Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Mendengar kata ‘punk’, yang terbayang di benak awal saya adalah musik dengan tiga akord yang cepat, dipenuhi dengan teriakan amarah dan rambut mohawk yang tinggi menjulang. Tidak lupa pula jaket kulit dengan banyak emblem-emblem yang disematkan serta celana jeans dengan lutut yang dirobek dengan sengaja atau tidak serta sepatu boots atau sepatu sneakers.

Subkultur punk yang timbul tersebut dari rasa muak para pekerja pelabuhan di Inggris pada era 70-an terhadap budaya pop dan kapitalisme yang berkembang pada saat itu. Maka tak heran jika mereka menyuarakan tentang persamaan hak, antisosial, dan anti kemapanan karena para kaum punk menganut paham kebebasan dan anti politik. Band punk yang tercatat sebagai mewakili generasi pertama ialah Sex Pistols di Inggris dan Ramones di Amerika. Tak ayal, punk semakin mempertegas makna dari kepanjangannya, public united not kingdom. Anti kemapanan yang dimaksud adalah tidak merasa terikat dengan norma yang berlaku di masyarakat dan mereka merasa dapat hidup dengan cara mereka sendiri untuk mencapai tujuan asal tidak merugikan orang lain.

Seiring perkembangan jaman, musikalitas punk pun semakin berkembang.  Salah satunya ialah subgenre melodic punk. Subgenre ini memiliki ciri musik yang lebih dapat diterima karena gaya bermusik yang cenderung lebih “halus” dan bahkan tidak sedikit dari band-band yang memiliki jenis musik ini “tergoda” untuk keluar dari jargon anti kemapanan yang diusung karena memang musiknya bisa diterima oleh banyak kalangan.

Band-band seperti Blink-182, SUM 41, Simple Plan,dan Good Charlotte adalah contoh dari pengusung melodic punk yang berhasil masuk ke jalur major label. Walaupun begitu, masih banyak pula band  yang memiliki unsur melodic punk memegang teguh idealisme mereka seperti NOFX, Bad Religion, No Use For a Name dan lainnya.

Bahkan NOFX dan Bad Religion memiliki record label sendiri yaitu Fat Wreck (NOFX) dan Epitaph (Bad Religion) yang mewadahi band-band dengan jenis musik sejenis dan mereka masih terus dapat eksis dengan semangat do-it-yourself. Band- band melodic punk biasanya mengangkat tema-tema yang lebih beragam dalam musik mereka seperti protes sosial, kecaman kepada pemerintah, persahabatan dan bahkan banyak pula percintaan. Tercermin dalam judul-judul lagu seperti contohnya “Murder The Government”(NOFX), “Fighting Fist,Angry Soul” (Hi-Standard), “Not Your Saviour” (No Use For A Name). Beberapa band di Indonesia yang juga memilih jalur melodic punk seperti Nudist Island, Disconnected, Buckskin Bugle, Rosemary dan lainnya juga memiliki pengaruh yang kuat dari band-band yang saya sebutkan di atas.

Di kota Makassar sendiri, band melodic punk yang saya simak salah satunya adalah Dunce Dance. Saya pertama kali menyimak penampilan mereka pada gelaran Taman Indie bertajuk One Way, One Vision pada 17 Oktober 2010 di Marina Cafe. Saat itu saya menyimak mereka tampil membawakan lagunya yang mengingatkan saya pada Blink-182. Terlebih lagi penampilan yang juga meng-cover lagu Blink-182 serta gaya berpakaian yang begitu kental terpengaruh bahkan tidak jarang terasa mirip. Lagu-lagu karya mereka sendiri pun kemudian akrab di telinga, seperti “Insomnia” dan “Sinonim” yang sempat dirilis dalam bentuk EP dengan covernya unik, bergambar pembalut wanita pada tahun 2011 oleh Kelapa Tiga Records. Lambat laun, saya sering menyimak penampilan panggung mereka yang enerjik di beberapa panggung musik indie Makassar. Yang unik dari penampilan Dunce Dance, terkadang di jeda penampilan mereka, Ippi sering melontarkan guyonan khasnya ketika memperkenalkan lagu maupun personil lainnya.

Pertengahan tahun lalu yang bertepatan dengan Pemilihan Umum 2014, Dunce Dance merilis single “Pemberi Harapan Palsu” dengan lirik yang cukup lugas tentang fenomena calon pemimpin serta calon legislatif yang bertebaran dimana-mana.  Di awal tahun ini, saya mendapatkan kabar bahwa mereka bakal merilis album penuh pertamanya pada pertengahan tahun. Materinya pun telah rampung dan siap dirilis. Namun setelah mendengar kabar yang lebih pasti, mereka bakal ikut merilis albumnya bertajuk Halusinasi bertepatan dengan Record Store Day Makassar pada 26 April 2015 lalu dan pada hari itu juga saya membeli rilisan album pertama mereka karena penasaran dengan lagu-lagu baru mereka. Sehari sebelumnya pula, salah satu manajernya pun mengirimkan saya pers rilisnya terkait rilisan album Halusinasi.

Menurut rilis persnya, Dunce Dance adalah sebuah band yang bergenre melodic punk asal kota Makassar, terbentuk pada tanggal 23 September 2009. Beranggotakan 3 orang personil yaitu, Andi Rahmat (Drum), La Rispi (Gitar), dan Sumardin Saldi (Bass). Dunce Dance kini telah merampungkan Halusinasi yang berisikan 10 lagu yang telah dirilis perdana pada tanggal 26 April 2015.

