Sumber Gambar: Onyx Films

Film The Little Prince diangkat dari buku berjudul asli “Le Petit Prince” yang ditulis oleh Antoine de Saint-Exupery pada 1943. Bukunya adalah mahakarya dari sang penulis. Konon, ia pernah disadur ke dalam 230 bahasa asing. Dongeng Saint-Exupery sepertinya adalah cerita untuk anak-anak, tapi sesungguhnya ia adalah sajian perenungan untuk orang dewasa. Ia menyentuh beberapa nilai dan pengalaman manusia yang paling essential, seperti kekuasaan, tanggung jawab, dan cinta.

Film arahan Mark Osbourne ini menitikberatkan pada dua jenis cerita yang kemudian ditayangkan dengan teknik animasi berbeda. Cerita asli bukunya ditampilkan menggunakan animasi stop motion sedangkan cerita tambahannya menggunakan animasi komputer.

The Little Girl (Mackenzie Foy) bertemu dengan The Aviator (Jeff Bridges) yang kebetulan tinggal persis di sebelah rumahnya. Mereka bertemu sembunyi-sembunyi sebab ibu gadis kecil itu (Rachel McAdams) ingin anaknya hanya fokus pada rencana hidup yang telah dirancangnya untuk satu tujuan: Wharton Academy.

The-Little-Prince-Movie-2015-Revius

The Little Girl dan The Aviator.

Setiap kali mereka bertemu, The Aviator menunjukkan gambar-gambarnya kepada The Little Girl. Di seri gambar itu, The Aviator bercerita tentang The Little Prince.

“Once upon a time there was a little prince who lived on a planet scarcely bigger than himself and who had need for a friend”-

The Little Prince tinggal di sebuah planet yang hanya sebesar dirinya. Di planet itu ia tinggal seorang diri dan butuh teman. Setiap hari, dia membersihkan planetnya dari bibit pohon baobab. Lalu suatu hari, dia menemukan bibit yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Dia yakin bibit itu akan tumbuh dengan indah. The Little Prince benar. Dia akhirnya menyaksikan bibit itu berubah menjadi mawar merah yang sangat cantik lalu menghabiskan waktunya untuk merawat bunga mawar itu.

The Little Prince yang tinggal di sebuah planet sebesar dirinya.

The Little Prince yang tinggal di sebuah planet sebesar dirinya.

Suatu hari, The Little Prince melarikan diri dari planetnya. Ia meninggalkan mawarnya yang telah menjadi angkuh. Setelah terdampar ke beberapa asteroid, dia pun akhirnya jatuh di Bumi, di Gurun Sahara, tempat The Aviator yang saat itu masih muda, tersesat sendirian setelah pesawatnya jatuh.

Cerita utama film ini tentu adalah kisah The Little Prince. Dia dan mawarnya, dia yang bertemu orang dewasa yang aneh. Tentang dia yang menjinakkan seekor rubah dan dia yang bertemu dengan The Aviator. Kisah The Little Girl dan ibunya yang perfeksionis hanyalah cerita tambahan. Kedua cerita ini dihubungkan dengan begitu rapi dan diceritakan berganti-ganti.

Namun karena ada dua fokus cerita yang kesannya harus mendapat dua perhatian utama, jadi pesan ceritanya mengabur. Belum lagi ada adegan yang tidak perlu ada, dan hanya semakin membuat bingung penonton. Saya berekspektasi tinggi pada film produksi Onyx Films, Orange Studio dan On Entertainment ini.

Meskipun setiap melihat trailer filmnya saya dibuat merinding, tetap saja kesenangan membaca bukunya tak akan pernah sama saat filmmaker menginterpretasikan dengan cara mereka sendiri.

Ini memang film animasi, tapi bukan untuk anak-anak. Orang dewasa perlu menontonnya agar mereka tahu bahwa saat kita tumbuh dewasa, kita melupakan banyak hal yang penting. Seperti The Aviator bilang, “Growing up is not the problem, forgetting is”. Atau “All grown-ups were once children… but only few of them remember it”.

Banyak hal-hal yang penting yang tak disadari oleh orang dewasa, yang kemudian dipelajari Pangeran Cilik dari Rubah, Mawar, dari Ular, Padang Pasir dan dari pertemuan-pertemuannya dengan hal-hal baru. Namun yang paling memikat adalah pertemuannya dengan Rubah saat mereka berbicara soal jinak-menjinakkan.

“But if you tame me, then we shall need each other. To me, you will be unique in all the world. To you, I shall be unique in all the world. But you mustn’t forget it. You become responsible forever for what you’ve tamed. You’re responsible for your rose. It is the time you have wasted for your rose that makes your rose so important”.

Dikatakan berapa kalipun, lines di atas selalu membuat merinding.

Have a nice watching, everyone! []


Baca tulisan lainnya dari Riana Anwar

Mengenal Louis Zamperini

Have You Inspired Someone Today?

Landline: Jika kalian punya sebuah telepon ajaib yang bisa menghubungkanmu ke masa lalu, siapa yang akan kalian hubungi?

Menghargai Karya Seni Lewat Film

Jason Mraz Spreads Yes!

Kenapa Harus Menulis?

Bisakah Kita Menyalahkan Bintang-Bintang?

Bukan Hanya Dendam, Rindu pun Harus Dibayar Tuntas