Oleh: Imam Rahmanto (@imam_rahmanto) | Ilustrasi: Aisyah Azalya (@syhzly)

Astaga, ini sudah penghujung tahun 2014. Menurut Goodreads, target bacaan saya baru mencapai 70 persen, atau 35  dari 50 buku yang hendak saya selesaikan. Masih ada sekitar 15 buku lagi. Lihat, betapa sulitnya saya sekadar meluangkan waktu untuk membaca buku.

Saya lebih senang membaca buku (cerita) ketimbang membaca diktat kuliah. Maaf, hal itu sudah berlangsung sejak lama. Namun baru mencapai puncaknya di tahun awal perkuliahan dulu. Apalagi dengan bergabungnya saya di lembaga jurnalistik kampus. Mau tidak mau, sebagaimana tanggung jawab yang diemban, saya harus lebih banyak belajar dari buku. Membaca. Membaca. Dan membaca.

Karena kegandrungan membaca itulah, dan kejemuan menyimak keluhan-keluhan, cacian, curhatan, perasaan-ingin-diperhatikan di ranah facebook hingga twitter, saya mencari tempat jalan-jalan lain. Tempat yang tidak hanya sekadar “sampah” di dunia maya.

Saya lupa sejak kapan bergabung dengan jejaring sosial Goodreads. Mungkin, setahun yang lalu. Bahkan beberapa hari lalu, saya melihat ada perhelatan akbar di Jakarta oleh Goodreads Indonesia, yakni Festival Pembaca Indonesia, Akh, betapa mupeng-nya saya ingin ikut hadir dalam kegiatan seru itu.

Berselancar di jejaring itu benar-benar membawa saya pada bayangan tumpukan buku yang berserakan dimana-mana. Rak-rak dengan jejeran buku dari penulis tanah air maupun penulis mancanegara. Orang-orang yang selonjoran membaca buku. Ada pula yang tidur-tiduran. Tulisan-tulisan pada buku banyak ditandai sebagai quote penting. Kotak-kotak trivia yang membahas buku tertentu. Para penulis yang berinteraksi dengan pembacanya. Diskusi-dikusi pembaca mengenai buku yang pantas direkomendasikan.

Semuanya, all about books, beserta ke-keren-an di dalamnya. Meskipun buku-buku di dalamnya tak bisa bebas dibaca, karena hanya sebatas resensi atau review. Namun, disinilah tempat para pembaca berdiskusi dan berbagi tentang buku-buku yang telah (dan akan) dibaca. Keren!

Lama-lama, saya jadi tersentil melihat orang-orang yang bergabung di jejaring “berbagi-bacaan” ini. Berbagai macam latar-belakang, tua-muda, nyatanya mampu menyelesaikan banyak bacaan. Koleksi bukunya juga banyak. Saya tersinggung. Sebagai generasi muda yang masih harus banyak belajar, saya begitu mudahnya membenarkan segala alasan untuk meninggalkan pekerjaan membaca buku.

Dari sanalah target membaca saya bermula. Saya nyinyir pada diri sendiri,

 Sudah berapa buku kah yang saya baca dalam sehari?”

Bukan. Seminggu? Oh, tidak. Sebulan? Hm…atau mungkin setahun? Sungguh memalukan ketika kita hidup dalam dunia akademik dan lingkungannya, sementara dalam setahun kita hanya menamatkan buku yang tidak mencapai jumlah belasan. Kita lebih senang terhipnotis tayangan-tayangan televisi yang cenderung merusak moral generasi muda. Mari berhitung sendiri, ketika kecil (hingga dewasa), ada berapa jam dalam sehari kita bisa menghabiskan waktu di depan tivi?

Saya mencoba menantang diri sendiri. Jejaring sosial yang keren itu menjadi tempat “belajar” bagi orang-orang yang senang membaca. Termasuk dengan menyediakan “program-tantangan” bagi para pemilik akunnya.

“2014 Reading Challenge. Imam has read 35 books toward his goal of 50 books.”

Saya dan siapa saja bisa mengatur total buku yang hendak dibaca dalam setahun. Terserah, buku apa saja. Setiap buku yang telah dibaca dalam keseharian, akan ditandai pada jejaring sosial tersebut. Serunya lagi, kita bisa menandai sudah sejauh mana halaman buku yang sementara dibaca.

Meskipun saya tak punya banyak koleksi buku, namun saya punya banyak “koleksi” teman. Biasanya, saya meminjam buku dari mereka. Pun kalau kehabisan stock, di kota Anging Mammiri ini masih punya banyak persediaan buku di beberapa perpustakaannya.

Di kota seribu daeng ini juga punya beberapa perpustakaan keren yang diprakarsai oleh orang-orang maupun komunitas kreatif di Makassar. Sebut saja katakerja, Kedai Buku Jenny, Kampung Buku, dan beberapa kafe yang menyediakan buku sebagai alternatif bacaan. I like it! Lapak-lapak baca semacam itulah yang semestinya diperbanyak di kota yang katanya sedang menggiatkan gerakan gemar membaca ini.

Apa kita pernah sadar bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang gemar membaca?

 “Anda tidak perlu harus membakar buku untuk memusnahkan budaya suatu bangsa. Hanya dengan membuat mereka berhenti membaca tentang sejarah bangsanya saja.” –Ray Bradbury

Mungkin 10 buku dalam setahun sudah menjadi rekor paling banyak bagi sebagian orang. Namun, sadarkah kita bahwa kebiasaan membaca di negara-negara maju jauh lebih tinggi?

Di Jepang, orang-orang membaca bahkan sambil berdiri. Menurut Yoshiko Shimbun, sebuah harian nasional Jepang terbitan Tokyo, kebiasaan membaca di Jepang diawali dari sekolah. Para guru mewajibkan siswanya untuk membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kebijakan ini telah berlangsung secara behaviouristik, membentuk perilaku kegemaran membaca pada masyarakat Jepang.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Semoga, pemerintah kota kita juga lebih paham dan tahu tentang betapa pentingnya membangun budaya baca. Tidak sekadar mengubah kota menjadi “tidak rantasa”, namun dengan merevolusi mental tiap orang melalui kebiasaaan membaca, khususnya generasi muda. Saya memimpikan kelak, Makassar menjadi kota dengan puluhan perpustakaan. Pun, ruang publik menyediakan space yang nyaman untuk membaca.

Nah, sekarang, berapa buku kah yang telah kamu baca tahun ini? []