Foto: Farid Wajdi (@aiwajdi)

“….Pelaksanaan ibadah haji dapat dikatakan sebagai suatu pertunjukan banyak hal secara serempak….” – Ali Syariati

Jikalau rukun islam kelima berbunyi “Naik haji bagi orang yang mampu”, Festival musik pun bisa berbunyi “Naik festival bagi yang mampu”. Festival Musik menjadi tujuan awal para musisi. Haji memiliki sebuah kebanggaan, sama halnya dengan bermusik. Festival musik menjadi ajang pertaruhan gengsi dan gagasan bermusik. Ketika haji merupakan sebuah bentuk ibadah, maka bermain di festival musik menjadi sebuah “ibadah” juga bagi para musisi yang memiliki misi utama menerapi penonton dengan energi positif.

Tawaf  yang merupakan proses mengelilingi Ka’bah dimaknai oleh seorang Ali Syariati sebagai proses gerak yang senantiasa menuju Tuhan. Sama halnya ketika seorang musisi, Festival dapat menjadi proses tawaf. Karena memang sejatinya bermusik adalah sebuah ekstase akan kehadiran Al Jamil (Maha Indah) di dalam lirik, dan di dalam dentungan-dentungan istrumen yang mengisi di atas panggung. Sedangkan Sa’i yaitu berlari kecil dari bukit Shafa dan Marwah. Sa’I bagi seorang musisi adalah mencari mata air bahagia bagi penonton yang “kehausan” seperti Siti Hajar yang mencari air bagi Ismail. Wukuf sebagai momen perenungan di padang Arafah, menjadi arti bagi musisi untuk senantiasa mengevaluasi setiap penampilannya di festival. Ihram adalah simbol kesamarataan, di dalam festival musik tidak ada yang namanya senior dan junior, jago dan tolol, semua bersatu di atas satu panggung persembahan untuk juri dan penonton.

Revolusi mental yang menjadi tujuan “Haji” para musisi di gelanggang. Tak ayal para musisi selalu ingin tampil sempurna di kegiatan tersebut. Dimulai dari sound hingga aksi panggung. Hal inilah yang kemudian membentuk karakter bermusik seorang musisi. Musisi yang lahir dan besar di Festival memiliki semangat kompetisi dan kecenderungan memberikan yang terbaik. Memberikan esensi seutuhnya dari bermusik yaitu membahagiakan orang lain dan diri sendiri yang disebut oleh Sahal Mahfudh sebagai fiqih sosial.

Anwar Jimpe Rachman di dalam Chambers Makassar Urban Culture Identity menjelaskan bahwa bangunan skena musik di Makassar terbangun dari pilar-pilar festival musik. Skena musik di Makassar hari ini entah dari poros “kiri” dan “kanan”(terminologi kiri untuk yang non-mainstream dan kanan untuk yang mainstream), berada di tangan para “haji – haji” yang telah merasakan asam garam berkompetisi baik secara lokal maupun nasional, sebut saja yang saya dapati yaitu: Festival Rock Indonesia, Wanted, Indiefest, Dreamband, Bintang Radio, bahkan pensi sekolah — sekolah.

Namun di satu sisi mentalitas kompetisi yang terasah di festival rasanya menjadi seperti pisau bermata dua bagi pelakunya. Mentalitas tersebut memang betul menghasilkan orang-orang yang berpikir holistik (menyeluruh) dalam bermusik dimulai dari sound, kostum, bahkan penampilan. Ironinya justru aroma kompetisi yang bersekat dan terkotak dialami di skena musik Makassar, budaya ngumpul dan diskusi menjadi kurang di antara para pelakunya.

Musisi “kiri” tetap berada di kiri, sama halnya dengan musisi “kanan” tetap berada di kanan. Interaksi terasa dingin dan penuh perbandingan. Padahal setiap gagasan-gagasan besar lahir dari kebiasaan berdiskusi baik yang masuk akal ataupun tidak masuk diakal dan budaya ngumpul. Sebenarnya para “haji – haji” inilah yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi skena musik lokal. Bahkan bisa jadi skena ini akan menjadi sebuah industri jikalau para pelakunya senantiasa melahirkan turunan dari nilai – nilai “haji” tersebut.

de-blues-fresh

Seorang juara bukanlah yang mengangkat piala, disebutkan namanya dengan lantang oleh dewan juri, ataupun yang pulang dengan hadiah. Yang benar-benar “mabrur” adalah yang mampu memberikan nilai-nilai tersebut kepada generasi-generasi di bawahnya. Lucu ketika hari ini saya mendapati beberapa teman-teman yang dengan cenderung anti pada model festival musik, padahal mereka juga lahir dari panggung tersebut. Para teman-teman yang berada di panggung festival dan masih ber”haji” hingga hari ini, semoga bisa memberi warna bagi generasi. Dengan menjadi inspirasi.

Terima Kasih untuk band – band lokal legenda yang menginspirasi, Bloody Mary, Harakiri, De Blues Fresh, B-Five, WR Supratman, Elicuse dan Fosil. [ ]