Foto: Herman Pawellangi

Perpisahan, walau sebuah keniscayaan, lebih sering tidak diinginkan. Rindu yang seringkali menjadi musuh utama menjadi alasan di balik hal tersebut. Betapa sulit, jika kebersamaan yang terjalin cukup lama harus menemui senja–terbenam dan mau tidak mau harus memulai sesuatu yang baru, namun tidak lagi seperti dulu.

Sayangnya, hal tersebut harus terjadi kepada Melismatis. Band yang terbentuk di tahun 2006 ini memutuskan untuk menikmati “senja” bersama. Saya lebih suka menggunakan kata “senja” daripada “perpisahan” agar tidak terlalu mellowmatis. Senja yang mereka ciptakan adalah Konser Usai Berlabuh, nama ini diambil dari judul lagu mereka, Berlabuh.

“Kami mengawali perjalanan (Melismatis) dengan baik-baik, ya berakhirnya juga harus dengan baik-baik” ucap Juang, salah satu personil dan pendiri Melismatis. Konser Usai Berlabuh ini mendapat respon dari banyak pihak. Bukan hanya penikmat musik pop atau pelaku seni teater. Tiket pre-sale pun habis terjual. Saya telah dua kali menyaksikan Melismatis. Pertama kali di Manado, dalam rangkaian tur Riuh Berderau tahun 2013. Kedua, pada satu event di pantai Akkarena dua tahun lalu. Melismatis, saat itu,  satu panggung dengan Deadsquad dan Burgerkill. Dan, ini adalah kesempatan ketiga dan terakhir saya menyaksikan band ini live di Gedung Kesenian Makassar. Tempat pertama mereka memulai dan tempat mengakhiri perjalanan bermusik mereka dalam Melismatis, kurang lebih satu dekade lebih setahun.

Pukul 20.30 WITA, saya memasuki ruang konser terakhir Melismatis dan, ini adalah ruang konser pertama saya dengan tempat duduk yang empuk. Pelan tapi pasti dan ditemani bebunyian atmosferik dari instrumen yang belum disentuh pemiliknya, ruangan amphiteater Gedung Kesenian Makassar seolah siap menyambut penampilan Melismatis.  Tak berapa lama setelah itu, masing-masing personel Melismatis hadir di panggung. lagu Berlabuh membuka konser mereka. Pada Konser ini, Melismatis dibantu oleh Imran Melulu yang mencuri perhatian dengan aksi permainan perkusinya dan Irwan Setiawan dari Clementine yang mengisi bass. Nada demi nada, dentuman demi dentuman yang dimainkan menurut saya berhasil mengumpulkan emosi pengunjung yang ikut larut dalam lagu, ditambah permainan tata cahaya panggung yang seolah menari mengikuti permainan drum.

Tanpa basa-basi, Seruak dan Hawa Biru menjadi lagu kedua dan ketiga yang dimainkan. Rehat sejenak, Dede, selaku vokalis menyapa pengunjung sembari mengucapkan terimakasih atas antusias para penonton konser Usai Berlabuh yang ternyata cukup tinggi. Selepas menyapa, Arah Tak Kentara dan Sepi Menari menyambut ditambah bebunyian dari berbagai instrumen yang membuat suasana konser semakin menarik. Membuat suasana semakin sejuk dari hangatnya bebunyian instrumen yang ramai. Satu per satu ke belakang panggung dan meninggalkan Juang sendiri. Tidak berlama-lama, Juang membawakan lagu Sedikit Ke Timur. Lagu yang dibuat ketika dia berdomisili di Bandung, yang sebagian besar terinspirasi karena kerinduan dengan kampung halamannya di Tonronge, Bone. Menjumpai penghujung lagu, semua personil Melismatis kembali k eatas panggung dan lagu Festival kemudian disajikan. Tepuk tangan riuh terdengar seusai Festival dibawakan. Belum selesai riuh tepuk tangan reda, Sempit dibawakan dengan begitu manisnya.

Saya kemudian dibuat terpaku. Mungkin pengunjung yang lain juga. Bagaimana tidak, Ukka, selaku gitaris membius dengan solo gitar bernuansa blues. saya lebih khidmat menyaksikan solo gitar yang satu ini dibanding khotbah kebaikan atau ocehan pejabat yang berbicara moral. Selepas solo yang syahdu, lagu Mata Tertutup yang dibawakan membuat mata saya terbuka lebar. Memainkan emosi yang dibantu ambience dan bebunyian-bebunyian aneh nan eksotis, lagu yang satu ini semakin membuat Melismatis terlihat gagah. Tampak ada sedikit trouble pada gitar Juang, entah dari stompbox atau amplifiernya, namun hal tersebut tidak berpengaruh sama sekali terhadap kenikmatan menyaksikan Melismatis. Semua personil di atas panggung terlihat larut membawakan lagu Mata Tertutup dan Semesta. Lagu yang diiringi oleh permainan perkusi dari Ime Percussion dengan memanfaatkan air dan cahaya.

Sampailah pada lagu terakhir yang diberi judul Gloria. Di sini, Melismatis berhasil menunjukkan kelasnya kepada pengunjung walau sebentar lagi akan menutup Usia. Ucapan terimakasih terlontar, standing ovation diberikan oleh hampir seluruh pengunjung. Bagai hidden track, lagu terakhir layaknya pengantar Melismatis ke tempat peristirahatan yang manis.

Meninggalkan ruang konser, saya seolah menjadi anak kecil yang tidak tahu apa-apa setelah menyaksikan konser ini. Namun, saya tidak sendiri. Danu, salah seorang pengunjung juga mengakui bahwa ia juga baru mengetahui Melismatis tahun 2016 yang lalu pada sebuah event musik. “Saya juga baru tahu Melismatis di 2016. Sepanjang konser saya cuma bisa senyum kecut dan berpikir. Anjing! Ternyata ada band beginian di Makassar. Tapi sayang sudah bubar,” ucapnya. Berbeda halnya dengan Awan dari SvmberxRedjeki, yang mengetahui band ini pertama kali dari Twitter, “Saya tahu ini band karena ada yang update status #NP Melismatis – Sedikit Ke Timur. Terus, saya cari dan saya dengar lagunya, ternyata keren!” Ungkapnya.

Konser Usai Berlabuh bagi saya bukan sekadar konser. Jua bukan sekedar senja. Konser kali ini pun terasa seperti menghadiri upacara pemakaman, tapi minim air mata. Tanggal 5 Maret 2017, sekelompok musisi jenius yang bernama Melismatis menyelesaikan perjalanan panjangnya. Berlabuhlah dengan tenang, Melismatis!