Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Musim penghujan benar benar sedang anarkis. Tidak kenal pagi atau malam, hujan turun dengan congkaknya tak ingin berhenti. Bunyi hujan seperti dongeng yang tak habis mengantar tidur di saat bukan jam tidur. Basah juga tak henti menimbulkan gerutu, tapi berbeda dengan Amin.

Namanya Amin karena ibunya berharap Tuhan akan mengabulkan setiap doa anaknya dan menjadi besar seperti Pak Amin Rais. Pagi itu Amin kembali masuk sekolah setelah libur panjang usai semester genap, dan hujan turun. Amin sudah kelas empat sekolah dasar sekarang, ujar Amin senang dalam hati.

Amin mengenakan kemeja putih menguning dan celana merah kependekan yang sudah dikenakannya sejak memasuki kelas dua sekolah dasar. Amin memandang langit melalui jendela mencari cari tanda hujan akan berhenti, namun tidak menemukannya.

Waktu menunjukkan pukul enam, Amin menarik ransel hitam lusuh yang baru saja kering kemarin sore. Alas ranselnya sudah jebol ternyata. Amin lalu mencari lakban di kamar ibunya dan mulai menutupi robekan di alas ranselnya, setelah itu membungkus bagian dalam tasnya dengan kantongan bekas memastikannya anti air dan tidak jebol.

Amin lalu melangkah ke rak buku yang dibuatnya dengan kardus indomi, mencari cari buku tulis yang masih bersisa halaman kosong. Uangnya belum cukup untuk membeli buku tulis baru, dia akan melanjutkan catatannya di buku lama untuk sementara.

“Amin, ibu sudah mau berangkat. Mau ikut tidak?” teriak ibunya dari luar.

Amin berlari mengambil kaos kakinya yang sudah sobek, “Iya, bu. Tunggu, saya mau ikut di payung ibu”

Amin memakai sepatu dengan menginjaknya, sepatunya tidak lagi muat. Ibu berjanji akan membelikan sepasang sepatu baru bulan ini, namun sayangnya adik bungsunya terserang demam tinggi yang mengharuskan ibu melanggar janjinya bahkan sampai meminjam uang di majikannya.

Ibu Amin seorang tukang cuci, bukan tukang cuci yang bekerja di rumah batu yang bertingkat dengan mobi mobil baru yang terparkir di halamannya, melainkan sebuah rumah kosan yang ditempati keluaga sangat sederhana dengan anak dua yang iba dengan keluarganya.

“Hari ini ibu mau cari kerjaan lagi, Min. Doakan ibu ya, biar adik kamu bisa masuk TK tahun depan, bisa belikan kamu sepatu baru, dan payung sendiri buat sekolah.” Kata ibu Amin samar di tengah hujan yang menerpa payung kecil noraknya. Amin sepertinya mendengar, namun pura pura tidak mendengar.

Bertepatan dengan bunyi bel sekolah Amin tiba di kelas barunya, dipilihnya kursi paling sudut depan agar bisa menyembunyikan tas serta menyamarkan sepatunya yang kekecilan namun tetap dapat memperhatikan dengan baik. Kelas mulai penuh dengan siswa dengan seragam putih bersih dengan sepatu sepatu mengkilap yang baru saja keluar dari dus diikuti langkah kaki ibu guru yang khas dengan hak pantofelnya.

“Selamat pagi anak-anak !” seru ibu guru bersemangat sekali hari ini.

Seperti biasa di hari pertama awal semester baru, siswa belum mendapatkan pelajaran. Melainkan pembagian jadwal belajar, pembagian jadwal piket, cerita tentang kegiatan liburan, serta beberapa arahan menghadapi semester baru. Seperti biasa pula Amin menjadi volunteer tetap yang maju ke depan kelas menceritakan kegiatan liburannya.