Seluruh lagu di album ini direkam di Loe Joe Studio Recordings, dengan bantuan Andre sebagai sound engineer pada saat penggarapan album. Artwork sendiri dikerjakan oleh Reedho Al Diwani dari 120KM Lab Design. Untuk masalah rilisan dan distribusi diserahkan kepada Dunce Dance Record (DDR) yang merupakan divisi yang bertanggung jawab dalam proses penyebaran karya tersebut ke tangan para penikmat musik di berbagai kota yang akan disebarkan.

Dunce Dance3

Dunce Dance kini telah merampungkan Halusinasi yang berisikan 10 lagu yang telah dirilis perdana pada tanggal 26 April 2015. Di dalam album tersedia pula lembaran lirik untuk dibaca dan dipahami ketika mendengarkan lagu-lagu dalam album ini.

Pemilihan kata Halusinasi sebagai judul album perdana Dunce Dance sendiri, tidak terlepas dari 10 lagu yang diartikan oleh berbagai personil sebagai sebuah bentuk gumaman ataupun pengandaian yang dirasa agak absurd dan cenderung dalam alam halusinasi. Dalam segi aransemen, Album Halusinasi merupakan sebuah album yang dibungkus dengan ciri khas melodic punk yang mereka interpretasikan sendiri.

Setelah saya mendengar sepuluh lagu dalam album ini, asumsi awal saya tentang penampilan mereka yang mirip dengan Blink-182 di beberapa panggung, perlahan-lahan buyar. Dunce Dance bisa membuktikan bahwa mereka bisa berkarya lebih bagus dari tanggapan orang-orang yang menyimak mereka.

Dibuka dengan “1 Menit”, lagu yang bercerita tentang bagaimana jadinya jika umurmu hanya tinggal 1 menit lagi, yang menyiratkan makna rasa optimis di saat sedang dalam kondisi pesimis. Suara bibir yang mencium pun diimbuhkan pada akhir lagu.  Lalu pada track selanjutnya, “Mencari Akhir” seperti anthem untuk jangan berputus asa terhadap masalah yang dihadapi sehari-hari.

“Halusinasi, Mimpi dan Imajinasi” pantas menjadi single pertama dari album ini karena menggambarkan bagaimana perjuangan Dunce Dance untuk mewujudkan album ini. Simak saja liriknya Keluh kesah sudah tak ada/tulis catatan tentang hujan hijau/penuh tanda kutip.  Walaupun beberapa lagu pada umumnya hampir mirip satu sama lainnya seperti “Hari Kita Bersama”, “Harapan dalam Kebimbangan”, Dunce Dance masih bisa menyelipkan “Kembali Sendiri”, satu nomor akustik yang lumayan menyegarkan suasana setelah lima lagu sebelumnya disuguhkan ketukan drum punk yang cenderung monoton.

“Pemberi Harapan Palsu” yang saya bahas sekilas di atas sudah pasti dimasukkan di album ini pada track ke-tujuh dan menjadi track paling favorit saya. Lagu berikutnya,”Akankah” mengingatkan saya pada lagu “Everything’s Magic” milik Angels and Airwaves serta sedikit nuansa The Cure pada lagu “Close To Me”.

“Insomnia” dan “Sinonim”, dua lagu yang menjadi perkenalan saya dengan Dunce Dance pun dimasukkan dalam album ini. Liriknya yang cukup kuat seperti marjan melon dalam botol infus/meludah ke arah punggung/lutut dan kakimu atau pandangan kosong/melamun diam di jendela, cukup menarik perhatian saya karena liriknya cukup absurd. Sayangnya, kedua lagu ini sedikit membuat saya kecewa dari segi teknis sound karena mereka tidak merekam ulang kedua lagu tersebut. Menurut Budi, sang manajer, mereka memang tidak sempat merekam ulang kedua lagu tersebut karena keterbatasan biaya produksi untuk album ini. Sayang juga menurutnya jika album ini tidak digenapkan menjadi sepuluh track dengan kehadiran dua single awal mereka tersebut.

Dunce Dance2

Tidak berlebihan, nuansa hura-hura hingga konflik pribadi ala remaja sangat bisa kita rasakan di album ini. Secara lirikal, Dunce Dance langsung mengingatkan saya pada beberapa band punk rock asal Makassar yang lebih dulu hadir seperti The Hotdogs atau Pemuda Garis Depan. Memiliki semangat yang sama untuk menciptakan ruang-ruang alternatif yang semakin sempit untuk dihadirkan di kota ini.

Dari segi teknis, produksi sound yang lebih dewasa dibandingkan dua lagu mereka, Insomnia dan Sinonim–yang juga dimasukkan dalam album ini, yang sayang tidak direkam ulang lebih bagus lagi–membuat Halusinasi mampu menggambarkan secara lugas  perjuangan Dunce Dance untuk menghadirkan album ini. Sebuah harapan yang diperjuangkan dan dibangun dengan susah payah yang patut diapresiasi dengan membeli rilisan fisik mereka. Untuk Dunce Dance, tetaplah mewujudkan mimpi-mimpi selanjutnya menjadi nyata!  []


 Baca tulisan lainnya dari Achmad Nirwan

Momen Istimewa untuk Rilisan Musisi Makassar

Rilisan Album Musisi Makassar untuk Record Store Day 2015

Membuka Jejak Semesta dan Rupa Pesona

Bersiasat dengan Bisnis Musik di Era Digital

Pesta dan Ska Sehari Penuh Sukacita!

Mengarungi Semesta Musik Alif Naaba

Hanya Ada Satu Kata untuk Korupsi: Lawan!

Vakansi Akhir Pekan untuk Pelestarian Hutan

Menyatukan Musik Pop dengan Bebunyian Loop

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise