Oleh: Accang Santiago / Ilustrasi: Aisyah Azalya

Tulisan ini bukan hanya perihal saya dan akun SupirPete2. Penting untuk saya tegaskan di awal tulisan ini. Meskipun dalam status Facebook saya hanya menyebut akun SupirPete2, persoalan ini menyangkut kepentingan publik yang lebih luas. Baiknya, saya ceritakan dulu kronologi yang saya alami.

Sekisar pukul setengah sembilan pagi (Kamis, 12 Januari 2017), saya menerima pesan, via Whatsapp, dari seorang teman. Ia menerima pesan siar (broadcast) berisi sejumlah titik demonstrasi yang akan berlangsung pada hari itu. Salah satu isinya menyebut nama ‘accank’, mahasiswa sospol angkatan 2010, sebagai pemimpin aksi di salah satu titik demonstrasi – silakan baca di sini untuk penjelasan lebih rinci. Teman saya menanyakan kebenaran informasi itu. Saya menyangkal.

Berikutnya, seorang teman lagi. Dan lagi, lagi, dan lagi. Dua orang di antara mereka mengirimkan gambar hasil tangkapan layar (screenshot), informasi yang disebarkan melalui salah satu akun platform media sosial, Line, Anak Unhas. Di bagian paling bawah tertulis “Repost: @SupirPete2”. Berikutnya datang lagi beberapa telepon dari keluarga saya. Dari gambar yang dikirimkan, saya menyimpulkan kalau informasi itu bersumber dari akun @SupirPete2. Saya pun membuat postingan di Facebook. Saya tujukan kepada SupirPete2. Lalu, menyebarnya melalui Twitter.

Keesokan hari, saya mendapat pesan dari seorang teman yang melampirkan jawaban dan klarifikasi SupirPete2. Saya membacanya. Saya menganggap bukan seperti itu maksud saya. Melalui Facebook dan Twitter, saya menanggapi jawaban SupirPete2. Ia membalas sekali. Dari balasan melalui Twitter, saya mendapat pengertian: SupirPete2 merasa kalau ia hanya perlu menjawab melalui Line; karena ia menyebarkan informasi tersebut lewat platform media sosial tersebut; sehingga tidak perlu melakukan hal serupa di platform media sosial lainnya.

Tentu, saya tidak bisa menerima jawaban SupirPete2. Karena tidak sama sekali menyentuh pokok persoalan.

Pertama, menyebarkan informasi yang tidak benar merupakan tindakan yang membodohi. Semua orang tahu itu. Apalagi jika dilakukan oleh pihak yang telah dipercaya banyak orang sebagai sumber informasi.

Berita palsu yang telah banyak berlalu lalang di berbagai media internet telah menjadi keresahan orang di seluruh dunia. Salah satu keresahan itu menyebutkan, berita palsu mencegah kemampuan orang menjadi cerdas untuk berpengetahuan luas (well-informed) dan mengambil kesimpulan sendiri terhadap satu peristiwa. Informasi yang ditawarkan oleh berita palsu, seringkali ditulis dengan sangat singkat, bisa menjadi tembok tebal yang menghalangi orang untuk menemukan realitas dari satu peristiwa. Sehingga, akan membentuk satu sikap anti-politik yang  justru memacetkan demokrasi.

Muncul pertanyaan, siapa yang akan diuntungkan oleh berita palsu? Industri periklanan. Berita yang mengandalkan sekali klik menjadi lahan subur bagi pengiklan untuk memajang iklannya di media yang menyediakan ‘berita sekali klik’. Berikutnya, tentu media, atau pihak lain – pribadi atau kelompok orang – yang menyebarkan. Pihak pengiklan pasti harus membayar kepada media, atau pihak, yang menayangkan iklannya. Prinsip dasar transaksi. Berikutnya, penguasa. Entah apa yang kita maksudkan dengan itu. Sikap tidak kritis berujung pada anti-politik yang terbentuk karena berita palsu, tentu merupakan satu kabar gembira bagi kepentingan kuasa yang ingin mempertahankan status quo.

Hal kedua, menyebarkan berita palsu merupakan panggung bagi penyebar informasi (media, atau pihak lain) untuk menampilkan sikap tidak kritisnya, tidak sensitif, tidak berpikir panjang, dan pragmatis setiap kejadian dan informasi.

Ketika membaca berkali-kali gambar tangkapan layar yang dikirimkan teman-teman, saya memperoleh pengetahuan mana yang bisa dan tidak bisa dipercaya – karena itu saya berterima kasih kepada mereka. Salah satu yang terpenting dalam bersikap terhadap segala informasi yang datang – entah melalui internet, surat kabar, telepon maupun layanan pesan singkat (sms dan platform media sosial yang ada).

Ketiga, mengabaikan persoalan berita palsu ini berarti membiarkannya terjadi di kemudian hari. Membiarkan berarti merawat dan menyuburkan akibat yang ditimbulkan seperti yang telah saya tuliskan di poin pertama. Apalagi jika dilakukan oleh pihak yang mempunyai ribuan, atau bahkan belasan ribu, puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan, milyaran pengikut. Bayangkan, alangkah luasnya dampak berita palsu!