Pelan pelan Amin melangkah agar sepatunya tidak menjadi perhatian, walaupun nihil hasilnya. Beberapa orang mulai saling menyikut dan saling tertawa dalam diam, namun tidak ada yang memperlihatkannya. Dikondisi serba kekurangannya si Amin kecil sudah mencuri simpati teman temannya dengan segudang prestasi yang diukirkannya. Amin memulai ceritanya dengan,

“Suatu hari dalam liburan saya, saya membuat rak buku baru dari kardus indomie,” yang dilanjutkan dengan beberapa ceritanya tentang pengalaman mengajar tetangganya membaca, menjaga adiknya yang sakit dan rutinitasnya menjual buku keliling usai ashar.

Tuhan sedang berbaik hati, usai sekolah hujan berhenti sehingga Amin bisa pulang ke rumah tanpa takut bukunya basah. Setibanya di rumah, Amin bergantian menjaga adiknya dengan kakak perempuannya yang akan pergi ke sekolah hingga ibunya pulang setelah ashar. Sambil menjaga adiknya yang berumur 3 tahun Amin mulai menata buku buku dagangan andalannya. Di usapnya buku buku itu sambil berdoa akan laku hari ini, dia ingin sekali membeli buku tulis baru

Amin duduk di tepi pintu memeluk lutut sambil menendang nendang kecil kardus berisi buku yang siap di jual hari ini. Buku itu Amin dapatkan dari toko buku depan sekolah, Pak Heri yang sudah percaya pada Amin bersedia membiarkan Amin mengambil beberapa buku untuk dijual dan dilunasi setelah laku.

Azan sudah berkumandang sejak 30 menit yang lalu, namun ibu Amin belum juga pualng. Amin mulai gelisah karena dia ingin berjualan lebih lama hari ini. Amin melirik ke dalam rumah dan melihat adik kecilnya yang tengah terlelap nyenyak di atas papan beralaskan karpet plastik. Amin takut adiknya terbangun saat ibunya belum pulang dan dia pergi terlebih dahulu.

Langit mulai merona jingga, Amin semakin gelisah karena kakaknya juga tidak kunjung pulang. Bertepatan dengan Azan magrib, Amin melihat kakaknya berlari di tengah hujan menghampirinya.

“Amin, ibu. Amin, ibu..” suara kakaknya begitu tertahan yang dilanjutkan dengan air mata di detik selanjutnya.

Kakakknya jatuh berlutut, masih di bawah hujan. Amin berlari mendekat.

‘Kenapa kak?” tanya Amin panik.

Kakak Amin menarik tangan Amin lalu berlari. Amin begitu terkejut sampai tidak sempat bertanya. Kakakknya terus berlari hingga tiba di perempatan jalan raya dekat rumahnya dan menyerobot masuk diantara kerumunan orang.

“Ada apa sih kak?” kata Amin.

Kakakknya tidak menjawab, Amin mengalihkan pandangan dari kakakknya ke depan. Sesosok tubuh tengah tergeletak tak berdaya dengan darah yang mengalir dari kepala. Amin mengenal baju yang dikenakan wanita itu. Sepasang kaus merah usang yang dikenakan ibunya pagi tadi.

Amin memegang sebuah payung baru yang di pegang ibunya saat kecelakaan naas itu terjadi. Payung itu adalah payung yang dicuri ibunya dari toko sebrang jalan. Saat mencoba kabur ibunya tertabrak sepeda motor yang sedang melaju kencang.  Diletakannya payung itu ke dalam rak kardusnya sambil menghela napas berat.

Amin mengambil sebuah kardus kosong dari warung sebelah lalu memasukkan buku buku sekolahnya ke dalamnya, beserta dengan seragam dan sepatu kekecilannya.

“Amin kamu sedang apa? Mienya sudah masak, ayo ke sini bawa Joko.” ujar kakaknya dari belakang rumah yang mereka jadikan sebagai dapur.

“Iya kak, tunggu. Sedang berberes sedikit.” Jawab Amin sambil menutupi kardus dengan sisa lakban terakhir yang dia punya.

Amin sedang berberes mimpi. Iya, berberes mimpi. Mimpi yang di masukkan dalam kardus dan menutupnya rapat. Bahkan tidak berani berharap mampu membukanya lagi suatu hari. Digendongnya adik kecilnya seraya berkata,

“Karena mimpimu tidak akan Kakak biarkan dalam kardus seperti Kakak.” []