlah selalu bahwa dunia ini sebagian diciptakan untukmu sebagai tempat bermain.

Jadilah obat penenang. Kamu tidak selalu perlu menunjukkan kehebatanmu untuk bisa menenangkan (dan memenangkan) hati orang lain. Kadang-kadang yang kamu butuhkan adalah senyuman atau tatapan mata yang tulus. Kalau tidak percaya, coba perhatikan foto-foto karya Ifan Adhitya berikut ini.

03

02

01

05

06

 

Ada banyak hal lain, tentu saja, yang bisa kita pelajari dari bayi. Seperti kata Eda J. Le Shan, “A new baby is like the beginning of all things—wonder, hope, a dream of possibilities.
*
Bonus Artikel: What We Can Learn from Babies: Experimentation, Failure, and Creative Genius