Ilustrasi: Herman Pawellangi (@chimankorus)

Kala itu saya mendapat tugas untuk melakukan odontektomi (operasi pengangkatan gigi tertidur di bagian belakang rahang) pada Bapak M, yang saat itu berusia 37  tahun. Sebelum memulai, dia  sempat meminta mendengar musik lewat headphone yang terhubung ke smartphone-nya supaya tidak cemas. Ditunjukkannya koleksi lagu – lagu John Lennon dan The Beatles di ponselnya dengan beberapa torehan kisah hidupnya.

Sedari dulu perjalanan beliau, dipenuhi dengan kisah tekanan hidup. Bahkan sempat dialaminya depresi berat akibat kerasnya perantauan tanpa pekerjaan tetap, kematian anak pertama, usahanya untuk berhenti dari ketergantungan alkohol dan narkotika. Ternyata lagu – lagu tersebutlah yang kemudian menjadi “obat”atas segelintir permasalahannya.

Sembari tertawa, ditunjukkannya juga bekas pencabutan gigi gerahamnya. Diterangkannya, bahwa pencabutan gigi tersebut diiringi lagu Stand By Me oleh John Lennon. Baginya, John merupakan sosok “dokter” untuk mental dan psikologisnya yang katanya lemah.

Give John a Chance

Sejarah menuliskan bahwa peran dokter adalah untuk melayani dengan penuh penghormatan dan kasih sayang manusia secara utuh psikis dan fisik. Imhotep, Ibnu Sina, Jivaka, Ja’far As-Sadiq, Sun Simiao, Hippokrates, dan lainnya adalah orang – orang yang menekankan aspek sosial dalam hadirnya sakit serta pada prinsip pengobatan mereka.

Kekuatan jiwa seseorang dapat memberi nyawa serta memperpanjang hidup. Fritjof Capra berujar dalam “Titik Balik Perdaban” bahwa imajilah yang kemudian mengokohkan kekuatan jiwa. Imaji untuk melihat hidup di masa depan penuh harapan. Imaji untuk melepaskan diri dari pelbagai asal muasal penyakit yaitu kondisi sosial ekonomi, kemiskinan, bahkan penindasan oleh penguasa.

Ketika stereotip dokter modern yang memaku pasien seputar fisik, lahirlah “dokter” dalam wujud lainnya memberi “obat” imaji, lewat keindahan kata, teduhnya nada, persamaan rasa, dan lain sebagainya. Dokter itu salah satunya seniman yang memberi “injeksi” kemanusiaan secara mental atau bahkan secara spiritual. Di sinilah John Winston Lennon memainkan perannya. Dia menyuntik rasa cinta & kasih, ibaratnya seorang dokter yang mengobati pasien yang batinnya menderita.

Hunter Davies menuliskan di dalam buku “Surat – surat John Lennon”, ketika tahun 60-an dipenuhi dengan pergolakan dan keresahan anak muda akan tekanan – tekanan serta pola pikir konservatif dari golongan tua. John dan The Beatles memberikan harapan dengan gaya klimis dan rapi diiringi dendangan I Wanna Hold Your Hand sebagai pelopor invasi budaya Inggris yang dikenal dengan British Invasion. Rasanya lagu tersebut menjadi “obat”  imaji kebebasan bagi kaum muda yang mengalami tekanan sosial di era itu.

Di tahun 1967, ketika rasisme merebak sebagai patologi sosial, John dan The Beatles muncul dengan album Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band. Album ini menjadi benang merah memotong garis apharteid lintas benua. Alunan sitar dan harmonium India, dapat memberikan efek sedasi (efek menenangkan) bagi masyarakat yang “stress” dengan sajian Perang Vietnam ataupun Perang Dingin.

Imaji kemanusiaan juga disuntikkan pada tahun 70-an oleh John dalam sikap hippies-nya. Protes Perang Vietnam “Bed-In”(berada di tempat tidur) bersama Yoko Ono. Selanjutnya utopia masyarakat “sehat” tercipta di lagu Give Peace a Chance, Power to The People, Instant Karma, Working Class Hero, Woman is the Nigger of the World, Happy X Mas, dan yang paling monumental adalah Imagine yang melegenda. Betapa di lagu tersebut John memberikan fantasi masa depan saya, anda, dan kita, akan dunia yang lebih baik. Tanpa kelas, tanpa diskiriminasi, tanpa dominasi, dan tanpa kemiskinan.

Dia mengerti betapa peran “dokter” baginya harus menyentuh sisi kemanusiaan. Bisa saja dirinyalah salah satu turunan Sumpah Hippokrates atau bahkan Deklarasi Hak Asasi Manusia tahun 1948. Dia menjelma sebagai orang yang mengerti akan manusia. Mengerti segala problematika keumatan disertai absurditas individu yang menyelimuti. Itulah yang mengisi karya dan gaya hidup yang terkadang penuh kontroversi.

Lupakan sejenak pemakaian LSD (obat terlarang yang menghasilkan efek halusinasi), pernyataannya “lebih terkenal dari Yesus”, ataupun kontroversi lain yang kerap dilakukannya. John tetap menjadi “dokter” di masa itu hingga kini, sekalipun peluru di 8 Desember 1980 yang menutup usianya. John tetap memberi imaji akan masa depan yang lebih baik. Karyanya mengisi ruang surealis di otak, memberi bayang yang masa depan akan menjawab.

Senandungnya berjalan dan memilin neuron (sel penyusun sistem saraf) sampai di otak hingga sekresi hormon endofrin (hormon yang memberikan rasa senang & rileks) mengisi di pembuluh darah. Imaji yang dapat membuat masyarakat tak kehilangan asa ataupun Bapak M agar bertahan di dental unit (kursi gigi). Entah bagi anda. Dia bisa diibaratkan seorang arsitek, diplomat, cendekiawan, sufi, seniman, atau bahkan sama sekali tidak ada karena anda belum mengenal atau mendengar karyanya.[]