“Kita bisa mengendalikan ingatan. Makanya kita kenal dengan proses menghafal. Tapi kenangan sebaliknya: justru kenangan yang mengendalikan kita. Makanya ada istilah ‘lupa ingatan’, tapi tak pernah ada istilah ‘lupa kenangan’. Sebab kenangan itu melampaui lupa.”

Kalimat dari Zen Rahmat Sugito tersebut berhasil membuat saya mengurai ingatan dan kenangan. Saya mulai paham, bagian mana yang saya masukkan di laci ingatan, mana yang di kardus kenangan. Keduanya seringkali saling mendukung untuk dibuka, namun kadangkala saling membiarkan untuk tertutup. Kemungkinan itulah yang sering terjadi saat saya membaca buku puisi.

Beberapa waktu lalu, saya membaca buku puisi berjudul Benang Ingatan yang diterbitkan oleh Indie Book Corner, Mei 2016. Berisi sejumlah sajak dari para penulis muda Makassar. Dan, saat membaca judul buku tersebut, pikiran dan perasaan saya meraba-raba laci dan kardus. Apa yang harus dibuka, ingatan ataukah kenangan.

Frasa “Benang Ingatan”, mengingatkan saya kepada “Melipat Jarak” milik Sapardi. Jika Sapardi memilih kata melipat untuk mendekatkan jarak, maka buku ini menjadikan benang sebagai jalan menuju ingatan. Memaknai benang melahirkan cukup banyak kemungkinan, benda kecil yang kuat sekaligus rapuh, sebagai bahan untuk menjahit (menyambungkan sesuatu) atau merajut (membuat sesuatu). Dan, mendampingi kata “ingatan” sungguh puitis, bukan?

Secara personal, benang bagi saya mengingatkan kepada Layang-layang dan ibu. Dua hal yang lebih dari cukup untuk menilai betapa puitis frasa “Benang Ingatan”.

Saya membuka buku ini sambil pikiran menggenggam gagang laci ingatan. Dan, hasilnya, terbuka! Yang cukup luar biasa adalah ingatan-ingatan yang terkuak menyusun diri mereka sedemikian rupa sebagai sebuah kronologi perjalanan hidup saya.

Sepatah Kata dan Mata Berkaca-kaca. Dua puisi awal dalam buku tersebut diberi judul dari ungkapan yang sering kita temui. Lalu, penulis memainkannya ke dalam bentuk puisi. Dengan objek yang sangat potensial (patah, kata, dan kaca), dua puisi tersebut berhasil memunculkan ingatan kepada “bahasa ibu” saya: Bahasa Bugis. Saya mengingat dua istilah. Pertama, disebut “Lecco’ ada”. Istilah tersebut digunakan untuk menyebut “akrobat kata” dan plesetan. Dan seringkali, tidak memiliki kedalaman makna. Kedua adalah “Laona ada”. Istilah yang membungkus majas, analogi, dan sejenisnya.

“…setiap kali mulai menuliskan senyummu
Selalu ada kata yang patah” (Sepatah kata)

“…Setelah itu kaca pecah di matanya
Lalu berserakan ke dasar jiwanya
Sekarang, matanya berkaca-kaca” (Mata Berkaca-kaca)

Ingatan saya selanjutnya menuju ke masa sebelum sekolah. Saat lagu anak-anak masih enak-enak. Melalui pembuka dari puisi Salib Raib karya Al-Fian Dippahatang:

Delapan tahun lebih usiaku waktu itu.
Ayah mengajakku berkunjung ke rumah temannya.
Ayah bilang, baru lima hari ia berada di desa.

Jujur saja, sampai di situ saya ingin melanjutkan dengan “Dibawakannya rambutan pisang dan sayur mayur segala rupa”. Dari penulis yang sama, ingatan saya pelan-pelan menuju usia SD, saat pelajaran mengarang. Melalui puisi Ayah, Malas, dan Penyair Kurus.

Puisi berjudul “aku”satu-satunya yang diingat ayahku.
Semasa SD mendengarku malas latihan di rumah
Tak satupun anggota keluargaku yang tahu baca puisi.
Guru-guru di sekolah menyuruhku belajar sendiri.
Kala itu, aku tak bangga ditunjuk
mengikuti lomba baca puisi tingkat kecamatan.
Bukan bakatku di sana.