Siapa yang akan memanen dan menikmati hasilnya? Saya juga telah menuliskannya. Barangkali ada yang berpendapat: “Tentu, yang merawatlah yang akan memperoleh dan menikmati hasilnya.” Ya, itu benar, sekecil apapun hasilnya. Tetapi, itu juga membuat banyak pihak yang lain menjadi ‘busung lapar’ akan informasi yang benar tanpa menyadarinya sama sekali. Sekali lagi, menghalangi manusia lain untuk berpengetahuan luas (well-informed).

Apa yang @SupirPete2 tuliskan di akun Line-nya pada Jum’at, 13 Januari 2017, sebagai jawaban atas permintaan saya, tidak menjawab sepenuhnya permintaan saya. Ia menuliskan, pada bagian akhir, “Untuk itu kami meminta maaf jika ada pihak yang merasa dirugikan dari informasi yg tersebar.”

Saya senang dan menerima permintaan maaf itu. Satu tindakan yang baik untuk mau meminta maaf atas satu tindakan. Tapi, permintaan maaf itu tidak menyentuh persoalan yang paling penting, yang telah saya tuliskan di atas. Ia tidak mengakui bahwa informasi yang dia sebar adalah palsu. Kedua, itu salah, dan dia tidak mengakui kesalahannya sebagai pihak yang telah banyak diikuti dan dipercaya orang sebagai saluran untuk memperoleh informasi. Padahal itulah intinya.

Warga harus memperoleh kebenaran dari setiap kejadian. Hal berikutnya, bukan hanya bagi mereka yang juga membaca informasi itu. Tapi, juga bagi mereka yang tidak. Bagaimanapun, mereka juga setiap saat butuh informasi baru. Dan mereka berhak untuk itu.

SupirPete2 juga menuliskan, berita yang dia peroleh dari salah satu media online, tentang BEM se-Unhas. SupirPete2 menafsirkan itu sebagai BEM Unhas. Redaksi “BEM se-Unhas” berbeda dengan “BEM Unhas”. Yang pertama berarti kumpulan semua, atau beberapa, lembaga mahasiswa tingkat fakultas, berbentuk BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) maupun Sema (Senat Mahasiswa), yang berkedudukan di Universitas Hasanuddin, dan menamai kumpulan mereka sebagai “BEM se-Unhas”. Sedangkan yang kedua merujuk lembaga mahasiswa otonom yang menaungi satu Universitas Hasanuddin. Kekeliruan ini juga penting untuk SupirPete2 akui, supaya tidak menimbulkan pengertian yang keliru terhadap lembaga dan manusia yang ada di dalam lembaga tersebut.

Saya tidak menuduh SupirPete2 sebagai satu-satunya pihak yang menyebarkan berita palsu soal rencana demonstrasi tersebut. Banyak media online menyebarkan berita palsu yang sama – bersama tulisan ini, saya lampirkan tautan, dan potongan gambarnya (ini perlu untuk mengantisipasi jika tautan itu dihapus oleh media bersangkutan).

Sehingga, tulisan ini, seperti yang saya tuliskan di bagian awal, bukanlah persoalan saya dengan SupirPete2 saja. Tapi, juga untuk seluruh warga dan media massa.

Berita palsu yang disebarkan SupirPete2, Anak Unhas, dan media lainnya, ditulis dengan menyusun dan menyingkat beberapa kata dengan cara yang hampir persis sama. Muncul satu kecurigaan bahwa berita palsu itu hasil salin-tempel (copy-paste) dari satu sumber.

SupirPete2 telah menyebutkan, sumber informasi itu adalah seorang seorang jurnalis, dan jurnalis itu memperolehnya dari pihak kepolisian. Kita tentu tidak akan pernah lupa, kepolisian merupakan salah satu perangkat dan institusi kekuasaan. Sehingga, persoalan berita palsu, seharusnya, merujuk pada hubungan kita dengan pihak yang memiliki kuasa. Bukankah memiliki banyak pengikut juga merupakan satu bentuk kuasa?

Maka, sudah menjadi kewajiban SupirPete2, Anak Unhas, dan semua media massa lainnya yang telah menyebarkan berita palsu soal rencana demonstrasi pada hari Kamis, 12 Januari 2017, untuk menjelaskan, meminta maaf, dan mengakui kesalahan mereka.

*

Lampiran tautan media yang menyebarkan berita rencana demonstrasi pada hari Kamis, 12 Januari 2017:

1. http://www.celebesonline.com/2017/01/12/aksi-121-di-makassar-berikut-8-titik-lokasinya/

2. https://www.sulawesita.com/blog/beberapa-rencana-lokasi-demo-pada-kamis-12-januari-2017-di-kota-makassar/

3. http://liputanutama.com/2017/01/12/berikut-titik-demo-mahasiswa-hari-makassar/