Ilustrasi: Ananda Al Givari M. ( @algiivar )

21 Mei 2016, jarum pendek menunjuk angka sepuluh. Kala itu Makassar sedang berada di 36o C ketika penyair yang akrab dengan kata celana dan sarung itu menikmati pagi di beranda hotel. Sebatang rokok setia terapit di jemari dan tangan kanannya bermalasan di lengan kursi. Hirup-hembus-hirup-hembus. Asyik sekali.

“Selamat pagi, Mas Jokpin.” Dia tersenyum. Ajakan berbincang yang disarankan Shinta Febriany disanggupi. Jadilah kami (Chalvin James Papilaya, Cicilia Oday, Irma Agryanti, Wahid Afandi, dan saya sendiri) menuju satu ruang di mana dunia ini terlihat sangat berbeda. Ruang merokok. Ditemani kurator cantik itu, Jokpin berjalan di depan sambil sesekali mengisap rokoknya.

Same Hotel meletakkan ruang merokok di lantai dua. Kami menaiki tangga sambil mengupas lelah. Dalam benak kami, percakapan ini adalah ruang belajar yang jarang dan penting. Apa yang akan dicakapkan?

Penyair kelahiran 1962 itu memilih duduk di pojok. Lima anak muda yang tahun ini terpilih sebagai Emerging Writers MIWF 2016 santun di depannya. Mirip ruang kuliah tapi dalam versi yang lebih santai dan terbuka.

“Sastra kita mulai bergeser ke timur. Kalau sebelumnya dikuasai Sumatra dan Jawa, kini orang-orang mulai tertarik membaca karya-karya dari sini.” Jokpin membuka perbincangan dan menjelaskan pandangannya terhadap keadaan geografis kesusastraan Indonesia saat ini.

“Coba kita perhatikan Mario (F Lawi), karya-karyanya memenuhi halaman sastra hari ini dan Aan (Mansyur) memecahkan rekor penjualan buku puisi.” Pembuka Jokpin mengajak kami untuk masuk ke dalam dunia yang lebih rumit. “Kalian harus menulis sebanyak mungkin dan memanfaatkan bergesernya pusat sastra agar gagasan kalian dapat dibaca banyak orang.” Sebenarnya, pesan ini berlaku bagi siapapun yang ingin menulis.

“Semalam, waktu kalian membaca karya, saya perhatikan kok.” Sambungnya dengan anggukan yang tidak saya pahami. Dia menyebut satu demi satu nama kami dan membahas karya yang didengarnya itu. Tatapan Chalvin dalam, Irma kokoh mendengarkan, Cicilia terlihat tidak ingin kehilangan satu kata pun, Wahid mencerna pesan-pesan untuknya, dan saya sendiri, memperhatikan ekspresi mereka dengan serius.

“Karya kalian, secara teknik, sudah bagus. Tinggal menemukan frame dalam karyamu. Semisal kalau saya baca kumpulan puisi orang lain, saya akan cari tahu frame-nya itu bicara tentang apa. Nah di karya kalian, hal itu belum terasa. Ada. Tapi belum kuat.”

Saya melirik asbak yang tergeletak di depan Jokpin. Sudah empat batang. Membandingkannya dengan asbak yang di depan saya, masih dua batang. “Pakaluru tattara.” Gumam saya dalam hati.

Tidak terasa setengah jam berlalu. Kini Jokpin berbicara soal proses kreatif. “Ibe, ingat waktu kita ngobrol di pojok itu?” Tanya Jokpin dan saya mengangguk sebagai jawaban iya. “Sadar tidak, rokok dan korek kamu ketinggalan.” Kami tertawa. “Nah, tertinggalnya rokokmu itu bisa jadi ide tulisan. Apa lagi pas saya buka, isinya sudah kosong.”

Jokpin membakar rokoknya yang ke lima dan lanjut menjelaskan. “Kamu tinggal ganti pembungkus rokok dengan apa. Kembangkan ceritanya, buat pembaca penasaran dan tertarik untuk tahu apa isinya. Tapi kalau ternyata kosong, mereka mungkin akan ketawa, kecewa, atau malah, tersinggung. Itu bergantung cerita apa yang kamu kembangkan.”

Penyair yang juga senang membaca puisi Remy Silado itu memberikan kami contoh bagaimana, di sekitar kita, ada banyak ide, peristiwa, dan gagasan yang dapat dikembangkan ke dalam puisi. “Tugas seorang penulis adalah memperhatikan sekitarnya.” Sambungnya dengan tekanan nada yang meminta diingat.

Saya sebenarnya mendapat tugas untuk mewawancarai Jokpin. Wawancara? Yang muncul dalam benak saya adalah, menyiapkan draft pertanyaan, kertas, dan pulpen. Tapi melihat Jokpin yang asyik diajak berbicara panjang lebar, muncul pertanyaan lain. Apa ia perbincangan kami yang asyik ini kemudian dibatasi oleh draft pertanyaan?

Jadilah selama kurang lebih dua jam, kami menikmati lintasan pikiran – bertukarnya gagasan, ide, dan semangat untuk terus menulis. “Saya tunggu karya-karya kalian.” Tutup Jokpin yang disambung senyum simpul Shinta Febriany.

Joko Pinurbo di MIWF 2016. ( Foto: @makassarwriters )

Joko Pinurbo di MIWF 2016. ( Foto: @makassarwriters )


Baca tulisan lainnya

MIWF 2016 Day 1: Seruan Untuk Menghentikan Pemberangusan Pengetahuan

MIWF 2016 Day 2: Tentang Perempuan hingga Musikalisasi Puisi Sapardi

MIWF 2016 Day 3: Satu Kata: Padat!

MIWF 2016 Day 4: Melampaui Dirinya Sendiri

Menolak Pemberangusan Buku

Bertanya Sebelum Kita Tenggelam

Penerjemahan adalah Kunci Menuju Literasi yang Lebih Baik

Pengalaman Maman dan Media Hari Ini

Tiga Penyair dari Tiga Negara yang Berbeda

Masyarakat Kita Ingin Membaca Diri Mereka Sendiri