Ada yang mengingat pelajaran mengarangnya juga? Masih dari penulis yang sama, ingatan saya kembali bergerak menuju masa awal bangku kuliah. Kali ini di puisi Manuskrip Tukang Jahit

Ibumu dikenal tukang jahit di kampung.
Namun, sejak ia meninggal,
ayahmulah yang meneruskan pekerjaan itu
dan kini sangat dikenal tukang jahit baju pesta
yang tak pernah mengecewakan pelanggan.

Bait puisi tersebut memaksa saya mengingat pelajaran-pelajaran logika. Jadi Ibu dalam puisi tersebut dikenal oleh tukang jahit di kampung, setelah ibu meninggal, ayah meneruskan pekerjaan itu. “Itu” dalam baris ke tiga menunjuk apa? Kalau yang dimaksud adalah tukang jahit, apa urusan “ayah” untuk meneruskan, sedangkan yang meninggal adalah ibu. Lalu, di baris selanjutnya, seperti ibu, ayah juga dikenal tukang jahit. Tapi kali ini tukang jahit yang mengenalnya lebih spesifik sebagai tukang jahit pesta. Dari bait ini, saya hanya bisa menganggap Ayah dan Ibu sungguh terkenal di dunia pertukang-jahit-an. Bingungku kau e, saking bingungku keluar logatku.

Selepas mengingat masa awal kuliah, ingatan saya menuju saat-saat pertama mengenal internet. Baris-baris puisi dari Andi Batara Isra berikut menyajikan ingatan tersebut cukup jelas:

Kejadian adalah mula segala… (Tautan)
Hatimu adalah stasiun yang menunggu transmisi… (Oblivion)
Kau adalah bintang tua yang menanti orang-orang… (Supernova)
Sebab tidur adalah hal yang sia-sia… (Menikmati Espresso)
Dunia adalah cawan raksasa… (Menjadi Semut)
Rumah adalah toilet yang tak pernah disiram… (Ibu Kota)
…pulang ke rumah adalah jelajah terakhir seorang petualang. (Nona)
Bumi adalah anak perempuan kesekian dari perawan semesta… (Asal Mula)

Dari baris-baris tersebut, saya mengingat saat mengerjakan tugas kuliah di internet dan membuka Wikipedia. Dan, hal terakhir yang saya ingat, saat mulai sering membaca buku puisi. Satu puisi dari Ibe S Palogai mengingatkan saya kepada puisi yang lain.

Menyeberangi Halaman

Tentang rumah dan kenangan yang terburai ke halaman
Barangkali beranjak hanya pekerti antara bertahan
Dan tidak pergi
Pejaman mata yang menyiksamu dengan adegan-adegan masa lalu
Atau foto keluarga yang menyisakan kau seorang diri
Membiarkanmu terperangkap kusut di jala-jala sepi.

Dinding rumah dibedaki kapur putih, warna lain
Hanya seragam
Di upacara kematian yang kau kenakan berkali-kali.

Dan inilah puisi yang saya ingat:

PULANG AKU KE RUMAHMU

1.
DI BERANDA di hadapan pintu yang senantiasa terbuka
masih engkau biarkan berceceran kata-kataku yang lama
selamat tinggal yang pernah aku ucapkan lalu aku lupa
Rasa bersalah apa engkau hendaki aku akui di pulang kali ini?

2.
DI DINDING ruang tamu di bawah jam penghitung usia
menggantung sebuah pigura. Di dalamnya apakah sengaja
engkau letakkan benda kecil yang tidak aku tahu namanya?

Puisi terakhir tersebut berasal dari buku Aku Hendak Pindah Rumah karya M. Aan Mansyur, diterbitkan oleh Nala Cipta Litera, Februari 2008.

Itulah ingatan-ingatan yang berhasil saya buka setelah membaca Benang Ingatan. Dan, sayangnya, benang-benang berbentuk 100 judul puisi tersebut tidak mampu mengantar saya menyentuh kardus kenangan.

Dari awal, sebenarnya saya yang keliru. Membebani buku puisi hanya karena judul yang bagus. Seharusnya, untuk membuka laci ingatan, saya cukup membuka akun media sosial. Maafkan saya. Salam.