Foto: Katakerja ( @katakerja65 )

“Hidup bergerak bukan dari waktu ke waktu, tetapi dari suasana ke suasana” – Zen RS

Ujung April yang bergerak ke pangkal Mei selalu spesial. Dimulai dari peringatan hari wafatnya sastrawan besar, Pramoedya Ananta Toer, berganti ke Hari Buruh, Hari Pendidikan Nasional, dan 3 Mei diperingati sebagai Hari Kebebasan Pers. Rangkaian waktu tersebut yang coba digaris benang merahnya oleh teman-teman dari Kedai Buku Jenny, Katakerja, dan BEM FISIP Universitas Hasanuddin.

Lalu pada Selasa 3 Mei 2016, kerja kolaboratif tersebut menghasilkan peringatan satu dekade wafatnya Pram. Bertempat di Pelataran Baruga Unhas, “Nyanyi Sunyi Pram” digelar. Pram menjadi simpul dari empat hari spesial tersebut. Buruh, pendidikan, dan kebebasan, menjadi bahasan utama dari banyak karya-karya Pram. Membincangkan sastrawan yang hampir selama hidupnya dikekang oleh penguasa berarti juga membincangkan ketiga hal tersebut.

Nyanyi Sunyi Pram_poster_Revius

Acara dimulai pukul 11.00 WITA dengan pembacaan potongan karya Pramoedya Ananta Toer oleh Ibe S Palogai dan Ana. Lalu dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Nur Afia dan Puput Annesa. Selepas pembacaan karya maupun puisi, musik menjadi jeda dalam acara yang akan masih berlangsung hingga hari ini. Jarvis, menjadi pengiring pertama dengan lagu-lagu yang mereka bawakan.

Di sesi selanjutnya, sebuah film dokumenter karya Rahung Nasution, Pulau Buru Tanah Air Beta ditayangkan di tengah-tengah acara. Film tersebut bercerita tentang mantan tahanan politik bernama Hesri Setiawan yang melakukan ziarah ke Pulau Buru. Hesri adalah sastrawan yang bergiat di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Di awal tahun 60-an, beliau termasuk sosok yang disegani di dunia sastra. Hal tersebut dibuktikan dengan terpilih sebagai Ketua Persatuan Pengarang Asia-Afrika. Peristiwa Gestok membawa nasib yang lain baginya. Tahun 1969 dia dikirim ke Buru sebagai tahanan. Di dalam film diceritakan tentang perjalanannya mengenang peristiwa dan tempat-tempat yang mempunyai kenangan yang, meminjam judul lagu /rif, Manis Getir. Itulah inti dari film dokumenter ini sekaligus mengungkap fakta-fakta menurut pengalaman seorang mantan tahanan politik yang dijebloskan tanpa proses peradilan.

Nyanyi Sunyi Pram_Revius1

Fakta menarik lainnya tentang film ini adalah statusnya yang dilarang oleh beberapa pihak. Terutama, bagi mereka yang mengidap phobia komunis. Pada bulan Maret lalu, film ini dilarang untuk ditayangkan di Goethe Institute. Dan, hampir di saat yang bersamaan dengan pemutaran di “Nyanyi Sunyi Pram”, terjadi pembubaran dalam pemutaran Pulau Buru Tanah Air Beta yang diadakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta. Jika boleh dikatakan, peserta yang hadir di Pelataran Baruga Unhas, cukup beruntung menyaksikan film tersebut.

Selepas pemutaran film, diadakan diskusi mengenai hal-hal yang mampu dikaitkan dengan tema film. Dari Lekra, Pram, hingga perkembangan politik kebudayaan ada. Film ini mencoba menggambarkan tentang masih terus berlangsungnya perebutan narasi sejarah dari berbagai versi. Khususnya, narasi tentang peristiwa 65. Selain itu, adanya upaya-upaya untuk memotong ingatan antar generasi mengenai sejarah yang terjadi selama ini. Kira-kira seperti itulah yang dijelaskan Nasrullah Mappatang, narasumber dalam diskusi tersebut (ulasan lebih lengkap mengenai film ini akan hadir di tulisan selanjutnya).

Waktu yang bergerak di Pelataran Baruga pelan-pelan mencapai sore. Suasana pun turut berganti. Kali ini, Ilham Jo, duo akustik yang hadir di atas panggung membawakan lagu milik mereka lalu dilanjutkan dengan Kapal Udara, band folk yang akan segera mengeluarkan mini album ini, membawa “Nyanyi Sunyi Pram” hari pertama ke dalam suasana yang sedikit bergairah. Para peserta antusias mengikuti irama dan disertai tepuk tangan.

Menjelang akhir dari “Nyanyi Sunyi Pram” hari pertama, Weny Mukaddas dan Aan Mansyur bergiliran membacakan potongan dari karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Sebelum ditutup oleh hiburan dari BTH. “Nyanyi Sunyi Pram” masih berlangsung hari ini di tempat yang sama, Pelataran Baruga Unhas dengan pembacaan potongan karya, puisi, musik, dan tentu saja  suasana-suasana yang mencoba memberi gerak kehidupan. []


Baca tulisan berikutnya

Telinga sang Sastrawan Besar

Mengenal Sepenggal Pram

Adillah Sejak dari Soundsystem!

Belajar Mencintai Sepi dari Tiga Sajak Latin Ini

Kekinian dan Enigma yang Berkelindan